Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Wes Anggel


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 10 siang. Saatnya pulang, sekolah. Arrahma menggandeng tangan anaknya. Menuju mobil, namun Bao tidak mau beranjak dari sana.


“Kenapa Sayang?” tanya Arrahma menatap anaknya.


“Bao mau ke kannntol Popy! Bao mau main sama Popy!” jawabannya. Dengan mimik wajah yang imut.


“Kan, kemarin sudah! Sekarang kita pulang! Bao harus istirahat!” Arrahma berjongkok di depan anaknya.


“Popy-popy-popy!” Bicaranya cepat dia menggeleng tidak mau.


Arrahma menghela nafas berat, harus sabar.


“Sayang! Hari ini Popy, sedang mengecek pabrik! Itu berarti tidak ada di kantor!” jelasnya lembut.


Bao menangis, pasalnya tadi pagi. Dia tertidur setelah subuh, yang membuat dia. Tak ikut memberi makan Mowelle dengan ayahnya. Padahal qulity time pagi hari dengan ayah yaitu ngasih makan Mowelle dan melatih Mowelle berbicara, eh bukan. Maksudnya berkicau.


Melihat anaknya menangis serta jerit-jerit. Arrahma mengangkat tubuh Bao.


“Popy hiks!” Arrahma mengelap air mata anaknya. Gadis itu berjalan kearah parkir.


“Cup! Cup! Nanti ini kita video call Popy! Oke?” hiburnya, yang disetujui oleh anaknya. Arrahma masuk kedalam mobil. Meminta sipil untuk segera melajukan mobilnya. Serta mengirimkan pesan kepada suaminya. Satu menit kemudian ponselnya berdering.


Suaminya menelpon.


“Halo! Bao kau merindukan Popy?” tanya Zola melambaikan tangannya kearah anaknya. Lelaki itu juga ada didalam mobil.


Bao mengangguk.


“Popy! Kapan puang?” tanya bersandar ditubuh istrinya.


“Emmmm, mungkin nanti malam Sayang! Bao, apa yang diajarkan guru hari ini!” Mempunyai anak membuat separuh waktunya untuk istri jadi berkurang. Tapi bagaimanapun pasangan itu, bisa mencuri waktu untuk bermesraan. Tanpa gangguan.


“Nyanyi! Bagaimana Mommy?” Mendongak menatap mata ibunya.

__ADS_1


“Kalau kau suka, hati tepuk tangan!” pancing Arrahma, dan anak lelaki itu langsung menyahut. Membuat Zola tersenyum, dengan ingatan Bao yang cukup bagus.


Anak lelaki itu sedang mengoperasikan mobil mainan. Dengan remote control yang ada ditangannya. Bao selalu menatap pintu utama. Ayahnya tidak datang juga, padahal sudah malam. Dia juga mengantuk.


“Mommy! Popy tenapa belum puang?” tanyanya berjalan kearah dapur. Disana ibunya sedang mencuci piring.


Arrahma menatap anaknya. “Sebentar lagi Sayang!”


“Sebental-sebetal lagi telus! Dali tadi!” protesnya. Karena ibunya selalu bilang bentar lagi sayang.


“Aku esuda ngantuk! Tapi Poppy ndak puang jugak!” ujarnya mengucek matanya yang tinggi 5 watch.


“Ya sudah Bao tidur dulu, nanti kalau Popy pulang! Mommy bangunin!” ujarnya memberikan susu untuk anaknya. Anak lelaki itu langsung nurut masuk kedalam kamar. Masih satu lingkup dengan kamar orang tuanya. Tapi dia dibangunkan kamar sendiri, pintu masuk kamar Bao. Ada didalam kamar orang tuanya. Jika Bao menangis Arrahma bisa langsung menemui anaknya. Tanpa perlu harus keluar kamar.


Jam sembilan Zola baru pulang, lelaki itu duduk di sofa sambil melepaskan dasinya.


“Bao sudah tidur?” tanya Zola saat istrinya mendekat sambil membawa teh hangat.


“Hemmm!”


“Rahma! Tadi Bao nyanyi apa, coba reffnya sedikit!”


Arrahma mengerutkan keningnya, ada angin apa suaminya mau menyanyi lagu anak-anak.


“Lupa!” jawabnya ketus.


“Bohong!” Zola mencubit pipi istrinya.


“Emang kenapa?”


“Mau aku cover!” jawabnya penuh keyakinan, dan senyuman jahil.


“Kalau—“ Zola segera memotong. Dia sudah ingat. Lelaki itu menangkup wajah istrinya. Dan mulai mengcover lagu.

__ADS_1


“Kalau kau suka istri, cium pipi!” Zola mencium pipi Arrahma.


“Kalau kau suka istri, mari dilakukan! Kalau kau suka istri cium pipi!” Lelaki itu mencium pipi istrinya bolak-balik. Yang membuat Arrahma tertawa terhibur.


“Kalu kau suka istri cium kening!” Kembali memberikan ciuman di kening. Sebanyak 3X nyanyian.


“Kalau kau suka istri, cium bibir! Kalau kau suka istri, mari kita lakukan! Kalau kau suka istri cium bibir!”


“Kalau kau suka istri mari kita lakukan! Kalau kau suka istri lakukan semuanya!” Pertama Zola mencium kedua pipi istrinya, dilanjutkan ke kening diakhiri dengan cuci mulut yang berbeda.


“Seneweng!” ujar Arrahma, yang salah tingkah.


“Mau dinyanyikan lagi?” goda Zola.


“Nggak kayak anak kecil saja!” grutu Arrahma.


“Tapi kamu suka kan?” Zola mengedipkan sebelah matanya.


“Geli iya!”


“Kalau kau suka suami, ajaklah dia bercinta di...” ujar Zola yang mendapatkan lemparan bantal.


“Aa!” jerit Arrahma saat suaminya mengangkat tubuhnya.


“Tak gendong ke kamar mandi! Enak to? Mantep to?” Kata Zola yang membuat Arrahma Membekap mulutnya.


“Jangan cover lagu sembarangan!”


Zola terkekeh geli.


TBC...


Bayangkan jika Bao dengar, dia pasti mengikuti. Apalagi saat guru menyuruhnya nyanyi didepan . Pasti .... pasti .... ibunya malu. Karena nyanyian itu hanya khusus orang seneweng seperti Zola.

__ADS_1


Wah besok Bao, kalau guru mengajari menyanyi jangan bilang ke Popy takutnya kumat.


Wes Anggel....


__ADS_2