Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Doa Untuk Mommy


__ADS_3

Dua bulan kemudian, anak lelaki itu mengerjapkan matanya. Kemudian duduk, melihat ayah dan ibunya masih tertidur pulas. Jam dinding juga baru menunjukkan pukul tiga dini hari. Bao mengangkat kedua tangannya, mendongak sejenak. Kemudian memejamkan matanya. “ Ya Allah! Esemoga dalam pelut Mommy! Ada dedeknya!” Kemudian mengusap wajahnya. Dan mengelus perut ibunya. Kemudian kembali tidur ditengah-tengah.


Bukan tanpa alasan, Bao pernah mendengar ibunya berdoa seperti itu. Itulah mengapa tiga Minggu terakhir, jika dia terbangun dari tidurnya. Dia selalu berdoa kemudian mengelus perut ibunya.


Tak terasa jam subuh sudah datang. Jatah susu! Harus sudah ada.


“Mommy! Mommy! Susu!” teriaknya saat pagi-pagi.


Arrahma selalu menunggu waktu ini, dimana anaknya mencarinya dan meminta dibuatkan susu.


Bao langsung berlari ke kamar lagi, sambil membawa botol susu. Dan akan berteriak lebih keras.


“POPY BANGUNNNNN!” Anak lelaki itu tidak mau melewatkan, duduk diatas punggung beruang.


“Popy! Popy! Popy!” panggilnya dengan tarikan nafas.


Zola hanya pura-pura tertidur saja. Ingin lihat bagaimana reaksi anaknya. Saat dia tidak bangun juga.


“Popy! Showwwwlattt!” ujarnya mencari cara untuk membangunkan ayahnya. Bao tersenyum, kemudian mencabit telinga ayahnya. Berulangkali. Tidak ada respon ia pun menjilati pipi ayahnya. Yang membuat Zola terkekeh tapi tak lantas membuat dia membuka matanya.

__ADS_1


Arrahma dia memberikan isyarat kepada Bao. Untuk menggigit telinga. Anak lelaki itu langsung bereksperimen.


“Agrh!” Zola meringis.


Setelah semua telah siap, merekapun melaksanakan sholat subuh berjamaah. Bao diajari untuk hal ini, anak lelaki itu kadang. Saat ayahnya melakukan sujud, dia ikut. Tapi sebelum ayahnya selesai, dia mengintip. Ternyata belum! Ia pun sujud kembali. Dan saat tahiyat akhir dia akan menjulurkan telunjuknya. Saat ayahnya mengucapkan. Syahadat. Tapi dia menggoyangkan telunjuknya, dalam pikirannya. Mungkin saja, dia bisa mengeluarkan makanan. “Bin sala bin”


Hal yang ia tunggu adalah saat doa. Karena dia bisa teriak-teriak mengucapkan Amin. Dan setelah itu dia mendapatkan ciuman dari orang tuanya.


“Muach! Muach!” Memberikan balasan untuk orang tuanya. Akan tetapi dia suka tertidur, dipangkuan ibunya. Yang sedang mengaji. Bao membenamkan wajahnya di perut ibunya dan bergumam tidak jelas. “Ya Allah! Dedeknya kapan datang? Bial Mommy ceneng!” Dia selalu mengajak perut ibunya bicara.


Sedangkan Arrahma fokus membaca setiap huruf Hijaiyah, dan tangannya membelai rambut anaknya.


Aktivis pagi ini tampak lengang, karena hari Minggu. Mereka memutuskan untuk joging mengitari kompleks.


“Okey siapa takut!” Arrahma memberikan kode kepada Bao. Anak lelaki itu menyatukan jari telunjuk dan jempol. Pertanda tahu maksudnya.


Sedangkan Zola tidak tahu konspirasi yang istrinya lakukan dengan anaknya. Lomba lari kecil itupun dimulai. Arrahma berlari dengan santainya. Sedangkan Zola dia harus sabar, karena Bao selalu menghalanginya. Anak lelaki itu berlari didepannya, jika Zola ke kanan. Bao mengikuti dan jika Zola kekiri dia juga ke kiri.


Zola pun langsung mengangkat anaknya, kemudian diajak lari kecil.

__ADS_1


Bao tertawa kecil dia suka jika digendong.


“Lihat Mommy sudah, jauh!”


“Mommy yang meyuluh Bao, untuk menghalangi Popy!” jujurnya yang membuat Zola melotot.


“Bao ayo lari! Kita harus menang nanti kalau memang Popy beliin mo-chi!” ujarnya menurunkan anaknya.


Mendengar mo-chi membuat dia berpihak pada ayahnya. Ganti haluan.


Kini mereka sudah duduk di taman balai kota. Terlihat ramai! Dalam lomba kali ini tidak ada yang memang. Karena Bao yang jerit-jerit saat melihat penjual es mochi. Membuat kedua orang tuanya harus membelinya.


“Mommy! Lagi!” ujarnya.


“Sudah cukup, jangan berlebihan! Tidak baik Sayang! Mending kita pulang ya?” Arrahma mengusap rambut Bao yang lepek karena keringat.


“Endak mau! Huuuuuu!” Dia menangis memeluk ayahnya. Biasanya ayahnya mudah memberikan sesuatu. Jika dia merajuk.


Zola menggendongnya dan berkata. “Benar kata Mommy, lebih baik kita pulang! Siapa tahu Ayah bawa eskrim!” Ayah yang di maksud Zola ialah Asrhaf. Karena yang Bao tahu dia memiliki dua Ayah sadari kecil.

__ADS_1


TBC...


Terima kasih untuk kalian para pembaca yang berkenaan hadir dalam cerita gabut. Sekian purnama akhirnya, keluarga Zola bahagia. Sehat selalu dan sampai jumpa!


__ADS_2