
Sore harinya Zola menghadiri undangan seminar dari fakultas ternama.
“Assalamualaikum! Dan selamat sore buat seluruh mahasiswa universitas SMRZ! Senang bisa diikut sertakan dalam acara sore ini!” ujarnya tegas seperti taipan sukses dinegaranya.
Seluruh mahasiswa itu menyambut dengan antusias. Sorak tepuka,n maupun jawaban salam terdengar menggelegar. Membuat Zola mengangguk. Ada yang beda dari seminar-seminar yang dulu— ternyata ini kali pertama dia mengucapkan salam.
“Banyak orang beranggapan jika ingin sukses dan berhasil harus melakukan. Beberapa cara, seperti jangan pernah menyerah, jangan pernah berhenti mencoba, gigih melawan rintangan dan selalu percaya diri!” Zola memberikan jeda sejenak.
“Akan tetapi hal itu tidak dengan saya! Saya berpikir keberhasilan dan kesuksesan yang saya dapatkan. Bukan karena hal yang saya sebutkan di atas!”
“Melainkan, saya tahu siapa diri saya! Saya menerima kekurangan yang ada dalam diri saya! Dan saya selalu jujur tentang diri saya!” Zola menghela nafas sejenak. Dia bersyukur seminar sore ini tidak terlalu riuh.
“Kalian pasti tahu siapa Zola! Dia adalah lelaki brengsek yang mungkin Anda pernah kenal! Lelaki yang sering minum, mengencani beberapa wanita setiap malamnya!” Kata Zola terus terang, ya inilah yang selalu Zola katakan saat mengisi seminar. Dia tidak pernah malu untuk mengatakan keburukannyadidepan publik. Hal ini yang membuat fakultas-fakultas ternama menggandrungi dirinya. Untuk menjadi tamu yang mengisi seminar. Karena dia berbeda dari yang lain.
“Meskipun demikian, ada beberapa nilai-nilai yang saya pegang dalam kehidupan saya!”
“Salah satunya saya tidak mau membohongi customer saya! Saya akan bertanggung jawab, jika barang yang mereka beli rusak! Yang kedua ini masalah pribadi saya, se— b*****t apapun saya. Saya tidak mau melakukan sekss bebas. Karena saya tahu itu merugikan saya!”
“Saya berpikir saya bekerja untuk kesejahteraan saya dimasa depan. Saya tidak bisa egois untuk kehidupan saya!”
“Saya tidak bisa menggadaikan kebahagian saya dimasa mendatang. Hanya untuk mendapatkan kenikmatan sementara. Kenikmatan bercinta dengan para gadis bahenol!”
Semua bertepuk tangan, nilai yang Zola pegagan patut dijadikan contoh.
“Dan ya, saya sukses karena. Saya selalu menjadi diri saya. Saya tidak pernah mencoba untuk menjadi orang lain.”
“Akan tetapi—sehari yang lalu! Saya menjadi bukan diri saya. Tepatnya saat bersama istri saya.” Katanya yang membuat anak muda tertantang jika membahas percintaan.
“Baiklah, melihat wajah kalian yang sumringah, saat saya menyebut nama istri Saya akan bercerita sedikit tentang rumah tangga saya.”
“Jika kalian beranggapan saya adalah seorang lelaki yang sukses di bidang bisnis yang saya geluti mungkin Anda benar. Namun kesuksesan yang saya dapatkan, dalam bidang itu! Tidak bisa menjamin saya, untuk sukses menjadi kepala keluarga. Saya berterima kasih kepada Tuhan! Terlah mempertemukan saya dengan istri saya.”
“Entah bagaimana rumus jodoh, saya tidak tahu. Katanya yang baik ketemu yang baik. Tapi nyatanya ini tidak bagi saya dan istri saya,” Zola begitu antusias saat menceritakan tentang rumah tangganya. Pun dengan para mahasiswa. Tidak sabar untuk mendengarnya.
__ADS_1
“Kalian semua tahu siapa saya? Pasti kalian akan menjawab lelaki b******t sedunia. Ya, saya akuin itu!” Membuat semua mahasiswa terkekeh.
“Akan tetapi pasangan saya, dia itu bak penghuni langit sedangkan saya, jika kalian menyebut saya penghuni bumi! Kalian salah.” Katanya seraya mondar-mandir.
Yang membuat mahasiswa terdiam.
“Saya beranggapan, jika saya adalah rayap dalam tanah. Itupun tanah, yang paling dalam. Bayangkan ...Bagaimana logikanya penghuni langit yang ada di atas bisa berjumpa dengan rayap yang ada didalam tanah/ liang lahat!!”
“Kalau tidak alam Semesta yang menyatukan!”
“Hal ini membuat saya berpikir bahwa ilmu biologi, sosiologi, astronomi maupun fisika. Yang saya pelajari saat saya masih sekolah sampai perguruan tinggi Terlihat kurang, karena saya tidak mau mempelajari ilmu teologi! Saya katakan! Saya Sungguh Menyesal!”
Membuat sebagian mahasiswa merenungkan ucapan taipan tampan itu.
“Untuk anak-anak muda, saya berpesan. Apapun cita-cita Anda, mau jadi dokter, mau jadi pilot, mau jadi guru ataupun yang lain. Tolong pelajari firman-firmanNya! Karena Allah, telah menurunkan Al-Qur’an untuk dijadikan petunjuk dan pengetahuan umum kita!”
“Jadi Dokter, dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan bagaimana air mani bisa menjadi bayi. Hal ini dijelaskan surat Al-Mu’minun! Maaf saya lupa ayatnya! Karena saya hanya mendengar cerita dari istri saya. Dan satu lagi yang saya ingat, bagaimana awan itu bisa bergerak, terus bagaimana pula air hujan turun tapi tidak menggenang di bumi ini. Jujur saya tertarik untuk mempelajari Al-Qur’an!”
“Oh, iya saya lupa! Tadi kan saya ingin bercerita tentang diri saya! Yang harus menjelma sebagai orang lain.”
Seluruh mahasiswa menggeleng pelan.
“Adik saya mencium pipi saya. Kalian para lelaki pasti setuju jika saya mengatakan. Jika perempuan itu makhluk paling pencemburu.”
Jawaban pro dan kontra antara mahasiswa lelaki dan perempuan. Membuat Zola menggeleng.
Sudah diduga.
“Okey-okey!” Zola menghentikan perdebatan yang terjadi.
“Nah, istri saya pun juga wanita normal. Dia bisa cemburu sama seperti yang lain!”
“Awalnya saya tidak tahu, kenapa marah! Eh, ternyata setelah beberapa menit terdiam! Dia menangis dan bertanya kenapa saya diam, saat dicium adik saya. Lah apa salahnya, orang kita saudara. Eh, bukanya meredam marah tambah marah”
__ADS_1
Mahasiswa tertawa renyah membuat Zola geleng-geleng kepala.
“Nah kalau cemburu pacar kalian itu suka mengungkit-ungkit hal yang tidak perlu diungkit nggak sih? Yang jawab harus cowok!” tanya Zola yang membuat Asrhaf yang duduk di kursi undangan menutup mulutnya menahan tawa.
“WAHPARAH!” jawab mahasiswa lelaki .
Sedangkan mahasiswa wanita tidak terima mereka bersorak kearah para lelaki.
“Berati kita senyawa!” ujar Zola TOS dengan salah satu mahasiswa lelaki.
“Istri saya juga begitu, marah karena saya punya nama sayang untuk adik saya. Lah bukanya, saya juga punya nama sayang untukmu? Kata saya! Eh, bukannya baik saya malah dibentak!”
“Maksudnya! TERONG?” Zola menirukan ucapan Arrahma. Yang membuat semua terbahak-bahak. Sedangkan Zola menutupi wajahnya sendiri, dia ingin tertawa.
“Saya yakin, kalian bubar dari seminar ini! Pandangan kalian tentang saya, bukan hanya lelaki b*****t yang berkencan dengan wanita bahenol setiap malam. Titelnya bertambah menjadi suami b******n yang memanggil istrinya Terong!”
Tawa kembali menglegar lokasi seminar.
“Tapi saya minta, tolong jangan ditiru. Karena mengidolakan saya, Anda berpikir untuk seperti saya. Ah, Zola ..
Manggil istrinya dengan sebutan terong. Terus kalian berinisiatif untuk memanggil pacar Anda toge!”
Gerrrrrrrrr mahasiswa pada ngakak tidak terkecuali para dosen.
“Nanti kalau pacarannya tanya. Kenapa manggil toge? Terus Anda jawab, karena kamu pendek. Jangan salahkan saya, jika Anda diputusin karena telah menjadikan saya. Sebagai role model yang memanggil pasangannya dengan nama sayuran!”
“Kita kembali ke cerita saya dan istri saya. Singkat cerita, saya berpikir bagaimana cara membujuknya. Saya pun menjelma sebagai suami yang mengayomi. Karena istri saya, suka dengan lelaki yang mengayomi. Istri saya seorang novelis, sekarang dia menulis tentang ustadz yang baik hati. Beda karakter dengan saya, yang temperamental!”
“Dan diwaktu itu, saya terpaksa harus memvisualisasikan si ustadz yang ada di novelnya. Saya tarik tangan istri saya, kemudian dia duduk di pangkuan saya. Dan itulah seorang Zola menjadi orang lain bukan dirinya.”
“APA DIA BEGITU ISTIMEWA? Bisa membuat Anda menjadi seorang tokoh novel? Tanpa ia minta?” tanya mahasiswa yang duduk barisan paling belakang.
Yang membuat Zola menatapnya. Lelaki itu mengangguk pelan. “YA! DIA ISTIMEWA!” tegasnya yang membuat Zola mendapatkan apresiasi tepuk tangan dari semua.
__ADS_1
TBC...