Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Cuitan Pesan Dari Terong


__ADS_3

“Maaf! Yang aku maksud 'Bukan' tadi itu. Tentang hubungan relationship You, with your girlfriend. Bukan hubungan sekss yang seperti kamu ucapkan tadi! Apalagi statusku!”


“Sekarang keputusan ada ditangan Aa, mau ninggalin yang dibutuhkan atau yang kamu inginkan!”


“Jangan berpikir kamu akan mendapatkan keduanya! Karena itu tidak akan terjadi! Aku tidak mau diduakan. Kalau kamu mau pernikahan langgeng, segeralah akhiri pencarian cintamu.”


“Namun, jika kamu memilih pacar kamu. Ya silahkan, aku tidak memaksa! Mungkin kita hanya ditakdirkan untuk bersama sebentar. Selebihnya mari kita mencari jalan sendiri-sendiri!”


“Dan yang kedua aku minta maaf, karena menolakmu. Semua ada alasannya. Dan alasannya ada di Aa, sebagai istri harusnya aku tidak boleh menolak. Tapi sistuasi berbeda aku alami”


“Andai kata, pernikahan kita saat ini seperti pasangan lain. Aku bisa pastikan, kamu tidak akan pernah bilang meminta hakmu.Tapi dengan kelegaan hati, aku sendiri yang akan memberikan. Tanpa kamu minta!”


“Tapi semasa aku menjadi istrimu. Aku akan memberikan hak itu, terlepas dari itu, kau campakkan aku! Tapi bukan malam ini, masih ada waktu untuk melakukan itu.“


“Dan aku berharap, disaat kamu menunggu hakmu! Kamu bisa memutuskan langkah apa yang akan kamu ambil!”


“Ingat! Keputusan ada ditangan Aa! Selamat tidur, aku hanya ingin kau istirahat. Beberapa hari ke belakang, kau terlalu banyak bergadang untuk menyelesaikan pekerjaan!”


“Jangan khawatir aku akan menjaga Ayah;”


Pesan panjang dari Arrahma membuat Zola mengumpat. Saat ingin membalas, ponselnya lowbat.


“Kurang asem!” ujarnya sambil mengecash ponselnya.

__ADS_1


“Bagaimana aku bisa keluar, mau memberi tahu Resepsionis agar ke kamar nyuruh bukain pintu, tapi pakai apa? Arrahma benar-benar menguji kesabaran ku,” Zola menunjuk kasur dengan geram.


“Awas saja kau Terong!”


Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Arrahma sudah ada di dalam ruangan Ayah mertuanya.


“Semoga operasinya lancar, ya Allah!” ujarnya yang melihat wajah pucat Darwin


Penyakit hipertensi yang Darwin derita masuk penyakit kronis jangka panjang yang dapat melemahkan pembuluh darah. Pembuluh darah yang pecah atau bocor, akan mengganggu aliran darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke otak. Bisa membuat sel-sel dan jaringan otak mati. Yang mengakibatkan stroke hemoragik. Pecahnya pembuluh darah sehingga mengakibatkan perdarahan dalam otak. Membuat Ayah mertuanya harus melakukan operasi.


Arrahma yang tadi duduk di samping ranjang mertuanya. Dia memutuskan untuk duduk di sofa bed.


“Alhamdulillah! Nyaman,” ujarnya menyadarkan punggungnya. Yang terasa pegal-pegal.


“Banyak banget kegiatan untuk besok. Ke toko buat ngecek bahan yang harus dibeli. Terus ke pondok buat storan hafalan! Tapi bagaimana mungkin aku meninggalkan rumah sakit. Istilah besok Ayah akan operasi!” Melirik kearah mertuanya.


“Selamat datang di dunia pernikahan yang penuh story puing-puing!”


“Yang harus dijalankan dan dikerjakan! Sepertinya aku tidak akan melanjutkan daftar kuliah!”


Arrahma menghela nafas panjang.


“Hoam!” gadis itu menguap karena menahan kantuk. Seraya menghafal Al-Qur'an.

__ADS_1


Bergeser didepan ruangan Darwin. Asrhaf merasa aneh dengan kejadian istri atasannya.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa sampai sekarang Tuan, tidak balik juga?” Asrhaf mondar-mandir. Sedangkan Hanza sudah pulang saat Arrahma kembali sendirian.


“Hukuman apa yang Tuan, beri untuk Nona? Tapi kenapa, Nona kembali seperti tanpa beban! Dan kenapa nomer Tuan, tidak bisa dihubungi!” Tidak tahu saja jika yang dihukum bukan Arrahma. Melainkan atasannya yang dikunci tidak diperkenankan keluar kamar.


Bugh! Zola sudah terlelap dari jam sepuluh tadi. Lelaki itu tidur tengkurap sesekali tangannya menggebuk kasur mencari sesuatu yang bisa dipeluk.


Lelaki itu terbangun terusik karena mimpinya bertemu ibu.


“Ibu!” Zola bangun dan bersandar.


“Huft! Hanya mimpi, kenapa aku jadi sering memimpikan ibu sejak beberapa Minggu terakhir. Ibu terlihat sangat cantik, berbeda dengan mimpiku beberapa tahun yang lalu. Baju ibu kotor dan lusuh, wajahnya tampak sedih! Saat menatap diriku!”


“Apa arti semua ini?”


Memikirkan hal ini membuat lelaki itu berjalan kearah kamar mandi. Buang air kecil kemudian mengusap wajahnya dengan air.


Tapi entah mengapa hatinya melantunkan niat wudhu, membasuh tangan dan rambut. Seolah alam bawah sadarnya sudah merekam hal ini.


Karena nyatanya perubahan besar itu bermula dari perubahan kecil yang dilakukan secara disiplin.


Bukan tanpa alasan Zola bisa seperti ini, beberapa hari terakhir, Arrahma selalu menyuruhnya untuk wudhu sesudah maupun sebelum tidur. Bahkan gadis itu tidak segan membuntutinya untuk melakukan aktivitas wudhu. Jika dia tidak melakukannya, maka tangan Arrahma bersiap mengelitiki pinggangnya. Yang membuatnya tertawa karena geli.

__ADS_1


Zola jangan lupa balas Terong, karena berani menguncimu. Cabaiin saja biar tahu rasa.


TBC...


__ADS_2