
“Hemm!” Gumamnya, saat merasa ada sesuatu yang menempel keningnya. Gadis ini merasa tidak nyaman.
“Ibu-ibu Ayah!” Arrahma menangis dalam tidurnya. Sedangkan Zola yang sedang mengompresnya. Bisa mendengar suaranya yang tak jelas.
Lelaki itu membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam untuk sampai ke rumah. Pure perjalanan udara hanya membutuhkan waktu 1 jam 40 menit.
“Hiks ...hiks!” Ishakan kali ini membuat Zola merasa cemas.
Di dalam mimpinya gadis itu bertemu dengan orang tuanya. Tak heran, karena saat Abah menemukannya. Arrahma kecil sudah memakai kalung liontin yang didalamnya berisi foto kedua orang tuanya.
“Rahma, heh!” Zola menepuk pipi istrinya lembut. Lelaki ini beranggapan lebih baik dibangunkan dari pada mengigau yang tidak-tidak.
Tepukan lembut itu, mampu membuat Arrahma mengerjap-ngjapkan matanya. Dengan pandangan yang masih buram, Arrahma berpikir jika penglihatannya salah mengenai keberadaan suaminya.
'Aa, tidak mungkin! Dia sedang ada diluar kota!' batinya.
Akan tetapi yang ia pikir itu, hanya bayangan. Nyatanya mampu membuatnya menahan nafas, saat wajah Zola semakin mendekat.
“Aa?” panggilnya sambil menahan nafas.
“Huft! Untung kamu sadar!” ujar Zola menegakkan badannya agar lebih rileks.
“Aa, ini benar Aa? Bukannya sedang ada kerjaan diluar kota?” Arrahma mencoba untuk bangun dari tidurnya.
“Kerjaannya sudah selesai?” Meskipun sakit mulut Arrahma tidak pernah malas untuk bertanya kepada suaminya.
“Belum! Melihatmu sakit dan mengakhiri panggilan sepihak membuatku merasa khawatir! Kamu marah karena aku tadi bertanya dengan nada yang kasar?” tanya Zola menatap istrinya.
Arrahma nampak bingung, ada apa dengan suaminya itu. Tiba-tiba begitu perhatian, ingin tahu apa yang dia rasakan. Mungkinkah Hagrid sudah memukulkan ujung payungnya tiga kali dikepala suaminya. Yang menjadikan suaminya berubah. Arrahma terkekeh geli memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi.
__ADS_1
“Rahma,” panggilnya.
“Em, lupakan! Aku tidak ingin membahasnya lebih lanjut!” ujarnya dia masih kesal dengan suaminya yang terlalu berlebihan karena hal sepele.
Huft Zola menghela nafas panjang, dia tahu istrinya masih kesal padanya. Tapi jika dia meminta maaf. Bukankah itu akan menurunkan derajatnya.
Nampak sekali jika Zola masih gengsi untuk menyatakan maaf atau melakukan hal romantis terlebih dahulu. Ya wajar semua itu ada prosesnya.
“Sudah makan?” Lebih baik mengalihkan pembicaraan.
Arrahma diam.
“Kenapa tidak makan? Kamu bisa kan minta bantuan orang rumah!” ujarnya berusaha lembut, yang meskipun susah dan butuh tenaga. Karena sistem kehalusan tidak ada dalam dirinya.
“Males aku, ini tengah malam! Makan roti saja! Yang penting terisi perutnya!” ujarnya dengan wajah lesunya.
“Setelah ini minum obatnya, sudah dihaluskan!” ujarnya kembali duduk disamping istrinya. Ingin menyuapkan roti yang sudah dikasih selai ke mulut istrinya.
“Udah, tidak usah repot-repot, aku bisa makan sendiri!” ujar Arrahma langsung menarik roti yang ada ditangan suaminya. Zola menggaruk tengkuknya karena salah tingkah. Apa yang baru dia lakukan membuatnya sadar. Jika dia terlalu mencemaskan keadaan istrinya. Apa iya hatinya memilih landing dihati. Gadis yang selalu ia panggil dengan panggilan Terong.
“Aa, sudah makan belum?” tanya Arrahma sambil mengigit roti. Gadis ini berbeda dari yang lain, jika kebanyakan orang memilih mogok makan saat sakit. Karena alasan yang hambar atau bla-bla. Arrahma tidak! Dia tidak seperti itu. Dia lebih memilih untuk makan agar cepat sehat. Karena dia tidak bisa bergantung dengan orang lain. Dan tidak mau merepotkan orang lain.
Zola tak bergeming.
“Ayo aaaa!” Arrahma memutarkan bagian roti yang masih utuh.
Sedangkan Zola mengumpat dirinya sendiri, terkesan mirip anak muda yang baru merasakan jatuh cinta. Sungguh ini membuat dia mati kutu. Karena sikapnya sendiri.
Lelaki itu mendekatkan mulutnya dengan roti yang ada ditangan istrinya. Zola justru memilih bagian yang sudah Arrahma makan. Yang membuat Arrahma mencuit. “Kenapa yang sisa gigitanku? Ini aku sudah memilihkan yang masih utuh!”
__ADS_1
“Kenapa?” tanyanya.
“Kamu tidak jijik?” tanyanya pelan.
Zola terkekeh geli, lelaki ini hanya mampu geleng-geleng kepala. “Kamu lucu, kenapa harus jijik? Bukannya kita selalu kissing di bibir?”
Arrahma menunduk malu, entahlah tatapan mata suaminya benar-benar berbeda dari hari biasanya. Kali ini membuatnya salah tingkah.
“Ehem kamu tidur gih! Biar cepat sembuh, besok aku masakin! Soto daging kribo!” ujar Zola melengos, lelaki itu memejamkan matanya. Seraya mengepalkan tangannya. Karena menahan kebahagiaan yang timbul begitu saja. Dia berpikir, malam ini dia seolah sedang PDKT dengan primadona kelas. Agar lusa bisa jadian.
“Terus kamu?” tanya Arrahma canggung.
Sepertinya keduanya terjebak kecanggungan. Yang dulu hampir tidak ada. Karena yang ada hanya keegoisan dari si predator. Dan rasa tertekan yang dirasakan si Terong.
“Nanti!” ujarnya menggaruk tengkuknya.
“Ya sudah, aku tidur dulu!” ujarnya terdengar malu-malu, sambil memosisikan untuk tidur. Namun yang terjadi malah hal yang tidak terduga. Arrahma justru tidur dipangkuan suaminya.
Sesaat ruangan sunyi, meraka sadar tapi koneksi otaknya tidak stabil. Yang membuat otak keduanya loading.
“Ma-maaf!” ujarnya menahan malu, seraya mengangkat kepalanya dari pangkuan suaminya. Ternyata cinta bukan tentang buta tuli lagi. Tapi cinta juga membuat seseorang kehilangan kesadaran. Seperti Arrahma, harusnya tidur dengan posisi vertikal justru membuat dia merebahkan tubuhnya dengan posisi horizontal.
Zola menahan senyumnya, lucu. Tapi kayak ada bodoh-bodohnya gimana gitu. Cih..
narasi sudah seperti iklan air dari pegunungan saja.
TBC...
__ADS_1