
Hari ini adalah kali pertama Arrahma kembali ke pondok setelah menikah. Pegulatan tempo hari yang lalu terurungkan karena kondisi yang tidak memungkinkan serta dia mendapatkan tamu bulanan. Hal itu membuat Zola frustasi karena dia harus menahan nafsunya yang telah mencapai ubun-ubun. Lelaki itu beranggapan jika istrinya membohonginya. Bahkan Zola sempat mengancam untuk menyalurkan nafsuunya diluar sana. Akan tetapi Arrahma langsung mengunci pintu kamar dan membuang kunci itu kesegala arah. Bukan tanpa alasan dia melakukan hal itu, dia tidak ingin suaminya berbuat maksiat. Meskipun dia harus mendapat hukuman dari suaminya.
“Angkat kakimu sebelah, dan jewer telingamu! Sambil mengucapkan nama panjangku sebanyak 1000X! Ini hukuman karena kamu berani menghalangi aku keluar rumah!” Terpaksa Arrahma harus mengikuti apa yang suaminya katakan. Dia sempat bernegosiasi dengan Zola. Untuk mengganti dengan bersholawat atau beristighfar. Tapi Zola kekeh tetap dalam pendiriannya. Arrahma harus menghafal nama panjangnya yang terdiri dari empat suku kata yang sangat susah.
“Assalamu’alaikum!” Arrahma mengucap salam saat didepan rumah Abah Yai.
“Waalaikumussalam! Rahma, mari masuk!” Abah Yai tersenyum. Arrahma menunduk, gadis itu sangat canggung kaeena ini kali pertama dia bertemu dengan keluarga Gus Imam.
“Bagaimana kanannya Nak?” Abah Yai bertanya, ada rasa sedih karena Arrahma tidak bisa menjadi bagian dari keluarga besarnya.
“Alhamdulillah sae Bah! Abah sehat?”
Setelah menanyakan kabar Abah, Arrahma menanyakan kabar Ummi yang katanya dalam fase pemulihan.
“Bagaimana kabar suamimu? Kenapa tidak diajak kemari!” tanya Abah kikuk, karena mereka belum menemukan pembahasan yang pas.
__ADS_1
“Alhamdulillah, Aa baik! Seminggu ke depan mengharuskan Aa, untuk bolak-balik keluar kota! Karena harus mengecek barang yang akan diekspor, ditambah ada agenda tambahan untuk mengisi seminar di fakultas ternama di kota!”
Abang mengangguk pelan.
“Abah minta maaf ya Nak, andai saja waktu itu uangmu tidak digunakan untuk pengobatan Ummi. Pasti semua ini tidak akan terjadi.” Abah menunduk dalam. Ada rasa sesal didalam hatinya. Kenyataannya hidup ini tidak bisa seratus persen kita kendalikan.
“Semua sudah takdir Bah, jadi kita hanya bisa mengikuti. Meskipun Arrahma tidak jadi sama Gus Imam. Rahma tetap menganggap Abah, sebagai orang tua Rahma. Karena sedari kecil Abah yang merawat Rahma. Yang menggantikan sosok figur orang tua bagi Rahma! Rahma ucapkan terima kasih, karena Abah dan Ummi mau merawat Rahma. Meyekolahkan Rahma, hingga membantu Rahma seperti sekarang!” Gadis itu menitihkan air mata. Tidak punya orang tua, bukan berarti membuat dirinya sendiri dimuka bumi ini. Nyatanya Tuhan, telah mengirimkan sosok malaikat seperti Abah dan Ummi. Untuk merawatnya.
Abah mengelap air matanya yang berlinang. Karena terbaru.
“Alhamdulillah, pesanan 100 loyang saat hari natal besok! Doakan semoga lancar, karena ini kali pertama Rahma mendapatkan pesanan banyak!”
Abah mengaminkan perkataan Arrahma. Gadis itu pamit dari dalem. Saat Arrahma ingin pergi ke aula untuk berkumpul dengan santri lain. Tak sengaja Arrahma dan Gus Imam saling berpapasan. Gadis itu menunduk dalam, ada rasa yang tak bisa diartikan. Merasa bersalah karena suaminya telah mempermainkan Gus Imam. Dan rasa mengagumi lelaki yang seharusnya menjadi suaminya itu. Harus segera dihapus, dia tidak mau menghianati suaminya. Karena mendamba lelaki lain. Tapi apa suaminya juga menjaga hatinya. Hanya Tuhan yang tahu.
Di dalam kantor lelaki itu sedang asik berciuman mesra dengan seorang perempuan seksi. Saling bertukar silva tanpa rasa jijik. Tanpa terbebani dengan dosa maksiat yang mereka lakukan sekarang. Padahal seluruh barang yang ada di sekitar mereka nantinya. Akan menjadi saksi, kepada Tuhan Yang Maha Mengadili.
__ADS_1
Ciuman panas itu terjeda, karena mereka butuh waktu untuk menghirup udara.
“Yank, aku dengar kamu sudah nikah. Kenapa kau tidak menikahiku?”
Zola tersenyum miris melihat Hanza. Sungguh dia ingin tertawa, karena ini cara dia merendahkan perempuan. Hati Zola sudah batu, dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Karena perempuan ibunya meninggal,hal ini membuat dia tidak pernah mencintai perempuan. Berciuman dengan wanita bagi Zola hanya untuk menantang adrenalin seberapa kuatnya dirinya menahan nafsuu.
“Bagaimana kalau malam ini, kau bersamaku. Aku kangen sudah beberapa hari tidak menemanimu!” Hanza membuka kancing Zola pelan.
Zola tak bergeming. Dia tahu Hanza tidak kangen dengannya. Tapi kangen dengan transferan yang ia berikan.
Iyakan saja lah Zol, Arrahma juga masih kedatangan bulan.
...Terima kasih!
...
__ADS_1