
Arrahma memejamkan matanya, saat tangan Zola akan menamparnya. Gadis itu meremas jari-jemarinya takut. Asrhaf terlonjak dari duduknya. Dengan langkah cepat, pemuda itu berdiri di depan Arrahma. Guna menjadi tameng. Seraya berkata. “Tidak perlu melakukan kekerasan, karena masih ada duplikatnya!” Zola mengibaskan tangannya kasar. Lelaki itu melengos, tidak suka dengan Asrhaf. Yang menurutnya terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangganya. Meskipun keduanya bisa dibilang sangat dekat, bahkan saling mengenal karakter sampai rahasia yang tidak pernah orang tahu sekalipun. Akan tetapi jika masalah Arrahma, nampaknya Zola terlalu sensitif.
Arrahma membuka matanya perlahan, ternyata Asrhaf telah menyelamatkan dirinya.
“Kenapa, kau menghalangi ku?” Zola menatap Asrhaf seperti macan yang menemukan mangsanya.
“Maaf!” Asrhaf menunduk baginya Zola bukan sekedar atasan. Melainkan malaikat yang menolongnya. Saat dirinya tidak punya siapa-siapa lagi.
“Kau menyukainya?” tanya Zola heran, pasalnya Asrhaf tidak pernah care kepada siapa pun. Saat dirinya bertindak kasar, karena orang itu melakukan kesalahan.
Asrhaf menunduk tidak berani menjawab. Sedangkan Arrahma merasa bersalah atas kejadian yang terjadi.
“Srhaf! Benar kau menyukainya?” Belas tahun bersama Asrhaf, sekalipun dia tidak pernah mendapati bawahannya menceritakan tentang perempuan lain kecuali Tajrina Ashafira.
Asrhaf menggeleng pelan.
__ADS_1
“Jangan bohong, awal ketemu dengannya! Kau selalu mencuri pandang padanya!” Teringat saat ada di Hotel. Asrhaf menatap Arrahma dengan lekat tepat di depannya.
“Saya hanya membayangkan, andai Ashafira yang ada di posisi saat ini! Saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya. Karena kesalah sepele!” Asrhaf berkata tegas.
Zola menghela nafas panjang, dia tidak ingin bicara banyak. Tajrina adalah wanita kedua yang Asrhaf cinta setelah Almarhumah Bunda. Hal ini membuat dia harus menghargai, pasalnya Asrhaf juga menghargai orang-orang yang ia cintai.
“Rahma! Masuk!” Zola menatap tajam istrinya. Gadis itu tak membantah. Sepeninggalan Arrahma, Zola duduk kembali. Keduanya terdiam, untuk beberapa menit.
“Srhaf, sudah belasan tahun! Masih belum bertemu dengannya?” lirik Zola kearah Asrhaf.
Asrhaf hanya mampu menghela nafas, dan kembali mengerjakan pekerjaan yang harus cepat di selesaikan.
“Aku mencoba memahaminya, tapi tetap saja dia tidak berubah! Selalu saja main tangan! Hukuman, hukuman dan hukuman!” Matanya sudah berkaca-kaca. Merasa tidak dihargai. Baginya Zola terlalu banyak aturan dan larangan. Bahkan ini kali pertama, dirinya pergi ke dapur. Karena Zola tidak memperbolehkan dia berdekatan maupun bercengkerama dengan isi rumah maupun penghuni rumah ini. Dia terkurung layaknya burung dalam sangkar. Kalau mau pergi, keluar kamarnya harus barangan.
Pintu kamar terbuka dari luar. Tepat jam sepuluh Zola baru menyelesaikan pekerjaannya. Matanya menatap ranjang, ternyata istrinya tidur. Setelah sholat dhuha dan mengabari karyawan, hari ini tidak bisa ke toko. Arrahma memutuskan untuk rebahan, seraya mengigat ibu dan ayahnya yang sudah tiada. Dan saudaranya yang tidak tahu dimana membuat dia menangis. Karena rindu, Arrahma yang lelah pun jadi terlelap.
__ADS_1
Zola membaringkan tubuhnya di samping istrinya.
Dia tersenyum, saat melihat rambut istrinya yang basah. Dia pun memepetkan tubuhnya kearah istrinya.
“Rahma!” panggilnya.
Arrahma yang tertidur pulas hanya bergumam.
Zola mencabik kesal, karena istrinya tidak bangun juga. Lelaki itu memeluk Arrahma dari belakang.
“Bangun,” bisiknya ditelinga istrinya. Akan tetapi sama saja Arrahma tidak bangun juga.
“Ck, dasar Boudek (Kebo budek)! Dibangunkan malah ngorok!” kesalnya.
“Awas saja kalau udah bangun, dan untuk nanti malam! Kita harus melakukan hubungan sekss! Jika kamu menolak, aku paksa!” tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Akhirnya lelaki itu pun ikut tertidur. Guna mengisi stamina buat nanti malam. Pertandingan bola harus dimenangkan olehnya.
TBC...