Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Cinta Atau Setia


__ADS_3

Lampu yang remang-remang, membuat suasana semakin sunyi. Dua hari yang lalu, mereka belum meluruskan segala permasalahannya.


“Dalam surat perjanjian, aku berhak menggugatmu! Jika kau ketahuan selingkuh!” Katanya seraya membuka lembaran satu-persatu.


Zola terdiam.


Ruang kembali hening.


“Boleh aku berkata jujur?” tanya Arrahma melirik dengan ekor matanya. Tidak perlu jawaban dari suaminya, diapun mengatakan unek-uneknya.


“Terlalu egois! Disaat aku yang melakukan sebuah kesalahan! Kau tidak mau bertanya, apa alasan aku melakukan semua itu! Jangankan bertanya!”


“Saat aku me-mintanya!” Sedikit penekanan.


“Aa, tidak mau memberikan! Kesempatan, agar aku bisa meluruskan permasalahan ini!” Arrahma menahan sesak di dadanya.


Memiliki suami seperti Zola, butuh hati yang luas.


“Dan aku juga tidak suka dengan sikapmu. Yang mencampur adukkan, permasalahan dengan tugas ku sebagai seorang istri!”


Zola tidak berani bersuara, dia tahu dia salah.


“Kalau marah, karena aku buat salah. Jangan mesekors, diriku dengan cara kekanak-kanakan! Tidak mau makan masakan istri! Kamu pikir itu benar?” tanyanya menatap suaminya dengan tatapan tajam.


“Kamu pikir itu tidak menyakiti perasaanku. Sebagai seorang istri, hah?”

__ADS_1


“Baiklah, untuk kasus ini! Aku akan berdamai denganmu! Rahma akui, apa yang aku lakukan itu salah. Karena menggunakan pil kontrasepsi, tanpa se izin Aa!”


“Dan, Aa juga harus mau mengakui bahwa Aa, juga salah! Untuk menyikapi, kesalah yang Rahma buat!” Tegas Arrahma. Ternyata memiliki istri seperti Terong, mampu membuat Zola diinterogasi. Tapi lebih tepatnya, membacakan pernyataan tentang kesalahan yang dilakukan.


“Kita anggap permasalahan ini sudah, clear! Tapi, bagaimana dengan kesalahan yang kamu lakukan. Di kafe dengan perempuan itu?” tanyanya dengan nada tinggi.


Kembali lagi, Zola merasa terpojok. Padahal tadi sempat bernafas lega.


“Aku menemuinya bukan tanpa alasan!” Terdengar lebih pelan, ketegasan yang biasanya ada. Sedikit luntur.


Jangan percaya, ini hanya trik agar istrinya tidak marah.


“Tentu saja! Pasti alasannya banyak, mulai dari kangen, cari yang segar-segar karena yang dirumah tidak segar. Dan mungkin, belaian perempuan lain. Terasa nikmat, karena jarang dirasakan. Istilahnya cari suasana yang berbeda!” sindiran Arrahma membuat Zola membelalakkan matanya lebar.


“Arrahma!” pekik Zola mendengar sindiran istrinya.


“ Itu tidak seperti yang kau lihat! Sebenarnya, aku menemuinya karena ingin memutuskan semua hubungan yang salah itu! Tapi disaat yang bersamaan kau datang. Kau salah paham, sebenarnya aku ingin pergi, tapi dia memegang tanganku! Dan yang benar itu, aku mencoba melepaskan tangannya yang menggenggam tanganku! Bukan saling menggenggam!” Penjelasan yang Zola berikan membuat Arrahma meyeka air matanya. Memiliki suami yang dulunya mantan playboy, ternyata butuh perjuangan. Dan hati sekuat baja.


“Aku lelah, dengan semua ini! Kamu terlalu banyak main-main, dengan masalah rumah tangga! Aku pikir kamu sudah putus, sejak dulu menanda tangani surat perjanjian ternyata tidak!” Arrahma mengelap air matanya yang membasahi pipinya.


“Dari menikah hingga sekarang! Kamu tidak pernah mengatakan jika kamu mencintaiku! Kamu hanya bilang tetap bersamaku!”


Zola menghela nafas panjang, seumur hidupnya. Dia tidak pernah mengutarakan cinta kepada siapapun. Baginya perilaku sudah bisa mewakili perasaan cinta itu sendiri. Bagaimana dia bersungguh-sungguh menjadi pasangan yang baik. Memanjakan pasangan, bukankah itu sudah bisa dibilang cinta.


Ah ... Nyatanya wanita lebih suka, jika di lisankan ketimbang sebuah upaya untuk membahagiakannya.

__ADS_1


Zola menarik tangan istrinya, dielus-elus biar membangun kenikmatan.


“Aku memiliki dua pilihan! Rahma pilih salah satu saja! Antara cinta dan kesetiaan mana yang Rahma pilih?” tanya sambil menyingkirkan anak rambut istrinya.


Arrahma terdiam.


“Cinta itu bisa berkurang. Dan kapan saja bisa berubah atau bahkan hilang tanpa bekas! Sama halnya dengan rasa benci menjadi cinta, pun sebaliknya! Karena rasa itu magical yang tidak sepenuhnya ada dalam kendali kita! Sedangkan kesetiaan itu sebuah komitmen yang kita buat. Dan kendali ada ditangan kita.”


“Salah satunya adalah disaat rasa cinta sudah hilang! Namun kamu memilih tetap bersamanya, dan berusaha menumbuhkan rasa cinta itu lagi! Terus kamu memilih untuk berkomitmen pada dirimu, untuk tetap bersamanya apapun yang terjadi. Ini disebut kesetiaan!”


“Sekarang kamu pilih yang mana?” ujarnya mencolek dagu istrinya.


“Dua-duanya!” jawabnya malu-malu.


“Hanya satu!” tegasnya mencubit pipi Arrahma gemas.


“Aku mau Aa, mencintai aku! Dan berjanji setia padaku!”


“Kemaruk itu namanya!” sergah Zola menarik tubuh istrinya, kepelukkannya.


“Biarin sekali-kali!” Arrahma sudah melupakan kemarahan yang tadi sempat meledak.


“Senyumnya mana? Senyumnya!” Zola meminta istrinya untuk tersenyum.


Terlepas dari baik-buruknya prilakunya terhadap Arrahma.

__ADS_1


Zola termasuk suami yang bisa membujuk istrinya. Dengan cara-cara yang tidak terpikirkan oleh Arrahma. Seperti tempo lalu saat Arrahma cemburu karena Nantysa mencium pipi suaminya.


TBC...


__ADS_2