Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Mommy, Popy, Bao Happy


__ADS_3

“Kami dari RS, ingin minta maaf yang sebesar-besarnya! Hasil tes kesuburan yang istri, Anda lakukan. Dinyatakan tidak akurat! Karena alat yang tadi dipakai rusak! Saya pribadi ingin meminta maaf kepada Anda dan istri Anda!”


Bak angin segar menerpa tubuh, telpon dari rumah sakit. Membuat Zola mengusap wajahnya. Dia bahagia, setidaknya kesempatannya memiliki momongan.


Masih ada.


Zola segera memutuskan sambungan telepon. Lelaki itu berlari dan memeluk istrinya. Arrahma dia terkejut mendapati suaminya yang girang. Diatas kesedihannya.


“Kau tahu Sayang? Tadi dokter baru saja, memberi tahu. Jika tes yang kamu lakukan. Itu tidak akurat karena alatnya rusak!”


Terkejut! Sontak saja Arrahma melotot tidak percaya.


“Benar?”


Zola mengangguk cepat. Arrahma kembali menangis. Haru.


Beberapa bulan setelah kejadian di danau. Arrahma tidak mau lagi mengecek kesuburannya. Dia trauma.


Siang ini dia memasak untuk suaminya. Yang katanya mau pulang siang.


“Mommy! Mommy! Mommy!” Sura cepat itu membuat Arrahma membalikkan badannya.


Dia terkejut mendapati seorang anak lelaki, terlihat menggemaskan. Apalagi rambutnya yang ikal.


Anak itu turun dari gendongan Zola. Kemudian berlari kearah Arrahma, dan memeluk kaki Arrahma. Sebelum itu Zola telah memberikan pengertian kepada anak itu.


“Popy! Popy! Ini Mommy?” tanyanya pada Zola. Lelaki itu mengangguk pelan.

__ADS_1


Sedangkan Arrahma masih tertegun.


“Jangan, salah arti Arrahma! Dia adalah pateraku!”


Zola berbisik ditelinga istrinya. “Putra angkat ku!”


“Jauh sebelum aku menikah denganmu! Aku menemukannya, saat dia masih bayi! Seseorang membuangnya, tepat di dekat kantorku! Aku yang tahu, jika keluargaku tidak harmonis! Aku dan Asrhaf memutuskan untuk menitipkannya di panti asuhan! Kami selalu meluangkan waktu untuknya. Setelah pulang kerja atau saat istirahat. Maaf Arrahma, aku sungguh tidak berniat membohongimu. Namun jika aku membawanya bertemu denganmu saat itu juga (setelah kejadian di danau)! Aku yakin kamu akan salah paham. Berpikiran jika aku, tidak sabar memiliki anak!” Zola mengelus tangan istrinya lembut. Keduanya terlihat pembicaraan yang panjang. Mengenai Zola yang diam-diam menemui anak angkatnya. Hingga memenuhi semua kebutuhan anak lelaki itu.


Sedangkan anak lelaki itu. Asik mengelilingi ruang makan. Dan terus mengoceh.


Bagi Arrahma mudah untuk menerima, anak lelaki itu sebagai anak angkatnya. Pasalnya ia tahu, bagaimana rasanya tidak mengenal orang tuanya. Pahitnya ditelantarkan, jika orang tuanya rela membuang anak itu.


“Mommy! Mommy! Mommy!” ujarnya sambil mengelilingi meja makan. Yang membuat Arrahma gemas dibuatnya.


“Jika dia adalah sebuah titipan. Maka kita wajib menjaganya!” ujar Arrahma memandang anak kecil itu yang jingkrak-jingkrak seraya tertawa kecil.


“Mommy! Popy! Pepalukan!” Anak lelaki itu menghamburkan tubuhnya kearah orang tua angkatnya.


Arrahma menitihkan air mata, sekian lama. Dia ingin kedatangan seorang anak, yang membuat ramai rumah. Akhirnya datang juga, dengan cara yang berbeda.


“Bao, kissing Mommy!” ujar Zola.


Bao pun mencium Arrahma, akan tetapi melihat pipi ibu angkatnya seperti es mochi, ia pun menggigitnya. Membuat Arrahma mengaduh, sedangkan Zola terbahak-bahak.


“Es-mo-chi Popy!”


Sebulan menjadi orang tua angkat. Membuat Arrahma harus bangun lebih pagi, tentu saja tugasnya lebih banyak. Seperti pagi ini contohnya. Dia harus bangun jam 04 pagi. Guna membuatkan susu untuk anaknya. Karena setiap kali, belum ada susu saat bangun. Bao akan menangis dan membuat anak lelaki itu menjadi malas belajar di rumah. Maunya ikut ayahnya ke kantor.

__ADS_1


“Mommy! Mommy!” teriaknya yang membuat Arrahma geleng-geleng kepala. Dia tahu anaknya pasti mencarinya, dan sekarang sudah memeluknya dari belakang.


“Esusssu!”


“Sebentar lagi jadi! Popy, apa dia sudah bangun?” tanya Arrahma.


“Emmmm!” Geleng-geleng.


“Ini! Tapi sebelum itu, Bao harus melakukan tugasnya!”


Bao mengangguk dan berlari kearah kamar orang tuanya. Arrahma mengikuti dari belakang. Setidaknya, punya anak membuat di tidak perlu repot-repot mengeluarkan tenaga. Untuk membangunkan panda yang tertidur.


“Popy suwwwwubuh!” ujarnya tengkurap di atas punggung ayahnya. Ana lelaki itu, merasakan sensasi tidur di badan beruang.


“POPY! BANGUN!” teriaknya ditelinga Zola. Yang membuat Zola langsung mengerjap-ngjapkan matanya lebar.


Arrahma tersenyum, jika Bao sudah teriak, speaker masjid kalah.


Anak lelaki itu langsung memposisikan duduk di pangkuan ayahnya dan mencium bibir ayahnya. Inilah kebiasaannya. Biasanya jika tidak ada ciuman pagi, tidak mendapatkan mo-chi saat ayahnya pulang.


“Bao lope Popy and Mommy!”


Kedua orang tua tersenyum mendengarnya.


TBC...


__ADS_1


__ADS_2