
“Aku berlindung kepadaMu dari kemarahan suamiku karena telat pulang!” gumamnya sambil duduk disamping Ayah mertuanya.
Sedangkan Zola masih memandang istrinya dari belakang.
“Ayah mau bersandar?” tanya Arrahma.
Darwin mengangguk, bibirnya sedikit mencos membuat bicaranya tidak jelas.
“Baiklah itu pilihan yang bagus Ayah, toh ini juga sudah sore!” ujarnya sambil membantu mertuanya mengangkat punggungnya.
Mata Zola kembali fokus pada laptopnya. Dirinya memang pulang lebih cepat, karena mbak pembantu rumah. Pulang kampung karena ada keluarganya yang meninggal.
“Pelan-pelan saja Yah!” ujar Arrahma yang sedikit kesusahan.
Meskipun begitu dirinya tetap berusaha, meski hatinya menggerutu karena suaminya. Pura-pura tidak tahu.
“Ehmmm!” Darwin melirik kearah samping ranjangnya.
“Ayah haus?”
Dengan penuh ke hati-hatian dia membantu Ayah mertuanya untuk minum.
“Em-a esih!” ujar Darwin yang membuat Arrahma mengangguk pelan.
Gadis itu memijat kaki Darwin dengan penuh kelembutan. Membuat paruh baya itu bersyukur. Karena mendapatkan menantu yang perhatian.
“Es-o!” Liriknya kearah Zola.
Arrahma mengalihkan pandangannya, kearah suaminya.
“Aa, dipanggil Ayah!”
Zola yang tadi menatap layar laptop melirik kearah orang tuanya.
__ADS_1
“Ce-ce-cu!”
Zola mengerenyitkan dahinya. Tidak paham begetipun dengan Arrahma. Darwin yang tahu pasangan itu tidak paham. Dia mengelus perutnya. Kemudian tangannya seperti menimang-nimang.
Arrahma menunduk, sedangkan Zola tersenyum sinis. “Malam pertama saja belum,” ujarnya melirik kearah Arrahma. Yang dilirik melotot tidak percaya, kenapa Zola tidak bisa merahasiakan masalah ranjang pikirnya.
Darwin sontak tidak percaya, bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Padahal sudah hampir satu bulan menikah.
“Arrahma, tidak mau melayaniku!” jawabnya tanpa beban.
“Bu-bukan begitu! Ayah jangan dengarkan dia! Dia suka ngawur!” Arrahma mencoba membela diri.
Sedangkan Zola terkekeh geli, melihat Arrahma berusaha membela diri.
“Tapi, kau juga ikut andil dalam hal ini!” ujar Zola melirik Ayahnya. Darwin mengerutkan keningnya,dirinya ikut andil? Yang benar saja?
“Ya karena penyakitmu, kita gagal malam pertama! Padahal kita sudah...”
Barengan dengan Zola berbicara, Arrahma langsung lari kearahnya dan membekap mulutnya.
“Tidak usah membungkam mulutku segala!” ujarnya menepis tangan istrinya.
“Ya, kalau tidak dibungkam ngomongnya jadi kemana-mana!” Gadis itu terlihat kesal dengan kelakuan suaminya. Yang tidak bisa membedakan sesuatu yang bersifat personal. Dan seharusnya tidak disebar luaskan ke siapapun.
“Oke tiga hari lagi dael!” Zola menjabat tangan istrinya penuh kemenangan.
"Sudah makan?" Arrahma mengalihkan pembicaraan.
"Kamu tahu aku sedang kerja? Terus kau tahu bagaimana caranya makan? Saat bekerja? Yang ada bukan tambah sehat tapi sakit karena virus. Karena makan sambil memegang laptop!" jelasnya cepat yang membuat Arrahma yang tadi membuka kotak kue melirik kearahnya dengan kesal.
"Aa, bicaranya terlalu panjang dan bertele-tele. Coba bilang begini. Istriku yang cantik tolong suapin aku!" ujarnya terkesan menggoda ditelinga.
Zola menatap istrinya lekat dengan dahi berkerut. Karena istirnya baru saja membanggakan kecantikan didepannya secara terang-terangan.
__ADS_1
"Emmm, aku pasti langsung menyuapi mu!" tukasnya kembali.
"Sett" Zola meletakkan telunjuknya di kening Arrahma.
"Ih, itu bukan mulut Aa!" Arrahma menarik tangan suaminya.
"Oh, aku kira itu mulut ternyata kening!" ejeknya.
"Tapi apa aku tidak salah dengar? Kamu bilang apa tadi? Istriku yang cantik? Cih, tidak punya malu. Memuji diri sendiri, Narr ...Sis! Dasar bocah Terong!" Zola menoyor kepala istrinya pelan.
"Ck, itu mah Aa yang mikir kayak gitu. Kalau aku sih memuji siapa yang menciptakan!" Arrahma kesal karena suaminya menyusungkan dadanya kearahnya.
"Aa, malu atuh dipandang Ayah!" ujar Arrahma mendorong dada suaminya.
Darwin tersenyum tipis melihat putranya yang nampak bahagia menggoda Arrahma.
"Ayo, aaaaaaaaaa! Pesawat terbang wushhhhh!" Arrahma memutarkan tangannya yang berisi lapis legit. Zola kesal sudah mangap-mangap (membuka mulut lebar) sejak tadi. Arrahma justru menerbangkan kuenya keatas.
"Rahmaaaaa!" geramnya merasa dipermainkan.
"Bulum saatnya landing Capt Zo! Kita masih ada di udara. Ketinggian 38000 kaki diatas permukaan laut. Kita parkir di Eko 675! Wushhhhh!"
Zola menarik tangan Arrahma dan memakan lapis legit sekalian tangan istrinya.
"Agrhhh! Kenapa tanganku yang digigit?" Mengelap tangannya dengan ujung kemeja Zola.
"Ini hukuman, karena berani mengerjai suami! Dan ini!" Zola tersenyum penuh arti. Lelaki itu menarik istrinya untuk mendekat.
"Agrhhh! Aa, sakit tahu!" ujarnya sambil memegangi telinganya yang digigit Zola.
"Karena pulang terlambat! Dan ini, karena pengen saja!" Mencubit pipi istrinya.
"Aa!" kesal Arrahma sedangkan Zola puas bisa melakukan KDRT kepada Arrahma. Sedangkan Darwin merasa melihat Upin sedang menggoda Kak Ros.
__ADS_1
TBC...