
Pagi yang tampak berbeda, di kediaman Kong Can. Apalagi bagi pembantu di rumah itu. Seolah mendapat sebuah hadiah Natal dari Santa Claus. Karena mendapat kesempatan untuk memasak bareng dengan Tuan Zola. Meski si Predator, tidak menampakkan raut wajah yang ramah. Dia hanya fokus dengan masakannya.
“Wuih, ternyata ada pasukan baru di dapur!” Adel melangkahkan kakinya masuk dapur.
Zola tak bergeming.
“Untuk siapa?” tanya Adel seraya menuangkan air dari galon ke gelas.
Zola melirik saudara tirinya malas.
Sedangkan Adel melangkahkan kakinya kearah Zola. Dan mengambil daging kribo (daging dibentuk bulat, dicampur dengan mie mentah)
Ingin memasukkan kedalam mulutnya, yang membuat Zola geram. Lelaki itu membenturkan pisau ke cutting board.
TAK! Membuat semua penghuni dapur terkejut.
“Kembalikan, aku masak bukan untuk perawan tua sepertimu!”
Bukannya mengikuti perintah kakak tirinya, Adel justru mengunyahnya cepat. Kemudian terkekeh kecil.
“Lezattt!” Adel menyatukan jari jempol dan telunjuk.
“Kurang asem,” ujar Zola kesal, padahal dia berharap orang pertama yang mencicipi masakannya adalah istrinya.
Meskipun Zola selalu berkata kasar padanya. Adel tidak pernah menyerah untuk dekat dengan Zola seperti saudara tiri yang saling menghargai.
Perempuan yang umurnya tiga tahun lebih muda darinya. Mengambil tiga goreng daging kribo, kemudian meninggalkannya dengan tawa renyah. Karena berhasil membuatnya kesal.
“Istri lu cantik, masih muda! Lu beruntung mendapatkannya.” Adel berjalan mundur, sambil mengunyah makanan. Membuat omongannya tak terlalu jelas.
“Tapi tidak tahu dengan dia, yang mendapatkan perjaka tua sepertimu hahahaha!” Adel geleng-geleng kepala, jujur ini kali pertama dia bicara dengan Zola sangat santai. Ejekan demi ejekan yang ia lontarkan, tak lantas membuat Zola marah padanya.
__ADS_1
“Ini tidak adil bukan?” Adel melangkahkan kakinya keluar dapur. Namun sebuah suara menghentikan langkahnya. “Ada yang ingin aku bahas, temui aku dibelakang rumah jam sembilan.”
Adel mengerutkan keningnya heran, apa yang akan dibahas Zola, masalah kerajaan kah. Tidak mau banyak tanya, Adel mengacungkan jempol sebagai persetujuan.
Setelah masakannya selesai, Zola memutuskan untuk ke kamarnya. Tadi malam jam setengah tiga, tubuh istrinya lebih panas. Membuat dia terjaga sampai pagi.
Zola membuka pintu kamarnya pelan, dilihatnya istrinya masih tertidur. Lelaki itu meletakkan nampan berisi makanan di atas laci. Kemudian memegang kening istrinya, dengan telapak tangan.
“Syukurlah, panasnya sudah turun!”
“Rahma bangun, makan minum obat. Nanti istirahat lagi biar sembuh!” Zola menggoyang pundak istrinya pelan.
Dua kali, tidak bangun juga. Akhirnya yang ketiga baru bangun. Zola membantu istrinya bersandar di kepala ranjang. Kemudian dia duduk di samping istrinya, seraya mengambil mangkuk isi soto.
Sedangkan Arrahma terlihat bahagia. Dibalik ke tidak berdayannya. Ada sosok lelaki yang keras menjelma sebagai pangeran penuh perhatian. Apalagi saat melihat suaminya, meniupi nasi dan sayur dalam sendok. Kemudian mengecek apa masih panas, dengan menjilat ujung sendok. Kemudian mengarahkan kearah mulut istrinya.
“Aaaaaa!” ujarnya meminta Arrahma membuka mulutnya.
“Maaf, sebelumnya bukan bermaksud menggurui. Atau apa, sebaiknya saat makanan masih panas. Alangkah baiknya ditunggu sampai dingin. Atau ... jika memang buru-buru, kita bisa kipasi terlebih dahulu! Dari pada ditiup,” ujarnya pelan takut jika suaminya salah paham.
“Kenapa? Kamu takut tertular penyakit, karena saya meniup makanan ini?” tanyanya datar, meskipun demikian Zola tetep menyuapi makanan untuk istrinya. Arrahma menerimanya kemudian mengunyahnya perlahan-lahan. Setelah tertelan dia menjawab. “Tidak! Ini hanya adab makan saja!” jawabnya.
Setelah membantu istrinya untuk minum obat. Zola memegang kedua tangan istrinya lembut. Mata keduanya saling bertatapan. “Rahma, aku meminta apapun yang terjadi padaku. Suatu saat nanti, aku ingin kau tetap bersamaku!”
“Aku bukan lelaki baik, aku banyak kekurangan! Aku mungkin tidak bisa menjadi suami, yang lembut dan perhatian. Seperti kebanyakan suami diluar sana. Tapi, aku ingin kamu selalu ada di setiap langkahku.”
“Aku ingin kau menjadi pengingat untukku, disaat aku melakukan sebuah kesalahan. Aku ingin kamu, menjadi pengendali, disaat aku emosi, karena aku tak mampu mengendalikan diriku sendiri!”
Arrahma berusaha menahan tangisnya karena perkataan suaminya.
“Maaf! Maaf atas apa yang pernah aku lakukan padamu. Aku tahu, ini tidak mudah bagimu. Tapi jika aku tidak minta maaf padamu sekarang. Aku tidak tahu, apa kesempatan akan datang untuk yang kedua kalinya? Atau tidak?” Zola mengelus pipi istrinya dengan tangan kanan. Sedangkan yang kiri menggenggam tangan Arrahma.
__ADS_1
Zola terbawa oleh suasana, meski mata tidak mengeluarkan ilu. Berbeda dengan Arrahma yang sudah tersedu dan meneteskan air matanya. Yang membuat ibu jari Zola mengusapnya lembut. Kening keduanya saling menempel. Arrahma yang menangis dan Zola yang diam. Sebelum mengatakan sesuatu yang harus dikatakan. “Tetaplah bersamaku, sampai waktu yang memisahkan Arrahma istriku!”
Arrahma mengangguk dalam tautan kening. Dia bersyukur karena kebahagiaan kini bersama dengannya.
Zola memeluk istrinya, sedangkan Arrahma menangis dalam pelukan Zola.
...Pada intinya hidup hanyalah rentetan masalah, yang tidak ada ujungnya. Solusi terhadap satu masalah hanya akan menciptakan masalah lain. Mark Manson!
...
Zola memang mendapatkan solusi untuk hubungannya dengan Arrahma. Akan tetapi, masalah lain. Sudah menunggu didepan.
TBC...
Petualangan kedua dimulai...
Masalah Rasa ✓ sudah clear. Tinggal nunggu Aa,
bilang cinta yo!
••••••••• (Kira-kira apa ya?)
__ADS_1