
Kini kandungan Arrahma sudah berjalan lima bulan. "Aa," rayunya bergelayut manja.
"Hmmm!" jawabannya seraya membaca buku.
Bao dia asik menonton animasi.
"Pengen Bakso!"
Zola menutup bukunya, menatap istrinya.
"Mau bakso?" tanya Zola berdiri bersiap untuk menuruti permintaan sang pujaan hati.
"He'em!" Mengangguk.
Zola segera memasukkan dompetnya ke saku, celana. ingin bergegas mencari tukang bakso. Akan tetapi langkahnya terhenti saat istrinya mengeluarkan suara kembali.
"Bakso rasa duren!"
"Apa?" pekiknya.
"Mana ada?" kesalnya.
"Pokoknya aku mau, masa Aa tega! Istrinya lagi ngidam tidak dituruti!' Arrahma memasang wajah cemberut.
"Ck! Iya tapi aku tidak tahu! Penjualnya Sayang!" ujarnya lembut mengelus pipi istrinya.
"Aa, beli bakso biasa! Terus nanti ke toko buah, beli duren! Nanti aku masukan durenya kedalam bakso!" ujarnya yang membuat Zola menelan ludahnya kasar. Terlihat tidak percaya.
"Kamu itu ngidam yang enak-enak dan bergizi. Jangan yang aneh-aneh, takutnya ada efek sampingnya!" Zola menggaruk rambutnya kasar.
"Maksudnya Aa, aku membayangkan dia?" tanya Arrahma mengelus perutnya.
Tidak mau berdebat dengan istrinya, Zola langsung berjalan keluar. Tapi sebelum kakinya melangkah keluar, anaknya berteriak.
"Popy ikut!" ujarnya berlari kearah Zola.
Satu jam lamanya Arrahma menunggu kedatangan suaminya. Akhirnya datang juga.
"Mommy!" Bao berteriak dan berlari kearah dapur.
Arrahma tersenyum kearah anaknya.
Zola segera mengambil mangkuk dan menuangkan bakso itu. Dan buah duren juga sudah dibelah. Ketiga orang itu duduk di meja makan.
"Mommy, aku mau dulen! Tapi..." Menggantung ucapannya.
Yang membuat Arrahma menatapnya.
"Kan ada empat, buah! Mommy satu, Popy satu! Bao satu! Kita balapan makan gimana? Yang menang nanti dapat hadiah!" ujarnya melirik ayahnya. Zola mengedipkan matanya, yang tidak diketahui oleh istrinya.
Lelaki ini tidak mau jika istrinya kenapa-napa karena memakan makanan yang tidak diketahui efek sampingnya.
Arrahma tampak berpikir. Dia sejujurnya tidak mau, tapi dia juga tidak bisa menolak permintaan anaknya.
"Baiklah! Ayo kita mulai!" Ketiga orang itu mengambil buah duren satu-satu. Dan mulai menjilati buah duren.
Arrahma berpikir jika, duren yang masih satu itu bisa ia masukkan ke mangkuknya.
"Holewewwww! Bao menang!" Dia girang.
"Popy kedua!" Zola mengajak anaknya untuk tos.
__ADS_1
Arrahma cemberut karena kalah. Gadis itu pun ingin memasukkan satu butir duren yang masih utuh ke mangkuknya.
Zola yang melihat hal itu, melot menutup matanya.
Bao langsung mengambil duren yang hampir, masuk ke mangkuk. Anak lelaki itu langsung memasukkan kedalam mulutnya. Arrahma ternganga, gadis itu meminta Bao untuk mengeluarkan duren dalam mulutnya. Tapi anak lelaki itu menutup mulutnya.
Zola menghela nafas lega, karena Bao berhasil menghalangi. Eksperimen yang akan dilakukan Arrahma.
"Aa, durenya dimakan olehnya! Terus bagaimana aku makan bakso rasa duren?"
Zola menghela nafas berat, lelaki itu mengambil sendok. Kemudian memasukkan sendok itu kedalam kulit duren.
"Hirup!" ujarnya menjulurkan tangan kirinya yang memegang sendok ke arah istrinya. Arrahma mengikuti.
Tangan Zola yang kanan mengambil kuah bakso. Dan meyeuapi istrinya, Arrahma menerimanya.
"Aa, kenapa bisa kepikiran?" tanya Arrahma, mengambil sendok yang ada bau durennya.
"Kan kamu yang mau bakso rasa duren!" ujarnya menyuapi istrinya kembali. Arrahma menerimanya, kemudian menghirup aroma duren.
Tak terasa bulan jalan begitu cepat, kini kandungan Arrahma memasuki sembilan bulan.
"Bao, makan yang banyak biar sehat!" ujarnya menyuapi anaknya yang sedang bermain mobil-mobilan.
Perut buncit Arrahma, membuat Bao gemas. Setiap pagi dia bertanya kepada bayi yang ada didalam perut ibunya. Kapan keluar.
"Dedeknya, kapan kelualnya! Mommy?" tanyanya sambil mengunyah makanan.
"Abang, doain semoga dedeknya cepat keluar! Dengan selamat! Biar, bisa bermain sama Abang!" ujarnya menyuapkan makanan kemulut Bao.
"Aminnnnnnn."
Membuat Arrahma bingung.
"Mommy! Mommy Kenapa?" Bao menghampiri ibunya yang menahan sakit.
"Mommy, hah! Dedeknya mau keluar agrhhhhh!" teriak Arrahma. Mencengkram seprai.
Anak lelaki itu bingung, dia tidak berani mendekati ibunya. Bao berlari kearah balkon. Mata kecilnya menyapu kebawah, tidak ada siapa-siapa. Namun sedetik kemudian ada wanita paruh baya. Bao yang melihat hal itu pun langsung berteriak
"TOLONG! TOLONG MOMMY DEDEKNYA MAU KELUAL!" teriaknya.
Akan tetapi paruh baya yang ada dibawah tidak mendengar teriakannya. Bao mencoba mencari ide, dia menatap ibunya yang berteriak-teriak kesakitan.
Anak lelaki itu melepaskan sendalnya, kemudian melemparkan kearah paruh baya itu.
Tepat sasaran mengenai kepala. Paruh baya itu menengokkan kepalanya ke arah.
Bao menangkupkan telapak tangannya, dengan wajah bersalahnya dengan tangan yang masih tertangkup.
"Dasar KURANG AJAR" umpatnya.
"BAO! TIDAK SENGAJA NENEK, MAAFIN BAO!" ujarnya memelas.
"TAPI BAO MELAKUKAN INI, BIAL NENEK DENGAR! MOMMY BAO, KESAKITAN DEDEKNYA MAU KELUAL!"
"PAK SUPIL! KELUAL, CALI BENSIN! TOLONG MOMMY BAO, NENEK!"
Mendengar penjelasan dari Bao, paruh baya itu. Memanggil seseorang untuk membantunya. Bao segera masuk, melihat ibunya yang berkeringat.
"Mommy, jangan khawatil. Tadi ada nenek, yang akan tolong Mommy!" Arrahma mengangguk dia berusaha menarik napas dalam-dalam.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, ada beberapa ibu-ibu masuk ke dalam kamar. Urgent tidak masalah dong?
"Astagfirullah!" Melihat Arrahma yang sudah terlentang di ranjang.
"Sepertinya dia akan lahiran sekarang! Kita tidak mungkin membawanya ke rumah sakit!" ujar Nenek tadi.
"Suaminya mana?" tanya yang lain duduk di ranjang sambil mengelap dahi Arrahma yang berkeringat.
"Sua-mi saya huhhhhhhh. ... sedang kerja agrhhhhh!" Arrahma menjerir. Namun saat itu, dia mengigat Zola. Kenapa suaminya tidak ada bersamanya di saat seperti ini.
Pintu terbuka seorang bidan yang tadi, yang ditelpon ibu-ibu yang ada disana segera bergegas. Saat mengetahui seseorang akan melahirkan.
Bidan itu langsung menangani Arrahma. Bao dia diam, melihat hal itu. Tapi satu orang ibu menyuruhnya keluar. Diapun keluar setelah mengambil ponsel Ibunya.
Ibu-ibu yang menolong Arrahma, tidak kepikiran untuk menelpon suami Arrahma. Bao menatap ponsel ibunya, ada bagian Watsaspp. Disana ada fotonya dan Zola. Dia mulai meletakkan ponsel ditelinganya. Tapi tidak ada jawaban. Membuat dia bingung. Namun hal ini tak lantas membuat dia goyah dan hilang semangat untuk menelpon ayahnya.
"Halo Sayang! Maaf aku tidak mengangkat telpon darimu! Soalnya meeting baru selesai!" Bao mendengar ucapan ayahnya.
"POPY!"
"Oh, ternyata Bao yang telpon Popy!" Zola terkekeh.
"POPY! DEDEK YANG DI DALAM PELUT MOMMY AKAN KELUAL HIIKSSSSS!"
"Apa?" pekik Zola.
"TASIAN MOMMY DIA NANGIS DAN TIAK-TiAK! HIKS! POPY, HALUS PUANG CEKALANG JUGA! BAO AKUT HIIKSSSSS!" Bao terduduk lemas sambil bersandar di dinding. Anak kecil harus melihat kejadian yang begitu menyeramkan.
"Oke Popy pulang sekarang!"
Zola langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali lelaki itu mengusap wajahnya kasar. Jika membayangkan istrinya berjuang melawan maut.
"Ya Allah, selamatkan istri dan anakku!"
Tak butuh waktu lama Zola telah sampai di rumahnya. Dia menaiki tangga dengan cepat. Melihat Bao, yang tertidur di depan pintu kamarnya. Dia merasa iba. Namun saat dia ingin mengangkat tubuh Bao, untuk memindahkan ke kamar. Teriakan Arrahma membuat dia harus memilih salah satunya.
"Aaaaaaaaaa!"
Diwaktu yang bersamaan Asrhaf datang karena tadi Bao menelponnya.
"Biar Bao saya yang urus!" ujar Asrhaf mengangkat tubuh Bao. Zola segera masuk kedalam kamar. Semua orang sampai tidak sadar akan kedatangannya.
Lelaki itu segera berlari kearah istrinya. Mengeggam tangan istrinya, Arrahma lega melihat suaminya datang.
"Tarik nafas!"
Arrahma menarik nafas panjang, Zola mengeggam tangan istrinya. Dia tidak kuat melihat istrinya rela bertaruh nyawa. Zola membisikan sesuatu ditelinga istrinya. Sebuah sholawat yang sering istrinya lantunkan.
"Oek! Oek! Oek!" Bayi itu terlahir didunia.
Zola mencium kening istrinya, tangisan haru dari Arrahma membuat Zola mengelap mata istrinya lembut.
"Terima kasih Sayang! Telah berjuang untuk anakku! Aku minta maaf! Karena tidak ada bersamamu dari awal!"
Arrahma mengangguk dan mengelus pipi suaminya.
Akhir dari sebuah perjalanan Zola dan Arrahma. Karunia terindah datang bersamaan. Kebahagiannya bertambah karena mereka telah diberikan dua anak. Bao yang lucu dan putri kecilnya.
...TAMAT...
Promosi novel Kau Rela Ku Lepas & Melamar Tuan Velden
__ADS_1