Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Sebuah Tujuan


__ADS_3

Cahaya rembulan menembus celah-celah jendela kamar. Angin berhembus menerpa tubuh Arrahma. Sudah dua hari ini, dia tidur sendiri. Karena suaminya pergi keluar kota untuk meresmikan pabrik baru.


“Rahma, tetap dikamar! Jangan keluar, nanti akan ada pelayan yang mengirimkan makanan untukmu!” Arrahma mengingat pesan yang suaminya sampaikan. Sebelum pergi.


“Sebelum aku pulang, kau tidak boleh keluar dari kamar! Aku tidak mau kau bicara dengan para penghianat! Takutnya kamu juga ikut-ikutan!” ujarnya.


Arrahma menghembuskan nafas berat. Saat mengingat ucapan Zola.


“Sebenarnya, apa yang membuat Aa seperti ini! Dia terlalu memaksakan kehendaknya!”


“Seolah ingin membuat semua orang tunduk padanya.” Arrahma mondar-mandir sambil mengigit bibir bawahnya.


“Sepeti ingin mendapat pengakuan dari orang lain. Jika dirinya berkuasa!” Arrahma mengetuk pelipisnya dengan telunjuk.


“Mungkinkah ini effect dari parenting yang salah?” Arrahma menjadi menerka-nerka, mencoba memahami apa yang terjadi sebenarnya.


“Aa, bilang jika Ayah mertua, selalu memberikan aturan tinggi tapi Ayah! Dia tidak pernah memberikan apresiasi atau reward saat Aa, berhasil melakukan apa yang Ayah mertua mau!” Arrahma duduk dikursi sambil mencoret kertas HVS.


“Ini berarti masuk katagori parenting style. Authoritative parenting Damanding X Unresponsive!” Gadis itu melingkari tulisannya.


“Parenting style seperti ini akan memunculkan respons yang beragam.”


“Anak akan terus-menerus merasa harus meraih kesempurnaan. Tapi merasa dirinya nggak pernah mampu dan merasa tidak berharga ketika tidak bisa memenuhi ekspektasi orang tua. Jatuhnya terlalu membebani anak!” Arrahma mengetuk bolpoin dimejanya.

__ADS_1


“Bisa juga membentuk anak menjadi pasif. Dan tidak berani stand up for himself.” Gadis itu menggeleng karena effect ini tidak terjadi pada suaminya.


“Yang lebih parah anak bisa menjadi pembangkang, misalnya!” Arrahma mendesis pelan karena hal ini terjadi dengan suaminya.


“Astagfiruah, karena parenting yang salah bisa berpengaruh terhadap masa depan anak. Bahkan bisa mempengaruhi relationship anak saat dewasa! Dengan orang lain.”


“Ya Allah! Andai saja Aa, tubuh menjadi pribadi yang bisa diandalkan, eksploitatif dan pandai mengontrol diri atau bisa dikatakan good side effect!” Aarahma menghembuskan nafas pelan.


“Aku bisa katakan Ayah mertua berhasil mendidik anaknya. Tapi ini kenapa Aa, malah jadi pembangkang tidak punya sopan santun!”


“Apa alasan ini, berkaitan dengan meninggalnya almarhumah ibu mertua?” Arrahma semakin bingung dengan cerita kehidupan suaminya.


“Aku harus mencari tahu! Tapi sebelum itu, aku harus memikirkan bagaimana aku harus merubah sikap Aa!”


“Tapi, sikap apa yang harus aku rubah?” Arrahma tampak berfikir keras.


“Ah ... aku tahu, Aa itu orangnya ingin dianggap jika dia itu berguna bagi orang lain. Dia juga suka jika orang itu bergantung padanya! Berarti aku harus, merasa membutuhkan dirinya. Merasa jika dirinya itu penting bagiku!”


“Okey kita lakukan!”


“Meskipun aku harus terlihat rendah, tapi tidak masalah asalkan Aa, bisa menjadi pribadi yang baik!”


“Kasih perhatian dan membutuhkan perhatian darinya adalah sebuah jawaban!”

__ADS_1


“Tujuan selanjutnya adalah mendamaikan keluarga Aa! Dan Aa tidak menyalahkan Ayah mertua, karena kurang tepat mendidiknya!”


“Sekarang Rahma, mempunyai alasan untuk tetap bersama Aa! Mempertahankan pernikahan ini, masalah cinta. Itu urusan belakangan karena cinta datang dari yang Maha Cinta! Yang penting hidupku bermanfaat bagi orang lain. Dan berjalan di jalan Allah!”


"Adanya gunanya juga aku baca buku self healing. Bahkan dalam buku ini, kita bisa tahu beberapa style parenting!"


Arrahma meraih ponselnya gadis itu menghela nafas berat.


“Bismilah, aku akan memulai malam ini juga!”


"Assalamualaikum, Aa kapan pulang? Aku tidak tahu harus apa, rasanya sepi. Tidak ada yang bisa aku lakukan, andai saja Aa ada disini. Hem pasti lebih menyenangkan, Rahma tidak akan merasa sendirian!"Arrahma meringis saat membaca pesan yang ia tulis.


“Aku malu, Ya Allah! Masa jadi kayak cewek ganjen ngemis perhatian!” Arrahma menutupi wajahnya.


“Wes ra opo-opo Arrahma ama bojo dewe tidak masalah! ”


“Tapi kalau Aa, jijik gimana! Terus kalau aku dibilang murahan kan nyesek!” Tak sengaja jari jempol Arrahma menekan tombol kirim.


Tek! Centang dua abu.


“Hey, kenapa terkirim! Aku hapus aja mumpung masih abu!” Namun saat ingin menghapus pesan yang tadi ia kirim. Matanya terbelalak saat membaca status typing dari A Zola.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2