Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Kawin Dulu Pasang Cincin Kemudian


__ADS_3

Awan yang cerah seakan tahu isi hati Arrahma. Gadis ini sedang berdandan. Untuk menyambut kedatangan suaminya, menyenangkan hati suami alangkah indah baginya. Terhitung satu jam dari sekarang. Suaminya akan sampai rumah.


Namun saat ia memoleskan blush-on dipipi. Terdengar pintu ada yang mengetuk.


Yang membuat Arrahma terkejut nan panik. Bukan tanpa alasan, gadis ini belum memakai pakaian sehari-harinya.


“Duh, siapa yang mengetuk pintu!” Katanya seraya mengenakan pakaian seperti cardigan. Yang tentunya panjang dan mudah dikenakan tinggal diikat depan. Mampu menutupi lekukan tubuhnya.


Tok... Tok...


“Iya, mohon tunggu sebentar!” ujarnya seraya memakai hijab se—cadarnya.


Ketukan ketiga, membuat Arrahma berpikir siapa yang mengetuk pintu. Kenapa tidak bersuara.


“Siapa kalau boleh tahu?” tanyanya dengan kelembutan.


Tidak ada jawaban, membuat Arrahma menghela nafas panjang.


Tidak bertanya lagi, gadis ini membuka pintu kamarnya.


“Aa!'’ panggilnya terkejut.


Gadis itu langsung mencium tangan suaminya. Tak membuat rasa kangennya berhari-harinya hilang, begitu saja. Membuat dirinya memeluk tubuh suaminya. Lelaki itu membalas pelukan istrinya.


“Kenapa tadi tidak langsung masuk? Kan kunci cadangan ada di Aa!” protes Arrahma mengikuti suaminya dari belakang.


“Jadi lama kan, nungguin istrimu buka pintu!” Sepertinya Arrahma tidak mau memanggil dirinya terong. Alangkah baiknya jika menggantinya dengan sebutan istrimu.


“Biar suprise!” Jawabnya seraya duduk di sofa. Arrahma segera menuangkan air ke dalam gelas. Kemudian memberikan kepada suaminya. Zola meminum air itu hingga tandas, dengan tiga kali tegukkan.

__ADS_1


“Kenapa tidak di sisain?” tanya Arrahma sambil duduk di samping suaminya


“Emang kenapa? Aa kan haus Sayang!” tanya sambil melepaskan jaketnya.


“Padahal istrimu, menginginkan minum segelas bersamamu!” cicitnya membuat Zola memutarkan bola matanya sempurna.


“Oh ...soswet!” Zola meletakkan telunjuknya di pinggang istrinya, kemudikan ia putar. Yang membuat Arrahma merespons dengan tawa kegelian.


“Aa, udah! Jail aku geli! Hahaha!”


Mendengar tawa istrinya begitu menyenangkan, karena beberapa hari hanya lewat video call saja.


Sungguh menyiksa! Rasanya!


“Hayo Terong, harus bayar denda!”


Sore harinya Zola sudah bangun tidur, dekat dengan istri ternyata menyenangkan. Bagaimana tidak! Jika sebelum tidur Arrahma memijat badannya. Saat tertidur pun rasanya aduhai, selagi bisa memeluk tubuh istrinya. Mencium leher istrinya, yang begitu segar.


“Sayang, terima kasih!” bisiknya ditelinga istrinya. Arrahma mencoba membuka matanya yang masih ingin terpejam.


“Hemm ...buat apa?” tanyanya dengan suara khas orang baru bangun.


“Rahma telah menyenangkan hatinya Aa, dandanan tadi, untuk menyambut kedatangan As begitu memuaskan!” ujarnya memeluk tubuh istrinya, seraya menghirup tengkuk Arrahma.


Arrahma tersenyum tipis, dia tahu suaminya tidak memuji riasannya. Melainkan baju yang ia kenakan.


“Bajunya?”


“Orangnya!” ketus Zola.

__ADS_1


“Bohong!” sergah Arrahma.


“Tu tahu, pakai nanya! Ngomong-ngomong beli dari mana Yank?”


“Online shop! Malu rasanya, jika harus di mall!”


Zola melebarkan senyumnya. “Sudah diduga! Tapi belinya lebih dari satu kan?”


“Kurang dari dua!” jawabnya ketus.


“Ck! Padahal Aa suka loh!”


“Ngeri!” Arrahma bergidik ngeri melihat senyuman suaminya. Dia harus waspada!


Setelah menunaikan shalat ashar, Zola meminta istrinya untuk tetap duduk di atas sajadah. Sedangkan dirinya berjalan kearah ranjang. Dan kembali lagi. Dengan sebuah kotak ditangannya.


Zola menarik tangan kiri istrinya. Kemudian memasangkan sebuah cincin berwarna putih dijari manis istrinya. Arrahma menutup mulutnya, sungguh ini kejutan biasa diluar sana. Tapi baginya ini adalah anugerah yang tak pernah ia berani khayalkan.


“Ini cincin pernikahan kita! Dulu tidak sempat membelinya!” kata Zola mencium tangan istrinya.


“Tolong dijaga!” Katanya yang membuat Arrahma mengangguk. Dengan air mata yang tumpah.


Kini gentian Arrahma yang memasangkan cincin kawin untuk suaminya.


Jadilah kawin dulu, pasang cincin kemudian.


“Nanti malam dapat jatah kan Yank?” goda Zola yang membuat Arrahma mencubit pinggangnya.


“Sakit Rahma!” ujarnya ingin membalas istrinya dengan menggelitiki istrinya.

__ADS_1


Tapi Arrahma yang tahu langsung berlari dan melepaskan mukenanya. Seolah berusaha kabur, suaminya begitu kejam. Suka menggelitiknya tanpa ampun. Bahkan dia pernah sampai menangis.


TBC...


__ADS_2