Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
JELASKAN!


__ADS_3

Bunda Laksmi dan Ayah Yuda langsung terlihat shock setelah mengetahui sang menantu yang ternyata masih delapan belas tahun dan masih kelas dua belas SMA.


"Om, nanti Friska terlambat ke sekolah!" Friska kembali berbisik dan mengingatkan Gabriel.


"Iya, kamu mandi dulu dan siap-siap, ya!"


"Ayo aku antar ke kamar!" Ajak Gabriel seraya meninggalkan kedia orang tuanya yang masih shock. Gabriel mengantar Friska masuk ke kamarnya yang mulai sekarang juga akan menjadi kamar Friska.


Bukankah mereka adalah suami istri?


"Itu kamar mandinya," ujar Gabriel menunjukkan bagian-bagian kamarnya pada Friska.


"Ini kamar Friska, Om?" Tanya Friska memastikan.


"Iya kamarmu dan kamarku juga. Kan kita suami istri," jawab Gabriel yang langsung membuat raut wajah Friska berubah.


"Tapi, Om...." Friska kembali memainkan kedua telunjuknya dan sepertinya sedikit keberetan karena harus sekarang dengan Gabriel.


"Kamar di rumah ini cuma ada tiga, Fris! Apa kamu mau satu kamar saja dengan Queena?" Tawar Gabriel yang sebenarnya sedikit konyol.


"Queena itu anaknya Om, ya?" Tanya Friska tiba-tiba yang langsung membuat Gabriel mengangguk.


"Anak adopsi juga?" Tanya Friska lagi yang langsung membuat Gabriel menganga.


"Anak kandung!" Jawab Gabriel tegas.


"Anak kandung? Sudah SMP? Om umur berapa?" Cecar Friska yang sejak kemarin penasaran dengan umur Gabriel.


"Baru kepala tiga. Tiga puluh dua tahun lebih tepatnya," jawab Gabriel lengkap.


"Friska baru kepala satu, Om!" Jawab Friska polos yang malah membuat Gabriel tertawa kecil.


"Iya, sudah! Kamu buruan mandi sana! Katanya tadi udah telat ke sekolah. Nanti aku antar bersama Queena sekalian," ujar Gabriel seraya mengusap puncak kepala Friska. Gabriel sudah berbalik dan hendak keluar dari kamar, saat tiba-tiba Friska kembali melontarkan sebuah pertanyaan.


"Om!"


"Iya, ada apa lagi?" Tanya Gabriel seraya berbalik dan tak jadi keluar dari kamar.


"Apa nanti malam Om juga akan minta itu sama Friska?" Tanya Friska yang kembali memainkan jari telunjuknya dan menundukkan wajah.


"Itu? Itu apa?" Gabriel mengernyit bingung.


"Iya itu yang biasa dilakukan Mama dan Papa pas berduaan di kamar."


"Eh!" Friska menutup bibirnya dengan cepat karena keceplosan.


"Pernah ngintip, ya?" Goda Gabrian usil.


"Nggak, kok!" kilah Friska cepat.


"Lalu Papa dan Mama ngapain kalau di kamar?" Gabriel masih menggoda Friska.


"Nggak tahu! Ya pokoknya itu!" Wajah Friska sudah semerah tomat sekarang.


"Eeemmm, aku nggak akan maksa kamu, kok!" Jawab Gabriel akhirnya yang langsung membuat Friska bernafas lega.


"Tapi nanti kalau aku khilaf lain cerita, ya! Kan kita juga udah suami istri!" Sambung Gabriel lagi yang tak jadi membuat Friska bernafas lega.

__ADS_1


"Friska tidur sama Queena aja kalau begitu biar Om nggak khilaf!" Sergah Friska mengajukan usul.


"Kalau Queena nggak mau?" Tanya Gabriel menakuti.


"Ya, Om tidur di sofa ruang tengah saja! Ini kan kamar Friska!" Jawab Friska egois.


"Ini kamarku juga!" Sergah Gabriel meng-klaim.


"Om tidur di bawah kalau begitu!" Usul Friska mengajukan ide.


"Kalau aku masuk angin?" Lagi-lagi Gabriel masih punya alasan.


"Tinggal ke dokter, minum obat!" Jawab Friska enteng. Gadis itu tak sengaja melihat ke jam di kamar Gabriel dan langsung memekik.


"Ya ampun! Sudah setengah tujuh!"


Friska buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan perdebatannya dengan Gabriel.


Gabriel sendiri lanjut keluar dari kamar dan melangkah menuju ke kamar Queena untuk membujuk sang putri yang sepertinya tengah merajuk karena Mami sambungnya yang mungkin tak sesuai ekspetasi.


Memangnya Queena mau mami sambung yang bagaimana? Bukankah lebih menyenangkan punya mami sambung yang selisih umurnya hanya beda sedikit?


Selain jadi mami sambung, Friska juga bisa merangkap jadi teman curhat dan teman hang out untuk Queena.


"Queen!" Gabriel mengetuk pintu kamar Queena dan memanggil sang putri yang kini duduk di kelas tujuh SMP.


"Queena!" Panggil Gabriel lagi namun tetap tak ada jawaban dari dalam kamar.


Ck!


"Queena sudah ke sekolah diantar Ayah, Briel!" Ucapan Bunda Laksmi dari balik punggung Gabriel, membuat Gabriel berhenti mengetuk pintu kamar Queena. Gabriel membuka knop pintu kamar sang putri dan kamar memang sudah kosong. Ternyata Queena memang sudah berangkat.


"Bunda mau bicara!" Ucap Bunda Laksmi selanjutnya dengan nada tegas. Pasti mau membahas soal Friska.


"Iya, Bund!" Jawab Gabriel pasrah seraya mengekori Bunda Laksmi menuju ke dapur. Bunda dan anak itu akan bicara serius di dapur sepertinya.


"Apa-apan ini, Briel?" Bunda Laksmi sudah bersedekap dan menatap tak mengerti pada Gabriel.


"Yang mana?"


"Bunda dan Ayah yang selalu meminta Gabriel untuk menikah dan mencarikan mami baru untuk Queena. Lalu Gabriel sudah menikah sekarang. Jadi salahnya dimana?" Tanya Gabriel seolah sedang mencari pembenaran.


"Iya tapi apa kamu harus menikahi seorang gadis dibawah umur seperti Friska?"


"Apa sudah tak ada wanita dewasa di luaran sana yang bisa kamu jadikan istri, hingga kamu menikahi seorang bocah?" Bunda Laksmi menatap tak mengerti pada sang putra.


"Gadis itu masih SMA, delapan belas tahun, bagaimana dia akan mengurus kau dan Queena?" Cecar Bunda Laksmi sekali lagi.


"Dia yatim piatu, Bund!" Sergah Gabriel kembali mencari pembenaran.


"Dia tidak punya siapa-siapa lagi dan hidupnya akan terlunta-lunta jika Gabriel tidak membawanya pulang!" Jelas Gabriel lagi yang langsung membuat Bunda Laksmi berdecak.


"Itu bukan alasan! Kau masih bisa menjadikannya putri angkat dan tak perlu menikahinya, menjadikan dia istri!"


"Ini konyol, Briel!"


"Tapi semua sudah terlanjur dan Briel mencintainya, Bund!" Sergah Gabriel tetap keras kepala.

__ADS_1


"Mencintai seorang gadis SMA? Apa kau remaja delapan belas tahun juga sekarang?" Cecar Bunda Laksmi mulai emosi.


"Cinta tak mengenal umur, Bund! Dan Briel mencintai Friska!"


"Mencintai boleh tapi gunakan logikamu, Briel! Kau akan seperti mengasuh seorang bocah jika punya istri gadis remaja seperti itu-"


"Briel akan membimbing Friska pelan-pelan dan Briel yakin Friska akan bisa menjadi istri yang baik untuk Briel serta Mami yang baik untuk Queena, Bund!" Potong Gabriel yang benar-benar keras kepala.


"Terserah! Tak perlu mengeluh pada Bunda jika nanti istrimu manja, kekanakan, dan merepotkan!" Bunda Laksmi sepertinya sudah benar-benar kesal sekarang.


"Friska tak akan seperti itu!" Sangkal Gabriel penuh keyakinan, bersamaan dengan suara Friska yang memanggil-manggil Gabriel. Sepertinya gadis itu sudah siap pergi ke sekolah.


"Om!"


"Om Briel!"


"Tu! Keponakanmu sudah merengek! Mana ada seorang istri memanggil suaminya Om!" Cibir Bunda Laksmi seraya berlalu keluar dari dapur dan meninggalkan Gabriel dengan perasaan kesal.


"Oma-"


"Eh, maksudnya Bunda! Om Briel dimana?" Tanya Friska pada Bunda Laksmi yang baru keluar dari dapur.


"Di dapur!" Jawab Bunda Laksmi ketus. Mertua Friska itu berlalu begitu saja dari hadapan Friska bersamaan dengan Gabriel yang akhirnya keluar dari dapur.


"Om-"


"Sudah siap ke sekolah?" Tanya Gabriel seraya menghampiri Friska.


"Iya, Om!"


"Ayo berangkat!" Ajak Gabriel yang sudah merangkul pundak Friska dan pasangan suami istri itu berjalan menuju ke pintu utama.


"Mobilnya mana, Om?" Tanya Friska saat tak mendapati mobil minibus Gabriel yang tadi pagi masih terparkir di garasi.


"Dipakai Ayah untuk mengantar Queena. Kita naik motor saja, ya!" Gabriel meraih helm dari rak dan memberikannya pada Friska. Gabriel sendiri juga sudah memakai helmnya.


"Friska belum pernah naik motor, Om!" Lapor Friska yang merasa ragu saat Gabriel mennyuruhnya naik ke atas motor.


"Iya ini pengalaman pertama berarti."


"Ayo naik dan pegangan!" Titah Gabriel sekali lagi hingga akhirnya Friska menurut, lalu naik ke atas motor dan duduk di belakang Gabriel.


"Pegangan!" Gabriel meraih kedua lengan Friska dan melingkarkannya di pinggang.


"Seperti orang pacaran, Om!"


"Iya kita kan suami istri," kekeh Gabriel sebelum pria itu melajukan motornya meninggalkan rumah dan menuju ke sekolah Friska.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2