
“MOMMY BUKAK!”
Dug! Dug! Dug! Gedoran pintu dari kamar Bao. Arrahma langsung terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam beru pukul tiga dini hari.
“MOMMY! POPY!” teriaknya lagi.
Arrahma mengguncang bahu suaminya yang masih tertidur pulas. “A, bangun A!” panggilnya pelan.
Tapi suaminya itu tidak berkutik sama sekali.
“Aa bangun!”
“Emmmmmm, ada apa sih?” tanyanya mengucek matanya.
“Bukain pintu untuk Bao, aku mau mandi!” ujarnya berlari kearah kamar mandi. Sudah tahu lah para pembaca mereka ngapain.
Sampai detik ini, Arrahma tidak pernah memakai baju seksi didepan anak angkatnya. Apalagi menemui Bao dalam keadaan memakai kimono. Baginya ini perlu dilakukan. Begitupun dengan Zola, dia selalu menolak. Jika Bao meminta mandi bersamanya tanpa sehelai benang.
Zola membuka pintu, anaknya memasang wajah cemberut.
“Kenapa lama Popy?” tanyanya menatap seisi kamar orang tuanya.
“Emmmmm!” tampak berpikir keras, alasan seperti apa yang harus ia berikan.
“Popy, kenapa tidak pakai baju?” tanyanya ingin tahu.
“Oh, tadi dilepas Sayang! Gerah!” ujarnya menjadikan tangannya sebagai kipas.
“Gelah?” Bingung. “Bukannya AC nya hidup?”
__ADS_1
Zola memukul kepala belulang-ulang. Kenapa Bao begitu pintar.
“Ah, Bao kau mau minum susu?” Alihkan pembicaraan yang membuat Bao lupa.
“Tidak!” Menggeleng kepala. “Popy jawab, bukannya AC nya hidup? Tenapa Popy bilang gelah?”
“Emmmm, tadi lampunya padam!”
“Masa? Kok aku ndak tau!”
“Kamu tidur Sayang!”
Mungkin perdebatan antara ayah dan anak harus dihentikan. Karena memasuki adzan subuh. Mereka pun sholat berjamaah.
“Halo apa ada olang di sana?” tanya Bao ke perut ibunya. Anak lelaki itu meletakkan telinganya diperut ibunya. Hal ini membuat Arrahma dan Zola saling menatap.
“Popy!” Menyuruh ayahnya berjongkok di depan ibunya.
Zola pun mengikuti anaknya. “Apa ada orang di sana?” Zola meletakkan telinga diperut istrinya.
Dan krukkkkkkk! Bunyi itu membuat Zola tertawa. Sedangkan Arrahma dia, malu.
“Kamu lapar?” tanya Zola, Arrahma diam dia mencoba mengingat-ingat.
Perempuan itu berlari ke kamar mandi. Lima menit kemudian.
“Aa!” panggilnya yang membuat Zola lari kedalam kamar mandi. Bao mengikuti.
“Ada apa?” tanya Zola.
__ADS_1
Arrahma yang tadi menyembunyikan kedua tangannya di belakang. Kini dia menunjukkan satu benda. Yang membuat tangan Zola terulur mengambilnya.
Matanya tak percaya, yang benar saja. Ini seperti sebuah kejutan dipagi hari.
“Kamu hamil Sayang?” tanya Zola menatap taspeck garis dua. Kemudian menatap istrinya. Arrahma mengangguk haru. Zola memeluk tubuh istrinya. Dicium beberapa kali.
Bao yang melihat hal itu cemburu, karena tidak dapat cium. “Popy! Sama Mommy aku nggak di ajak ciuman!” merajuk.
Yang membuat pasangan itu, mengalihkan pandangannya. Mereka tertawa karena ulah Bao. Zola pun menggendong anaknya. Dan memberi ciuman.
“Bao, kenapa kamu bisa berimajinasi, jika diperut Mommy ada bayi?” tanya Arrahma mencium tangan mungil anaknya.
Menggeleng kepala. Kemudian tersenyum dan mencium pipi Arrahma.
“Kau anugerah bagi kami Sayang! Bao akan jadi Abang!” Arrahma tersenyum tulus.
“Holeewwww!” Dia bertepuk tangan.
“Kamu sudah telat beberapa Minggu, kok sampai lupa tanggal bulanan?” tanya Zola.
“Entahlah, kenapa aku bisa melupakan tanggal datang bulan! Sungguh aku sangat ceroboh! Tapi tunggu, aku sudah memberikan tanda di kalender!”
Arrahma segera mengecek.
“Dua Mingguan A!”
“Yasudah mending nanti kita cek ke. Dokter kandungan! Biar lebih akurat!"
TBC...
__ADS_1
...Tak ada yang bisa saya katakan kecuali berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa! Yang telah membantu saya menyelesaikan novel ini. Tak terkecuali bagi pembaca, terima kasih atas kunjungan kalian. Meluangkan waktunya untuk membaca cerita saya. Yang berantakan! Saya senang bisa bertemu dengan kalian di sini. Yang membuat saya bahagia dan terbayarkan adalah komentar kalian semua. Terima kasih untuk semuanya! Maaf banyak kekurangan! See you next time! ...