Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Lelaki Pecundang


__ADS_3

Lelaki itu masuk ke ruang, kerjanya. Duduk, kemudian menyalakan komputernya. Tak selang berapa menit, seseorang masuk stelah mendapatkan persetujuan olehnya.


“Ada beberapa berkas yang perlu di tanda tangani. Sebelum itu pahami dulu!” Adel meletakkan beberapa map didepan Zola.


“Hmmm!”


Adel mengerutkan keningnya, saat melihat wajah Zola yang terlihat lesu.


“Kenapa lu?”


Zola melirik kearah Adel malas.


Krukkkkkkk..


“Lapar? Ini baru jam sembilan Zo!” Adel menatap jam tangan yang melingkar indah ditangannya.


“Berisik! Mending buatin gue kopi sama roti atau apa kek! Buat ganjel perut gue,” gerutunya seraya menggaruk kepalanya. Membuatnya sulit konsentrasi.


“Memang istri lu tadi pagi nggak nyiapin makanan?” Tidak biasanya Zola kelaparan saat baru masuk.


Zola melengos, terlihat kesal.

__ADS_1


“Ada masalah?” tanya Adel penasaran, perawan tua satu ini. Pandai sekali menasihati orang lain. Tapi sulit menasihati dirinya sendiri.


Zola tak bergeming, tangannya mulai mengoperasikan tikus yang terhubung dengan komputernya.


“Saran aku sih, lu yang lebih dewasa harusnya bisa mengemong istri lu yang masih bocah! Istilah lu kan, sudah tahu pahit, asam manisnya kehidupan! Jadi, jangan terlalu keras! Selesaikan masalah dengan perlahan-lahan! Slowwwwww!”


“Kalau gua boleh jujur, gue salut loh sama istri lu. Masih muda tapi bisa mengimbangi diri lu!”


“Bisa, diam nggak! Gue lapar buat ngisi perut. Bukan ceramah dipagi hari!” ketusnya yang membuat Adel segera berlari.


Tak terasa jam berjalan begitu cepat. Sudah waktunya istirahat. Zola beranjak dari duduknya, kemudian masuk kedalam kamar mandi. Dan keluar dengan wajah yang segar. Lelaki itu memutuskan untuk menunaikan sholat dzuhur diruang kerjanya.


“Srhaf! Antarkan aku ke kafe biasanya!” ujarnya sambil memakai sabuk pengaman.


Zola diam, rasanya malu jika mengatakan. Rumah tangganya ada percekcokan.


“Apa ada sangkut pautnya dengan istri Anda?” tanyanya kembali, pemuda itu berpikir, bukannya tadi pagi yang ia lihat sebuah keromantisan.


“Biasalah hubungan, pasti ada cekcoknya!” ujarnya seraya membalas pesan dari seseorang.


Perjalanan hanya membutuhkan waktu lima belas menit dari kantor. Lelaki itu keluar seraya melipat lengan kemejanya.

__ADS_1


“Tuan, duluan saja! Saya ingin ke kamar mandi sebentar!”


“Hem, sepertinya dia juga sudah menunggu ku!”


“Ada janji sama orang?” tanya Asrhaf penuh selidik.


Zola tidak menjawab, lelaki itu langsung melenggang masuk. Setelah sampai didalam kafe, dia mencoba mencari seseorang yang sudah menunggunya.


“Zo!” Perempuan itu melambaikan tangannya. Zola melangkahkan kakinya dan mendekat kearah orang yang memanggilnya. Lelaki menarik kursi untuk dirinya duduk.


Masih satu lingkungan namun beda tempat. Mobil itu berhenti di depan kafe. Beberapa penumpangnya bergegas keluar. Ada lima penumpang, namun yang keluar hanya dua gadis dan lelaki sebagai supir.


“Rahma, lu masuk dulu gih! Sama Gus Imam, gue kebelet pipis soalnya!” Kata temanya.


“Nggak ah!” tolak Arrahma dia tidak mau berduaan dengan lelaki yang bukan mahram. Lelaki yang harusnya jadi suaminya.


“Ini tempat umum Rahma, jadi tidak apa-apa! Kita harus segera kembali ke pesantren, cuma take away doang!” ujarnya berlari kearah kamar mandi. Sedangkan Gus Imam terlihat acuh. Pria itu berjalan mendahului Arrahma.


Namun saat mereka baru masuk ke kafe. Sudah disuguhi pemandangan yang begitu mengundang emosi. Seseorang yang ia kenal, sedang berpegang tangan dengan perempuan. Imam tampak tak suka, melihatnya. Zola terkejut, melihat kedatangan istrinya. Lelaki itu langsung berdiri dan melepaskan, tangan Hanza yang tadi menggenggamnya. Arrahma menatap suaminya penuh kekecewaan, gadis itu langsung membalikkan badannya ingin pergi. Namun langkahnya berhenti, saat Imam berteriak


“BRENGSEK! LELAKI PECUNDANG!” langsung menarik kerah baju Zola.

__ADS_1


Bugh!


__ADS_2