Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Pelukan Yang Dibalas


__ADS_3

“TIDUR!” Arrahma mengerucutkan bibirnya saat melihat pesan dari suaminya.


“Kenapa harus di capslock egala,” Arrahma mendengus putus asa.


Dengan berat hati Arrahma tetap berusaha untuk meneruskan niat utamanya.


“Aa tidur?” Arrahma bertanya.


Setelah menunggu lima menit, terlihat Zola mengirimkan pesan suara.


“KAMU! Aku nggak mau ya, disuruh nungguin kamu di rumah sakit seperti beberapa hari yang lalu. Malam pertama, bukannya tidur di ranjang empuk. Malah tidur desak-desakan di ranjang rumah sakit!” Suaranya terdengar ketus.


Arrahma tersenyum kecut, bukankah Zola sendiri yang minta tidur di ranjang rumah sakit bersamanya. Padahal dalam ruangan Arrahma ada sofa bed yang pastinya lumayan nyaman jika digunakan tidur.


“Iya, maaf! Nanti kalau sudah pulang punggungnya aku pijat++ buat Aa!” tulis Arrahma sambil tersenyum.


Mata Zola melebar saat membaca pesan yang istrinya kirim.


“Cih, ternyata dia tidak sepolos yang aku kira. Bocah ini paham juga sama yang ++!” Zola terkekeh kecut.


“Itu sih kewajiban seorang istri!”


“Iya, terserah Aa, deh mau tambah yang mana! Mau tambah kaki atau tangan! Rahma turuti!”


Zola mengerutkan keningnya, ternyata pikirannya mengenai ++ salah.


Sore harinya suaminya akan pulang, gadis itu sudah siap menunggu kedatangan Zola.


“Aa!” teriak Arrahma langsung memeluk tubuh suaminya. Zola terdiam karena perilaku istrinya yang terlalu posesif.

__ADS_1


Seluruh keluarga menatapnya dengan tatapan tidak bisa diartikan. Teruntuk bagi keluarga Zola, lelaki kasar tapi mendapatkan pasangan seperti Arrahma. Terjaga nan patuh dengan suaminya.


Asrhaf melirik kearah istri atasannya. Pemuda itu bergumam pelan. “Nona, kenapa dia bisa berperilaku seperti ini. Sejujurnya hal ini sering dilakukan perempuan diluar sana saat menemani Tuan Zola, tapi nampaknya ini akan berkesan bagi Tuan, jika perempuan disana terlalu agresif berbeda dengan Nona!”


Zola masih tertegun dengan kejadian ini. Akan tetapi saat melihat keluarganya, melihat hal itu. Membuat dirinya membalas pelukan istrinya. Ingin menunjukkan jika lelaki bangsattt seperti dirinya. Juga patas mendapatkan cinta yang tulus dari orang lain.


“Rahma, mending kita ke kamar saja!” ujarnya terkesan perhatian. Arrahma meminta izin kepada keluarga suaminya untuk masuk kedalam kamar.


Seluruh keluarga menatap kearah kamar Zola. Saat tertutup mereka saling melempar pandangan. Namun saat mereka tahu ada Asrhaf masih mematung di sana. Mereka langsung melimpir pergi.


“Boleh, gua tahu dimana Zola bertemu dengan istrinya?” Adel menghempaskan bokongnya disofa.


Asrhaf melirik Adel dengan ekor matanya.


Adel menghela nafas panjang karena Asrhaf tak bergeming.


Asrhaf hanya mengangkat bahunya acuh. Adel berlari mengejar Asrhaf yang berjalan cepat.


“Srhaf! Apa Zola memaksanya?”


“Tanyakan saja sama Tuan Zola!” Asrhaf menjawab cepat dan berjalan terburu-buru.


Didalam kamar Arrahma membantu suaminya untuk melepaskan bajunya. Gadis itu menunduk malu saat melihat dada suaminya. Bahkan bisa dipastikan jantungnya sekarang sedang berirama. Seperti dulu, saat tak sengaja berpapasan dengan Gus Imam. Mengingat Gus Imam, membuat Arrahma menghela nafas berat. Kenapa kisah cintanya terlalu dramatis.


'Suatu yang ditakdirkan untuk kita pasti akan menjadi milik kita. Meskipun terkadang kita tidak menginginkannya. Dan sesuatu yang sudah ada di depan mata. Terlihat jelas akan menjadi milik kita atau bahkan sudah menjadi milik kita. Jika Allah bilang lepas maka akan terlepas. Sekuat apapun kita mengagamnya' batinnya.


“Arrahma kamu itu niat membantu tidak? Kenapa dari tadi kau hanya diam!” geram Zola sambil mengangkat kedua tangan istrinya kasar. Membuat dada Arrahma membentur dadanya.


“Ma-maaf tadi aku...” Arrahma tidak meneruskan ucapannya. Tidak mungkin dia berterus terang kepada suaminya. Jika sedang memikirkan lelaki lain.

__ADS_1


“Ck! Sudah aku katakan, jangan selalu meminta maaf!” Zola menetap wajah istrinya lekat. Sialnya jantungnya berdesir membuat dirinya harus mengendalikan perasaannya.


“Sudahlah, aku mau mandi!” Zola melepaskan kancing bajunya. Seraya masuk kamar mandi.


Melihat suaminya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang seger. Membuat Arrahma malu, gadis itu menunduk.


“Sebulan lagi, kita pindah ke rumahku!” Zola membuang handuk yang tadi digunakan mengeringkan rambutnya. Arrahma mengambilnya untuk dikeringkan.


“Aku butuh approval dari Kong Can, dia pulang tiga Minggu lagi!” Zola menselonjorkan kakinya dikasur. Sejak kedatangan Arrahma di rumah ini. Dia belum bertemu dengan Kong Can.


“Aa, tidak shalat?” tanya Arrahma takut.


Zola tidak bersuara lelaki itu hanya diam. Dan menyalakan ponselnya. Melihat hal ini, Arrahma tidak mau mengulangi pertanyaannya atau mengingatkan suaminya lagi. Baginya Zola sudah dewasa tidak perlu digurui. Sekali dia sudah mengingatkan, namun jika suaminya tidak mau. Itu urusan Zola. Sebagai istri dia sudah mengingatkan kewajiban suaminya. Mungkin nanti saat sudah ada waktu shalat lagi baru di ingatkan kembali.


“Aa, besok aku akan kerja lagi, Aa izinin ya?”


Zola melirik istrinya sebentar, setelah itu menatap layar ponselnya.


“Terserah, yang penting saat aku pulang, kamu harus sudah ada di rumah! Jangan pakai motor!” suaranya terdengar datar.


“Terus Arrahma, harus pakai apa?” Dahinya mengkerut.


“Karpet terbang!” ketusnya.


“Ya mobil dong Terong, nanti ada supir yang antar jemput kamu!” Zola melirik kearah istrinya . Namun disaat itu Arrahma sedang memainkan bibirnya. Terlihat menggoda bagi Zola. Lelaki normal itu pun langsung menarik kepala istrinya. Arrahma terkejut karena tiba-tiba kepalanya di tarik. Lebih tertegun lagi saat bibirnya dilumatt oleh suaminya. Setiap kali berciuman dengan istrinya. Zola selalu memejamkan matanya. Jika tidak, mata jernih Istrinya pasti menyihir dirinya.


Arrahma hanya mengikuti permainan yang Zola lakukan. Tidak ada penolakan sedikitpun. Keduanya dipenuhi hasrat yang saling mendamba. Tangan Zola turun, membuka kancing baju Arrahma. Posisi keduanya telah berubah posisi Zola menindih tubuh istrinya. Lelaki itu tidak mau melepaskan ciumannya. Meskipun tangan kanannya membuka satu persatu kancing baju Arrahma.


.

__ADS_1


__ADS_2