Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Aa, Hilang


__ADS_3

Asrhaf melirik kearah atasannya, dahinya berkerut penuh tanya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan atasannya dan Arrahma.


“Apa yang terjadi sebenarnya, Nona pingsan sedangkan baju Tuan Zola basah! Dan mengapa tadi aku disuruh untuk membeli pakaian Nona!” gumam Asrhaf matanya melirik kearah Zola. Yang hanya diam sambil menyandarkan kepalanya didinding rumah sakit.


Pintu ruangan inap terbuka, lelaki itu segera berdiri dari duduknya untuk menanyakan keadaan Arrahma. Setelah Dokter menjelaskan, lelaki itu langsung masuk ke dalam ruangan istrinya.


Lelaki itu hanya memandang wajah pucat istrinya. Kebetulan Arrahma tidak memakai cadar karena Dokter yang merawatnya perempuan.


Satu jam kemudian, mata Arrahma mulai terbuka. Gadis itu mengerutkan keningnya saat melihat atap berwarna putih.


“His, kepalaku sakit!” ujarnya seraya memegang keningnya yang berdenyut.


Pintu kamar mandi terbuka, mengeluarkan sosok pria dengan wajah dingin. Arrahma langsung melengos, saat teringat kejadian di hotel.


“Sudah bangun?” suara besar itu memenuhi pendengaran Arrahma.


“Hemmm!” jawabnya, kebetulan Arrahma sedang bersandar.

__ADS_1


Hening hening! Lima menit kemudian, Arrahma membuka selimutnya.


“Mau apa?” Terdengar tidak terlalu perhatian, tapi setidaknya dia masih mau bertanya.


“Saya mencari ponsel, saya harus ngabarin karyawan jika saya tidak bisa membantu membuat pesanan!” Tatapan tidak mau melihat lelaki yang berlaku kasar padanya.


Zola menyodorkan ponsel kearah istrinya.


“Ini bukan ponsel saya Tuan!” jawabnya yang membuat Zola mengerutkan dahi. Ternyata panggilannya sudah beda.


“Tidak, terima kasih! Nanti nunggu asisten Asrhaf saja!” Arrahma mendongakkan kepalanya, berusaha menatap mata Zola. “Dan saya juga bukan bawahan Anda. Tapi saya adalah budak Anda! Levelnya lebih rendah! Saya hanya pelampiasan Anda jadi?” Arrahma berkata berani.


“Kamu berani sama suamimu?” tantang Zola mencengkeram bahu Arrahma.


“Lepasin!” Arrahma mencoba melepaskan tangan suaminya.


“Sekarang gini deh, Tuan! Saya akan bayar semua biaya kelecetan mobil Anda! Saya lebehin! Setelah itu mari kita berpisah! Saya lelah,” ujar Arrahma.

__ADS_1


“Enak saja, setelah dapat mahar setengah M kamu minta cerai! Cih, bahkan aku belum menikmati tubuhmu!”


“Saya kembalikan, toh saya juga tidak mempergunakannya!” sergahnya.


“Silahkan, kalau kamu bisa! Bukannya sebanyak apapun, istri minta cerai. Jika si suami tidak mau menceraikan maka mereka tetap sah menjadi suami-istri?” sinis Zola menowel dagu istrinya. Arrahma langsung mengusap dagunya kesal.


“Jika pernikahan sudah tidak bisa dilanjutkan lagi karena saling melukai atau menyakiti satu sama lain, maka itu boleh itu dilakukan! Dan disini saya yang merasa dirugikan! Jadi setelah kartu pernikahan jadi, saya akan menggugat Anda!” Menunjuk suaminya seolah tegas. Akan tetapi dalam lubuk hati yang paling dalam sangat takut.


“Ck, jadi aku tidak akan mendaftarkan pernikahan kita. Biar kamu tetap menjadi milikku! Maju kena mundur juga kena! Bukan kah dalam Islam, apa yang istrinya lakukan harus minta izin suami? Jadi jika kau pergi saja harus minta izin denganku! Kalau mau puasa sunah saja, kalau saya tidak mengizinkan kamu juga tidak boleh. Karena suami menginginkan hubungan suami-istri. Jadi jangan sekali-kali berani kabur dari suamimu. Jika tidak mau keluarga atau orang terdekatmu mendapat masalah!” Zola memperingatkan istrinya. Zola melakukan briefing dari google. Sebelum menceramahi istrinya.


“Dan jika kamu tidak mau dosa!”


“Dan sekali lagi kamu memanggil Tuan, aku pastikan. Kamu mendapatkan transferan air liur rasa petai! Dan jika kamu minta cerai, maka rasa jengkol! Pikir kan baik-baik Terong, sebelum melakukan sesuatu!” Zola menyunggingkan senyumnya. Membuat Arrahma langsung melengos kesal.


Warnimg?👇👇👇


__ADS_1


__ADS_2