
“Rahma kembali!” teriak Zola tidak terima. Saat Arrahma meninggalkannya. Namun saat ingin mengejar istrinya, Hanza menghalanginya.
“Biarin aja! Aku kan ada disini untukmu!” ujarnya sambil bersandar di tangan Zola.
Kemarahan Zola justru menambah. Lelaki itu langsung melepaskan tangan Hanza yang bergelayut manja. “Lepas!” Lelaki itu langsung berlari mengejar istrinya. Namun dia harus menunggu lift terbuka.
“Agrhhh!” teriaknya jenuh menunggu lift bisa terbuka kembali. Lelaki itu memutuskan menggunakan tangga darurat.
“Jangan sampai Rahma pergi!” ujarnya seraya mengelap keringat yang membasahi wajahnya.
Zola bingung mencari keberadaan istrinya. Karena rumah sakit cukup besar dan luas.
Payah! Dia lupa jika di ponselnya ada aplikasi pelacak. Yang terhubung dengan milik Arrahma.
“Kemana dia? Dan aku harus mencarinya dimana?” Zola menjambak rambutnya kasar. Meskipun demikian dia tetap berusaha mencari istrinya, dari kantin rumah sakit. Hingga yang terakhir di taman.
Taman yang luas begitu sepi, saat malam. Lelaki itu mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya. Nihil tidak ada, Zola menatap jam yang melingkar ditangannya.
__ADS_1
“Jam sepuluh,” ujarnya sambil menghela nafas berat. Lelaki ini tidak menyadari bahwa— sedikit jauh di belakangnya. Ada sosok gadis sedang duduk di kursi taman sendirian.
Samar-samar telinganya mendengar suara isakan. Membuat Zola membalikkan badannya, bersamaan dengan itu, gadis yang tak lain adalah Arrahma. Bangkit dari duduknya dan meninggalkan taman itu.
Zola tidak menemukan siapa pun, entah mengapa dia merasa jika isakan tadi milik istrinya.
“Rahma!” panggilnya sambil melangkahkan kakinya ke kursi yang tadi dibuat duduk Arrahma.
“Terong apa itu kau?” tanyanya lagi dengan suara lebih keras.
Zola merasa teriakannya tidak ada yang mendengar. Membuat dia memutuskan kembali ke ruangan Ayahnya. Lelaki itu masuk kedalam lift. “Mungkin dia sudah kembali ke ruangan mertuanya,” ujarnya pelan.
Zola memasukkan kepalanya, dia tidak menemukan istrinya. Lelaki itu melirik ayahnya yang tertidur efek obat. Kakinya melangkah menuju kamar mandi rumah sakit, ternyata tidak ada. Ada rasa khawatir untuk istrinya.
Matanya menatap kotak kado yang diikat tali pita. Itu adalah miliknya, yang ia dapatkan dari istrinya.
“Jangan marah dan jangan hukum aku! Untuk beberapa hari ini, jika aku melakukan kesalahan. Badan rasanya remuk karena tidur di sofa terus.”
__ADS_1
“Dan ini kado untukmu, karena tadi pagi. Sholat subuhnya tanpa membuatku mengomel,” ujar Arrahma sambil meletakkan kado itu diatas pangkuannya. Dengan senyuman lebar yang membuat jantung Zola berdebar.
“Aku bukan anak kecil,” ujar Zola meletakkan kotak itu diatas meja.
Zola teringat percakapan dengan istrinya. Sebelum Hanza datang. Tangan kekar itu mengambil kotak kado yang belum ia buka. Satu tarikan, tali pita itu langsung terjatuh mengenai sneakersnya. Zola membuka perlahan, penutup kotak itu. Satu set alat sholat, sajadah, sarung, baju koko serta peci. Dan satu buku yang berjudul Blink.
Zola terdiam, saat tahu apa yang ia rasakan saat ini. “Kamu dimana, Arrahma?” Zola menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Disebuah ruangan gelap, gadis ini menangis ketakutan. Bagaimana tidak! Jika dia, terjebak di dalam kamar jenazah. Seseorang telah merencanakan hal jahat padanya.
“Tolongggg! Tolong aku hiks,” teriaknya sambil menggedor pintu.
“Siapa pun yang ada di sana, tolong aku! Keluarkan aku!” teriaknya kembali, seraya melirik ke sekitar. Dengan perasaan takut, gadis itu menangis.
“Aa, apa ini perbuatannya?” ujarnya teringat ancaman yang Zola berikan tadi sebelum dia memutuskan untuk pergi meninggalkan suaminya.
“Aku kecewa denganmu hiks ...hiks ... hiks!”
__ADS_1
Inilah kali pertama Arrahma berprasangka buruk terhadap suaminya.
TBC...