Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Kemenangan Arrahma


__ADS_3

Mobil hitam itu memasuki pekarangan rumah, dengan gaya tangga putar yang dibawahnya kolam renang. Zola keluar dari mobilnya seraya melepaskan kacamatanya. Arrahma mendongakkan kepalanya, rumah Zola begitu apik. Sesuai dengan karakter suaminya.


“Aa, tadi malam pulang jam berapa? Jujur aku benar-benar teler, mungkin efek keseringan tidur di sofa kali yak!” ujar Arrahma yang berjalan dibelakang suaminya, sambil mengangkat tas besar.


“Kamu tidur kayak kebo,” sinisnya.


Terdengar suara bising, sepertinya suara ini berasal dari dalam rumah.


“Masih renovasi, rumahnya belum selesai!” ujar Zola sambil menatap layar ponselnya.


Arrahma mengangguk, ternyata rumah suaminya berbeda dengan rumah Kong Can. Jika rumah Kong Can mengunakan bahan batu bata. Maka hunian barunya, menggunakan kaca besar sebagai pembatas setiap ruangan.


“Anti peluru nih A?” tanyanya.


“Anti panah!” sinisnya. Lelaki itu menyapa para tukang sebentar. Kemudian mengajak Arrahma naik ke lantai atas.


“Ini kamar kita?” tanya Arrahma sambil duduk di ranjang. Gadis mengamati interior yang menempel di kamar suaminya.


“Maksudnya? Kamu pikir kita tidur di kamar yang berbeda gitu?” tanya Zola sambil membuka kancing bajunya.


“Ya mungkin saja, biar kayak dinovel hehehehe!”


“Cih, otakmu sudah tidak perawan lagi! Karena membaca novel kasian!” ujarnya seraya mengenakan kausnya kemudian melenggang pergi. Dan menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


Sedangkan Arrahma hanya bisa mendengus kesal.


Jam tiga sore, Arrahma menuruni anak tangga dengan cepat. Dengan membawa kertas ditangannya. Gadis itu tersenyum, saat melihat suaminya sedang berbicara dengan seorang lewat ponsel. Arrahma mengetuk bahu Zola dari belakang dengan bolpoinya. Lelaki itu membalikkan badannya, dengan dahi berkerut. Zola memajukan wajahnya dan bertanya tanpa suara.


Arrahma menunjuk kertas yang ada ditangannya dengan bolpoin, dan berbicara tanpa suara. “Aku butuh tanda tanganmu!”


Zola meminta kertas itu, tanpa bertanya buat apa. Lelaki itu mendatangi sambil menjepit ponselnya dengan pundaknya. Multitasking sekali. “Iya, baik nanti kirim saja ke email!” ujarnya sambil menyerahkan kertas itu kearah istrinya. Arrahma tersenyum penuh kemenangan. Gadis itu jingkrak-jingkrak, seraya meninggalkan suaminya. Yang merasa aneh dengan sikapnya.


Zola begitu bingung dengan sikap istrinya yang kegirangan. Seakan memenangkan lotre.


“Aneh, kenapa dia nampak girang!” gumamnya.


Seorang yang ada di telpon, memanggilnya berkali-kali. Membuat Zola tersadar dari pertanyaan yang memenuhi otaknya.


“Okay! Segera kirim filenya!” Zola memutuskan panggilannya. Lelaki itu langsung berlari menaiki tangga. Dia begitu ingin tahu, apa yang membuat istrinya begitu bahagia.


Handel pintu terbuka dari luar. Arrahma yang tadi tertawa, langsung mingkem (bungkam) saat melihat suaminya masuk kamar.


“Sebenarnya apa yang membuatmu bahagia?” tanya Zola to the points. Lelaki itu merebahkan tubuhnya di kasur.


“Aku bahagia, karena...” Arrahma menggantung ucapannya. Yang membuat Zola melemparkan bantal kearahnya, karena merasa dipermainkan.


“Hehehe! Karena aku sudah bisa memecahkan permasalahan dalam hidupku!” jawabannya cengengesan.

__ADS_1


“Lihat ini, bisa memecahkan permasalahan-permasalahan yang selama ini. Membuat aku stres dan teraniayaya!” ujarnya memperlihatkan kertas yang ada ditangannya.


Zola bangkit dari berbaringnya. Lelaki itu mengambil paksa kertas yang ada di tangan Arrahma.


Dengan kejelian, matanya mencoba membaca satu persatu kalimat. Yang tertulis di dalamnya.


Duar! Bagi disambar petir disiang bolong.


“Surat perjanjian?” tanya Zola dengan lirikan tajam kearah istrinya.


Arrahma mengangguk pelan.


“KAU GILA?” teriaknya penuh amarah.


Zola bersiap mencekik leher istrinya. Sebelum itu benar-benar terjadi. Arrahma mengucapkan sesuatu. “Dalam surat perjanjian, yang kamu tanda tangani! Jika ingin diberikan kesempatan kedua. Pihak yang diberi kesempatan, tidak boleh berprilaku kasar. Terhadap pihak yang memberikan kesempatan!” Tegas Aarahma yang mampu membuatnya melengos.


“Persyaratan yang kamu berikan, semua ini merugikan diriku!” ujarnya membuang surat perjanjian ke lantai.


“Itu adalah bayaran, yang harus kamu bayar! Kalau kamu tidak sanggup, ya sudah kita pisah!”


“Sialan kau Terong!” ujar Zola yang tidak bisa melakukan apa pun. Sekarang dia terpojok oleh perjanjian sepihak yang istrinya buat.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2