
“Kamu novelis?” tanya Zola sambil mengemudikan mobilnya. Sore ini mereka akan menuju ke bandara untuk menjemput Kong Can. Sedangkan tadi pagi Darwin, baru diperbolehkan pulang.
Membuat pasangan ini tidak punya waktu cukup untuk berduaan.
“Tidak!” jawabannya seraya menatap jalanan.
“Bukannya setiap hari kamu menulis novel?” tanyanya dengan dahi berkerut. Lelaki ini tahu istrinya menulis saat mereka terbiasa tidur di ruangan rumah sakit.
“Bagiku seorang novelis, adalah orang yang benar-benar tahu konsep kepenulisan. Sedangkan aku, belum cukup mahir untuk hal ini!” ujarnya menunduk ekor matanya melirik suaminya. Rambut baru Zola membuat hatinya berdebar tak karuan.
Suaminya semakin mempesona dengan style jalan kutu.
“Aku berpikir, aku hanya memainkan keyboard! Merangka setiap kata, menjadi sebuah kalimat. Kalimat menjadi sebuah paragraf yang bisa dibaca. Dan Tuhan, yang memberikan aku ide! Aku bukan seorang novelis, hanya saja. Mengasah kemampuan!” ujarnya.
“Romance?”
Arrahma mengangguk pelan.
“Berarti ... ada adegan 21+ dong!”
“Tidak! Ada beberapa batasan yang aku buat untuk diriku sendiri, contohnya aku tidak akan menulis sesuatu yang bersifat pornografi yang mendetail! Aku harap aku bisa konsisten dengan ucapan ku! Jujur—aku takut khilaf”
__ADS_1
“Pertama itu, merugikan bagiku. Baik secara pikiran yang mengarahkan ke maksiatan. maupun secara biologis yang membuat kita terangsang! Kedua aku berharap, menulis tidak menyalahi aturan Islam! Dan yang ketiga, aku bisa membuat orang lain rugi. Khususnya para anak muda yang belum menikah. Mereka cenderung lebih ingin tahu, dan penasarannya lebih tinggi ketimbang yang sudah menikah!”
“Aku tidak mau anak muda otaknya terkontaminasi, aku berharap novel yang aku tulis tidak toxic! Jika aku tidak bisa, menuliskan sesuatu yang positif, meng—education, memberikan motivasi! Setidaknya aku tidak merusak kehidupan orang lain!”
“Jujur saja, ini adalah pengalaman pribadiku. Dulu saat usiaku 15 tahun. Gus Ikhsan memberikan ponselnya yang sudah tidak ia pakai lagi kepadaku. Guna aku bisa tetap di pesantren.Tidak perlu ke warnet untuk mencari informasi yang tidak ada dibuku! Sebulan punya ponsel, aku terbilang sangat nakal untuk hal ini!” Arrahma terkekeh geli.
“Aku mendownload sebuah aplikasi, novel online! Aku membacanya, karena ceritanya bagus! Tak ku sangka, disaat kita menemukan sesuatu. Kita harus merelakan sesuatu!” Arrahma menunduk penuh penyesalan.
Zola meliriknya, tak sadar ia mengelus kepala istrinya lembut.
“Aku mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan karena terhanyut dalam cerita. Yang mampu menghiburku. Aku juga harus merelakan, otakku menjadi terkontaminasi olehnya.” Arrahma berhenti sejenak.
Sedangkan Zola menahan tawanya membayangkan reaksi Arrahma. Waktu tahu jika yang ia baca itu kemaksiatan.
“Sesuatu yang buruk, begitu mudah dicerna. Tapi sulit untuk dilupakan! Jujur saja, ada candu didalam diriku. Ingin terus membacanya (adegan bercinta) Tapi aku sadar, jika semakin aku teruskan. Maka aku akan dijajah oleh kebodohan yang ada dalam otakku!”
“Sampai-sampai, aku memutuskan untuk berhenti membaca sejenak. Tapi nyatanya itu susah, baiklah aku baca. Aku mencoba mencari novel yang pas untukku! Ternyata setiap novel yang aku baca ada adegan 21+ nya!”
“Aku harus men-scroll kebawah, guna tidak membaca adegan itu lagi! Aku butuh berkali-kali, untuk memegang teguh prinsip ku! Tidak akan membaca 21+ akhirnya aku bisa. Tapi tetap saja, kesalahan yang aku lakukan dulu tidak akan berubah!” Arrahma menghela nafas panjang. Sedangkan Zola dia membiarkan istrinya bercerita.
“Aku tidak bisa menyalahkan orang lain untuk hal ini. Aku juga tidak bisa menyalahkan keadaan untuk hal ini! Yang bisa, aku lakukan hanya! Menerimanya dan mau memecahkan permasalahan ini! Bagaimana aku keluar dari, lingkaran setan ini!”
__ADS_1
“Menerima pengalaman negatif justru merupakan sebuah bentuk pengalaman positif!”
“Inilah pengalaman negatifku, otakku menjadi tidak murni lagi! Dan pengalaman positifnya adalah, aku diajari untuk lebih bijak memilah dan memilih bacaan! Dan yang kedua, dengan aku membaca tentang seeks! Aku jadi tahu, jika ada perbedaan antara yang virgin dan tidak!”
Zola hanya mengangguk-angguk kecil. Teringat jika istrinya belum mengatakan apa syarat yang harus ia lakukan. Untuk mendapatkan kesempatan sekali lagi.
“Dari sinilah, aku mulai menjaga diriku dan kesucian ku!”
“Hal yang negatif bisa berubah menjadi positif. Jika kita melihat dengan sudut pandang yang luas, jadikanlah pengalaman! Buka sekadar penyesalan! Mencoba memecahkan permasalahan. Bukan menghindar atau menyangkal!”
“Karena sesuatu permasalahan yang belum kamu pecahkan. Dan belum kamu selesaikan, akan menjadi sangkar dalam otak!”
“Padahal, yang kita tahu, otak itu secara otomatis bisa menghapus. Sebuah ingatan atau informasi yang tidak penting lagi! Kemudian mencerna informasi baru dan ingatan baru! Itu mengapa kadang, kita mudah melupakan sesuatu informasi yang kita dapatkan!”
“Tinggal kita mau menyimpan kemana, short term memori atau long term memori”
“Kematian Ibu mertua, nampaknya tersimpan dimemori jangka panjang! Aku berpikir sebaiknya, Aa segera memecahkan permasalahan-permasalahan yang dari dulu belum selesai. —Maksudku, coba cari tahu apa yang sebenarnya terjadi! Kamu membenci Ayah mertua, karena kamu beranggapan semua itu salahnya! Tapi apa itu benar? Jangan biarkan kesalahan pahaman meyangkar diotakmu!”
Bertepatan dengan selesainya Arrahma bicara. Mobil itu berhenti. Yang membuat tubuh Arrahma mengarah ke depan.
TBC...
__ADS_1