
Pintu kamar hotel terbuka, yang terlihat hanya kegelapan.
“Jang sampai Rahma kabur!” Dengan tergesa-gesa, lelaki itu menekan saklar. Zola segera berjalan kearah ranjang.
“Huft!” Zola bernafas lega saat melihat istrinya masih ada dikamar.
“Bangun!” Zola menarik selimut dengan kasar. Akan tetapi istrinya tidak bangun juga, membuat lelaki itu mencengkram bahu Arrahma keras.
Sontak saja mata Arrahma langsung terbuka.
“A-Aa!” pekik Arrahma yang melihat suaminya dengan wajah memerah menahan marah.
“Berani sekali kau, tidur saat suami masih kerja!” sinis Zola sambil membuang muka. Menatap wajah istrinya lama-lama membuat dirinya harus mengendalikan. Sesuatu dalam hatinya.
“Ma—“
Zola segera memotong ucapan istrinya. “Maaf-maaf terus, bukannya sudah pernah aku katakan sekali lagi. Mulutmu bilang maaf, itu berarti kau siap mendapat hukuman!” Zola menarik bahu Arrahma. Membuat gadis itu langsung berdiri tegak.
“A-A—“ suaranya terdengar terbata-bata.
“Emmmm!” Arrahma menggeleng saat suaminya menciumnya. Bahkan dia memukul dada suaminya. Tatkala Zola mentransfer air liur padanya. Menyuruhnya menelan air liur rasa duren. Bukan tanpa alasan, hal ini sudah direncanakan Zola sebelumnya.
“Ehemmmmm!” gadis itu menangis dengan bibir yang menyatu dengan suaminya.
Arrahma mencoba mendorong tubuh Zola. Akan tetapi hal itu sia-sia. Zola yang sudah kehilangan nafas melepaskan ciumannya. Arrahma langsung mengelap bibirnya, dan berlari kearah kamar mandi. Karena merasa mual.
“Huek ....huek!” Nyata menelan ludah sendiri lebih baik. Dari pada menelan ludah orang lain.
Zola tertawa penuh kemenangan, karena hukuman yang ia siapkan untuk istrinya. Benar-benar berhasil dan tentunya membuat Arrahma terluka.
__ADS_1
“ARRAHMA CEPAT KELUAR!” teriak Zola yang sudah tidak sabar lagi untuk menghukum istrinya.
Arrahma yang ada di dalam langsung, membasuh mukanya. Dan segera keluar menghampiri suaminya. Mencoba untuk tidak menangis saat ditindas oleh suaminya. Zola langsung menarik tangan istrinya dan menghempaskan diranjang.
“Akh!” Arrahma meringis saat kepalanya terbentur kepala ranjang.
“Dengar Arrahma! Tadi itu balasan karena kamu membuatku resah!”
Arrahma mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan apa yang Zola katakan. Akan tetapi ia juga tidak berani bertanya.
Zola merangkak naik keranjang. Membuat Arrahma menggeleng ketakutan.
“Kita main Arrahma!” tersenyum menyeringai seraya menarik selimut.
Untuk menutupi tubuh keduanya. Satu menit kemudian.
“Aa, hentikan hiks!” gadis itu mencoba menyingkirkan kepala suaminya agar menjauh.
“Akhhhhh!” Arrahma memukul kepala suaminya keras. Membuat Zola meringis.
“Aa, cukup hiks! Rahma tahu Rahma salah hiks, tapi bukan berarti hiks!” ucapannya terpotong saat mulutnya dibungkam oleh bibir suaminya.
“Emmmmm!”
“Huaaaaaaaaa!” Arrahma menangis saat suaminya menggigit bibir bawahnya yang sariawan.
“Diam! Kau bisa diam tidak!” bentak Zola sambil menjambak rambut istrinya.
Arrahma meringis menahan sakit. Suaminya benar-benar kejam. Mungkin saja jika telah kehilangan akal, Zola bisa membunuhnya.
__ADS_1
“Sakit Aa, hiks!” Arrahma tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk saat ini hanya pasrah saat disakiti.
“Inl balasan karena kamu tidur sebelum suamimu pulang!” Zola tidak berani menatap mata istrinya. Jika saja itu terjadi pasti ada perasaan aneh dalam hatinya.
“Bangun!” Zola keluar dari selimut kemudian menarik tangan istrinya. Kedalam kamar mandi, lelaki itu mulai menyalakan shower. Air itu mulai keluar. Zola menarik tangan istrinya, tapi Arrahma menggeleng tidak mau.
"Jangan Aa!"
Zola tetap memaksa.
"Lepaskan" Arrahma berusaha melepaskan cengkraman tangan suaminya.
Zola langsung memegang pundak istrinya. Dan menghantam tubuh istrinya ketembok. Membuat Arrahma menjerit kesakitan.
Air shower yang harusnya hanya membasahi tubuh Arrahma. Nyatanya mampu mengikut sertakan lelaki brengsekk yang tadi menyalakannya.
Keduanya termenung saling menunduk. Tangan Zola masih memegang pundak istrinya.
Setetes darah terjatuh di lantai. Memudar saat air dari shower mengguyur. Zola melihat hal itu, membuat dirinya langsung mengangkat kepalanya.
Matanya menatap mata istrinya yang dipenuhi tatapan penuh kekecewaan. Kini matanya mulai menelusuri kebawah. Tangan Zola yang tadi memegang pundak istrinya beralih kebagian hidung. Ibu jari Zola mengusap darah yang keluar dari hidung Arrahma.
“Tidak ada satu bulan aku menjadi istrimu. Aku bisa pastikan statusmu akan berubah menjadi duda ditinggal mati oleh istri” suaranya bergetar, matanya mulai sayu.
Sebelum benar-benar tidak sadarkan diri
'Untuk saat ini aku masih bisa sabar dan berdiam diri. Namun saat kesabaran yang ku miliki telah habis, aku tidak tahu apa yang akan terjadi!' batin Arrahma.
TBC...
__ADS_1