
Arrahma langsung masuk kedalam kamar. Gadis ini ingin menjelaskan semuanya. Semua ini pasti ada alasannya. Arrahma mengelap matanya, sekarang dia melihat suaminya sedang duduk di tepi ranjang. Namun saat melihat dirinya, lelaki itu segera memposisikan untuk tidur. Bukan hanya itu, lelaki itu juga memasang headset. Jelas! Dia tidak ingin diganggu. Lampu padam sebelum Arrahma melangkah menuju ranjang.
Arrahma menghela nafas panjang, suaminya terlihat begitu egois. Kenapa tidak memberikan kesempatan untuknya menjelaskan. Berbeda dengannya yang tanpa diminta, mau memberikan kesempatan kedua.
Arrahma naik keatas ranjang, diliriknya sang suami yang menutupi sekujur tubuhnya. Arrahma merebahkan tubuhnya pelan, menatap suaminya yang membelakanginya. Gadis ini memberanikan diri, untuk melepaskan headset yang meyumpal telinga suaminya. Namun sebelum itu terjadi, tangan kekar itu mencekal. Dan menurunkan tangannya.
Seketika tangisnya pecah, gadis ini memeluk tubuh suaminya dari belakang. Sedangkan wajahnya ia benamkan di punggung suaminya.
“Aa, dengerin aku untuk menjelaskan semuanya hiks!”
“Aku minta maaf Aa, hiks!” Arrahma tahu suaminya tidak mendengar. Mungkin saja pilihan menangis adalah yang paling tepat. Untuk menjadikan dirinya lebih baik. Semakin erat pelukan dari pinggang, tak membuat Zola membuka mulutnya. Lelaki ini memilih untuk diam. Tidak mau bertengkar apalagi adu mulut yang justru membuat semakin runyam nantinya.
Diamnya Zola bukan tanpa alasan, dia perlu menenangkan dirinya, untuk menerima keputusan istrinya. Yang sejujurnya tidak bisa ia toleransi. Pikirannya berkecamuk, mencoba bertanya. Apa alasan istrinya memilih minum pil kontrasepsi.
Dia berusaha menerima, pendapat dari otaknya. Jika istrinya melakukan ini pasti karena ada alasannya. Dan alasannya tidak egois.
Sedangkan hatinya, menentang pikiran positif yang direspon oleh saraf otaknya. Pasalnya terkadang pikiran dan hati tak sejalan. Ini mengapa keduanya tidak bisa diandalkan. Jika menurut hati, yang konon katanya itu selalu benar (ikuti kata hati). Dari pada pikiran, nyatanya tidak! Bagi Zola, ini mengapa kita diharuskan untuk menimbang-nimbang nya dahulu. Sebagai contoh, pikiran berkata jika kita sudah mengunci pintu utama sebelum tidur. Namun hati resah seolah, belum menguncinya. Padahal jelas kita yakin, jika kita menguncinya. Akhirnya kita memutuskan untuk mengeceknya kembali dan ternyata. Sudah terkunci. Lantas manakah yang harus dipercayai. Begitupun dengan Zola untuk malam ini, dia sedang berperang dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
“Aa!” Panggilnya seraya mengangkat kepalanya, gadis ini mencondongkan wajahnya, guna melihat wajah suaminya.
Terpejam.
Satu kecupan manis dipipi. Membuat Zola ketar-ketir, padahal malam ini. Adalah jadwal mereka berkencan di ranjang. Tapi apa boleh buat, semua gagal total karena permasalahan yang biasa terjadi di rumah tangga.
“Aa, hiks!” Gadis ini meletakkan kepalanya di atas kepala suaminya.
“Aku minta maaf! Aku minta maaf!” Hanya kalimat itu yang dia ucapkan. Air matanya tak lagi membasahi pipinya, namun air mata itu juga membasahi wajah Zola.
Keesokan harinya, Zola masih tetap diam mengingat hal ini. Membuat Arrahma yang sedang memasak makanan tak sadar jika ikan yang ia goreng gosong.
Sedihnya kian bertumpuk, saat melihat ikan menghitam. Dia tidak mungkin memberikan makanan gosong untuk suaminya. Dia berpikir, untuk mengganti menu. Nasi goreng dan omlet! Ya kini makanan itu sudah terhidang di meja makan. Diwaktu yang sama suaminya juga datang.
“Pagi Sayang!” sapa Arrahma tersenyum tipis.
Namun naas, mantan Predator tidak bermoral ini. Terlihat acuh nan datar, Zola menuangkan air kedalam gelas dengan posisi berdiri. Kemudian menenggaknya hingga tandas. Mengambil roti kemudian mengoleskan selai diatasnya. Dan melenggang pergi, seraya mengenakan tas kerjanya. Tanpa menyentuh makanan yang istrinya buat untuknya. Arrahma yang melihat hal itu kembali tersedu-sedu. Ternyata kekerasan yang Zola dulu berikan karena ia melakukan kesalahan. Lebih menyiksanya, saat Zola mendiamkan dirinya saat ini.
__ADS_1
Arrahma mengejar suaminya, keluar rumah. Bahkan sangking ingin berbaikan dengan suaminya, ia tidak sadar jika tidak mengenakan cadarnya.
Zola yang tadi sedang mengunyah roti, tersedak saat seseorang memeluknya dari belakang. Menyembunyikan wajah di punggungnya.
“Aa, tolong maafkan aku! Rahma janji tidak akan mengonsumsi pil kontrasepsi lagi! Tapi maafin aku! Rahma juga tidak akan, jadi istri pemaksa lagi! Yang memaksa Aa, untuk mencarikan nama kesayangan untuk Rahma. Aku ikhlas Aa, panggil aku Terong!” Ya pasalnya beberapa Minggu terakhir Arrahma lah yang meminta suaminya untuk mengganti nama kesayangan. Dia berpikir nama Terong adalah nama yang buruk. Sangat-sangat buruk...
Jika tidak mana mungkin Zola mau, dia bukan tipe yang mudah merubah sesuatu.
“Aa, hiks! Biar aku jelaskan alasannya!” Namun sebelum dia melanjutkan ucapannya. Zola mengeluarkan suara.
“Asrhaf sudah datang! Kau tidak memakai cadar!” suaranya terdengar ketus.
Spontan yang membuat Arrahma mencari perlindungan, dengan cara menjadikan punggung suaminya sebagai benteng.
Asrhaf yang berdiri tak jauh dari mereka. Menatap pasangan itu dengan kerutan dahi Yang ia lihat hanya tangan Arrahma yang memeluk pinggang Zola. Sedangkan tubuh kecilnya, tidak terlihat karena tertutup tubuh tegap Zola.
“Ck! Pagi-pagi sudah memperburuk pandangan saja!” gumamnya melengos, tak sudi menatap keromantisan yang dipertontonkan.
__ADS_1
TBC...