
Mobil yang Zola kendarai memasuki pekarangan rumah. Lelaki itu keluar dari mobil, pun dengan dua penumpang lainnya.
“Zo, keluarkan koperku!” ujar Kong Can, paruh baya yang membawa tongkat.
Tanpa membantah, lelaki itu mengeluarkan koper yang ada dalam bagasi.
“Besok, Zo akan pindah ke rumah Zo!” ujarnya sambil menutup bagasi.
“Secepat itu?” ujarnya mendelik tidak percaya.
“Sekarang aku sudah punya istri! Kong, kita juga butuh privasi!” ujarnya melirik kearah istrinya.
“Hemmm, ya! Tapi ingat jangan nyakitin istrimu! Aku tidak menyangka kau menikahi gadis baik-baik,” ujarnya melenggang pergi kedalam kamarnya.
“Mau kemana?” tanya Arrahma saat suaminya mengambil jaket.
“Keluar! Kau tidur saja dulu!” ujarnya sambil menutup pintu kamarnya.
Arrahma menghela nafas panjang. “Malam-malam kenapa dia harus pergi? Jangan-jangan dia ingin menemui pacarnya!” Arrahma menggaruk kepalanya kasar.
__ADS_1
Gadis itu mondar-mandir memikirkan cara, bagaimana membuat suaminya berubah.
“Apa yang harus aku lakukan,” ujarnya seraya menggigit jarinya.
“Ah ... persyaratan! Iya, aku harus memikirkan, sebuah persyaratan yang membuat dia maju kena, mundur juga kena!” Arrahma berjalan kemeja kemudian membuka laptopnya.
Disisi lain, Zola keluar dari mobil. Lelaki itu memasuki kafe. Sosok perempuan cantik, melambaikan tangan kearahnya.
“Malam Sayang!” suara seraknya begitu menggoda.
“Tidak perlu basa-basi, kenapa kau mengunci Arrahma dikamar jenazah?” tanya Zola dengan tatapan mata tajam. Lelaki itu menyodorkan ponselnya, yang berisi bukti berupa video.
Hanza terlonjak kaget melihat video yang Zola putar. Wajahnya nampak jelas di video itu.
“A-aku!” Nampaknya begitu sulit bagi Hanza membela diri sendiri.
“Satu hal yang harus kamu ingat! Jangan bersikap seperti seorang pasangan! Ingat Anz, kita hanya sebatas. Saling menguntungkan! Jadi jangan sekali-sekali kamu, mengikut sertakan orang-orang terdekatku!” Zola berbicara dengan gigi yang bergemeretak.
“Tapi aku mencintaimu Zo! Aku benar-benar jatuh cinta padamu!” ujarnya memegang tangan Zola.
__ADS_1
Lelaki itu tersenyum sinis, dan mengibaskan tangannya kasar.
“Aku tahu, kamu bukan mencintaiku, tapi mencintai uangku! Dan aku, tidak pernah percaya cinta!”
“Zo, sumpah aku benar-benar jatuh cinta padamu! Aku tahu, hubungan kita berawal dari pekerjaan! Kamu yang membutuhkan jasaku, sebagai seorang kekasih bayaran! Dan aku yang membutuhkan fasilitas darimu! Tapi itu dulu, setahun bersamamu, membuat cinta kian tumbuh begitu saja!” ujarnya sambil menatap lekat wajah Zola.
“Zo, berikan aku kesempatan! Aku ingin menjadi pasangamu yang sesungguhnya hiks!” ujarnya menggenggam tangan Zola.
“Sudah aku katakan, aku tidak percaya cinta!” ujarnya melepaskan genggaman tangan mereka.
Namun hatinya berkata lain. Dia tidak tahu apa, yang jelas. Perasaan aneh ini bersangkutan dengan istrinya.
'Tidak, aku tidak mungkin jatuh cinta dengan si Terong!' batinnya dengan galengan kepala.
Entah mengapa keringat dingin mulai membasahi dahinya saat dia tahu. Jika ia telah terperangkap oleh rasa aneh. Yang tidak pernah ia rasakan kepada siapa pun kecuali dengan Arrahma.
“Lepas! Camkan ini Anz, sekali lagi kamu menyeret orang terdekatku. Karena ke egois mu, aku akan berlaku tegas padamu! Karena hal ini, Rahma menuduhku! Jika aku menyuruh seorang perempuan untuk menguncinya dikamar jenazah!” Zola langsung berjalan cepat menuju ke tempat parkir.
“Bodoh kenapa, aku tidak hati-hati! Saat memberikan pelajaran untuk gadis itu! Aku tidak sadar, jika ada CCTV nya!” Hanza memegang kepalanya frustrasi.
__ADS_1
“Jika aku tidak bisa mendapatkan Zo, maka tidak satupun yang boleh bersamanya! Termasuk istrinya!” Matanya memerah, tangannya mengepal.
TBC...