
“Assalammu’alaikum!” Salam dari luar memuat Bao berlari.
“Ayah!” panggilnya saat melihat Asrhaf masuk kedalam rumah sambil menarik koper.
“Tenapa Ayah, tidak pelnah menemui Bao! Saat Bao udah tinggal dengan Popy? Padahal kemalin, saat Bao minta dibelikan mo-chi! Popy bilang, Ayah membelikan aku estim!” protesnya sambil mengambil bola.
Asrhaf tersenyum, memang setelah. Kejadian dikafe, dia bertemu dengan adik kandungnya. Dia ditugaskan untuk survei pabrik baru. Hal ini yang membuat dia, tidak sempat berbincang dengan Arrahma. Kecuali lewat panggilan, itu pun berbicara dengan Bao.
“Tapi, hari ini Ayah bawah oleh-oleh untuk kamu!” ujarnya membuka kopernya.
“Holew, mainan telinci dia bisa berjalan sendili?” tanya Bao jongkok di depan koper Asrhaf.
Asrhaf mengangguk, dan mengajari bagaimana cara membuat boneka kelinci itu berjalan.
“Kakak, maaf aku tidak mendengar! Jika tadi tidak lewat ruang utama!” Arrahma mencium tangan Asrhaf.
“Mau minum apa?” tanya Arrahma. Bao dia lebih fokus dengan mainannya.
“Air saja!”
Arrahma pun meletakkan air dan camilan di atas meja.
“Jujur saja, Rahma ingin berbicara dengan Kakak! Mengenai banyak hal termasuk saat kita berpisah!” Arrahma duduk di depan Asrhaf.
“Bisa Kakak ceritakan?”
Asrhaf mengelap nafas dalam-dalam.
“Waktu .... itu...”
...***...
Hujan deras membasahi jalanan. Membuat pengendara sedikit berhati-hati. Apalagi jika jalanan sedikit berkelok-kelok. Dan pinggirannya sudah jurang. Paruh baya itu, mengemudi sambil berbincang dengan istrinya. Sedangkan dikursi penumpang, ada tiga orang. Baby sitter yang memangku gadis kecil yang umurnya kurang lebih setahunnan dan anak lelaki mungkin sepuluh tahun.
“Akhirnya kita bisa pulang kampung ya Bun!” ujarnya menatap jalanan.
“Iya, Yah! Kakak! Senang nggak kita mau ke rumah Mbah Uty?” Bunda membalikkan kepalanya.
__ADS_1
“Senang dong Bun!” jawabnya songong.
“Lihat adikmu, dia tampaknya pulas banget tidurnya!” Bunda melirik kearah putrinya.
“Shafira hobinya, tidur!” Asrhaf kecil mencubit pipi adiknya.
“Kak! Kenapa tidak pakai sabuk pengaman?” tanya ayah yang matanya menatap kaca spion.
“Hati-hati Yah! Ini jalanya terlalu berkelok-kelok!”
Pengendara truk dari belakang, itu mengantuk. Membuat truk itu menatap mobil yang ada didepannya.
Brakkkk! Mobil yang ada di depannya kehilangan kendali.
“AYAH!” teriak Bunda saat merasa terancam oleh keadaan.
Ayah berusaha untuk mengerem, sayang remnya tidak berfungsi. Membuat Ayah membanting setir ke kanan. Yang justru membuat, mobilnya menatap tiang listrik. Brakkkk. Kepala orang tuanya terbentur keras.
Asrhaf yang tidak memakai sabuk pengaman, tubuhnya membentur pintu mobil. Yang membuat pintu mobil terbuka.
“AYAHHHHHH!” teriak Asrhaf saat tubuhnya terjengkang ke belakang. Membuatnya jatuh dari mobil, dan tubuh kecil itu berguling-guling kedalam jurang.
“Terus bagaimana Kakak, bisa bertemu dengan A Zola? Dan keluar dari jurang?”
“Begini!”
...***...
Tiga hari setelah kecelakaan, tubuh Asrhaf tergeletak di dekat batu besar. Asrhaf kecil mulai mengerjap-ngjapkan matanya. Selama tiga hari ia tidak sadarkan diri. Kepalanya berdenyut, membuat dia meringis.
“AGRHHHHHHHH! IBU KENAPA KAU MENINGGALKAN AKU SENDIRI” teriak seseorang dari atas. Yang terdengar ditelinga Asrhaf. Bocah 10 tahun itu berusaha berdiri. Dan berteriak.
“TOLONG! TOLONG AKU! SIAPA SAJA TOLONG AKU!” teriak Asrhaf berharap ada yang mendengar.
Pemuda tanggung yang berteriak tadi mendengar teriakkan. Akan tetapi dia belum percaya. Jika memang ada orang yang meminta tolong.
“TOLONG! TOLONG! AKU TIDAK BISA KELUAR DARI SINI!” teriaknya lagi yang membuat pemuda yang duduk di atas. Percaya jika ada seseorang yang ada di dalam jurang.
__ADS_1
“APA ADA ORANG?” teriaknya memberanikan diri untuk turun ke jurang.
“YA! KAU MENDENGARKU?” teriak Asrhaf lagi.
“AKU DENGAR! TUNGGU AKU!” teriaknya sambil seluncur dari atas, seperti bermain prosotan anak TK. Setelah setengah jam, pemuda tanggung itu baru menemukan. Seseorang yang meminta tolong, dan Asrhaf memberi tahu di mana keberadaannya. Dengan berteriak.
Dua anak lelaki tanggung itu, berhadapan.
“Kau baik-baik saja?” tanya pemuda tanggung itu.
Asrhaf mengangguk dan memeluk pemuda yang ada didepannya. Dia seolah mencari perlindungan.
Pemuda itu membalasnya.
“Oh, aku Zola!” ujarnya.
“Asrhaf!” jawabnya.
...***...
“Dari situlah kita berteman! Aku yang mengalami trauma karena kecelakaan dan kehilangan keluargaku! Begitu pun dengan suamimu, diwaktu itu dia juga kehilangan ibunya! Kita dipertemukan dengan kesakitan yang sama, yakin akan kehilangan!”
Arrahma terdiam, ternyata dirinya dan Zola sudah saling terhubung sejak dulu. Tapi waktu yang baru mempertemukan sekarang.
“Kayak, kata Abah! Dulu polisi tidak mengetahui keberadaan Kakak! Ternyata Kakak pinsan cukup lama! Ngomong-ngomong kok bisa tahu, tiga hari tidak sadar itu bagaimana?” tangannya Arrahma.
“Seingat ku, kita ingin pulang kampung itu tanggal 11 terus saat aku bertanya kepada suamimu! Ternyata selisih tiga hari, setelah kecelakaan, aku baru sadarkan diri! Aku dan Tuan Zola berusaha mencari keberadaanmu, menyelusuri TKP! Dan bertanya kepada seseorang yang tahu mengenai kecelakaan itu. Dan yang aku tahu jika anak kecil umur setahun, masih selamat! Namun seseorang mengambilnya!” Asrhaf menenggak minuman hingga tandas.
Asrhaf tidak akan bertanya mengenai masa kecil adiknya. Karena ia tahu, adiknya di besarkan dipondok pesantren. Karena Zola sempat bercerita tentang status Arrahma.
“Dik, kira-kira apa yang harus Kakak berikan kepada Abah, dan keluarga! Karena merawatmu! Aku ingin membalas jasanya!”
Arrahma terdiam. “Abah ikhlas, tidak pamrih! Akan tetapi bagaimana jika kita memberatkan mereka naik haji?”
“Boleh! Tapi biayanya yang nanggung kita berdua!”
“Ck, perhitungan! Harusnya Kakak itu mencukupi kebutuhan adiknya!” ujar Arrahma.
__ADS_1
Asrhaf tertawa renyah, melemparkan bantal ke arah adiknya. Yang membuat Arrahma cemberut.
TBC...