
"Kamu yakin yang diomongin sama Bunda dan Ayah itu kamu, Fris? Bisa saja orang lain, kan?" Cecar Sashi pada Friska yang kini menangis tergugu di kamarnya.
"Iya itu pasti aku, Shi! Di rumah yang hamil nggak ada suaminya kan cuma aku!" Jawab Friska seraya merengut.
"Loh!"
"Kamu kan punya suami, Fris! Itu Om Briel kan suami kamu, bapak dari calon bayi kamu!"
"Itu pasti bukan kamu, Fris! Bunda pasti ngomongin orang lain! Mungkin tetangga atau saudaranya Bunda," Cerocos Sashi yang malah membuat Friska merengut.
"Udah dibilang itu aku, kenapa kamu ngeyel begitu! Kamu nggak denger sendiri jadi mana kamu tahu, Shi!"
"Sejak dulu aku itu memang cuma beban buat keluarga Mas Briel! Bunda aja di depan pura-pura baik dan perhatian. Tapi ujung-ujungnya ternyata benci setengah mati sama aku!"
"Mau misahin aku dari kedua bayi aku! Mau ngasihin bayi aku ke tetangga! Memangnya kami ini barang yang bisa dikasih-kasihkan begitu saja?" Friska mengungkapkan semua uneg-uneg yang mengganjal di hatinya.
"Aku kan cuma mastiin, Fris! Maaf kalau kata-kata aku nyinggung kamu." Sashi sudah memeluk Friska dan menenangkan sahabatnya tersebut.
"Trus sekarang kamu mau kemana? Mau tinggal di rumah aku?" Tanya Sashi selanjutnya yang hanya dijawab Friska dengan gelengan kepala.
"Aku nggak mau ngrepotin kamu. Aku mau ke sebuah tempat," jawab Friska menerawang.
"Sebuah tempat dimana, Fris! Jangan membuat khawatir, deh!" Sashi mulai cemas sekarang.
"Ada pokoknya!" Jawab Friska penuh tekad.
"Kamu nggak mau ngasih tahu aku?" Tanya Sashi seraya mengguncang kedua pundak Friska. Sahabat Sadhi itu hanya menggeleng.
"Aku sahabat kamu, Fris!"
"Nanti aku kabari saja kalau aku sudah sampai--" Friska merogoh tasnya seperti mencari-cari sesuatu.
"Kenapa?" Tanya Sashi saat melihat wajah Friska yang kebingungan.
"Ponsel aku hilang," ucap Friska seraya mengeluarkan semua isi tasnya.
"Ketinggalan mungkin di rumah Bunda." Sashi menerka-nerka.
"Tadi udah aku bawa. Apa jatuh, ya?" Friska mencoba mengingat-ingat.
"Yaudah, pakai ponsel aku aja! Mau menelepon siapa?" Sashi mengangsurkan ponselnya pada Friska.
"Nggak jadi." Tolak Friska cepat.
"Aku ingat, kok alamatnya. Aku kesini cuma mau ambil tabungan aku di Mama kamu," Friska berucap sedikit ragu.
__ADS_1
"Uang sprei, ya? Mau diambil semua?" Tanya Sashi yang sudah bangkit berdiri dan hendak keluar dari kamar.
"Ada berapa memang? Kemarin kan udah aku ambil juga buat nglunasin uang SPP." Friska balik bertanya.
"Bentar, aku tanya ke mama dulu!" Sashi sudah melesat keluar dari kamarnya
"Tinggal satu juta lebih dikit, Fris!" Lapor Sashi yang sudah kembali ke kamar. Sashi menyerahkan lembaran uang di tangannya pada Friska.
"Yaudah! Cukup, kok! Aku naik bus saja," jawab Friska seraya menerima uang dari tangan Sashi.
"Kamu mau kemana, sih, Fris?" Tanya Sashi sekali lagi yang masih berharap Friska akan memberitahunya akan pergi kemana.
"Ke suatu tempat, agar tidak ada yang misahin aku dan kedua bayi aku," jawab Friska seraya mengusap perutnya sendiri.
"Nggak pamit ke Om Briel?" Tanya Sashi mengingatkan tentang Gabriel yang saat ini masih mendekam di penjara. Petunjuk yang membuktikan bahwa Gabriel tak bersalah masih buntu. Kemungkinan Gabriel akan dipenjara enam bulan ke depan jika tak ada barang bukti yang bisa ditunjukkan pada polisi yang membuktikan kalau Gabriel tak bersalah. Editan video itu benar-benar memojokkan Gabriel.
"Nanti aku mampir kesana sebentar sebelum ke terminal." Putus Friska akhirnya.
"Biar diantar Abang Jimmy, ya!" Saran Sashi yang sudah merangkul Fridan matanya berkaca-kaca.
"Nanti ngrepotin." Friska merasa sungkan.
"Nggak, kok! Abang Jimmy pasti nggak keberatan," ujar Sashi yakin.
"Bentar!" Sashi menghapus airmatanya dan kembali keluar dari kamar. Tak berselang lama, Sashi sudah kembali bersama Abang Jimmy yang penampilannya sedikit berbeda.
"Anterin Friska ke polres dulu buat jenguk Mas Briel, Bang! Lalu ke terminal kalau abang nggak keberatan," jawab Friska ragu-ragu.
"Kamu mau kemana?" Abang Jimmy bertanya serius.
"Friska cuma nggak mau berpisah dari kedua bayi Friska, Bang!" Jawab Friska dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Abang Jimmy terlihat menghela nafas lalu tangannya terulur untuk menghapus airmata Friska.
"Udah, jangan nangis lagi, Mami Friska!"
"Aku anterin sekarang!" Ujar Abang Jimmy lirih yang langsung meminta Sashi untuk memonjamkan jaket pada Friska.
Sashi mengambil satu jaketnya yang agak tebal lalu membantu Friska memakaibya. Tadi saat pergi ke rumah Sashi, Friska memang hanya memakai baju seadanya.
"Nanti telepon aku kalau udah sampai, ya! Hafal nomorku, kan?" Pesan Sashi seraya kembali memeluk Friska.
"Iya!" Jawab Friska lirih.
"Hati-hati bawa motornya, Bang! Jangan ngebut!" Sashi ganti berpesan pada Abang Jimmy yang sudah bersiap di atas motornya.
"Iya!"
__ADS_1
Friska sudah naik ke motor Abang Jimmy, dan motor langsung melaju meninggalkan rumah Sashi.
****
"Kesini sama siapa?" Tanya Gabriel seraya menggenggam tangan Friska yang terasa dingin.
"Sendiri. Tadi dari rumah Sashi karena lagi pengen ketemu saja," jawab Friska sekuat tenaga menahan airmatanya agar tak jatuh.
"Kangen?" Tanya Gabriel yang terlihat sedikit kurus setelah hampir satu pekan berada di penjara.
Friska mengangguk.
"Maaf nggak bisa ngusap-usap perut kamu setiap malam," ucap Gabriel yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Tadi sudah makan?" Tanya Friska yang akhirnya meneteskan airmata.
"Sudah," jawab Gabriel singkat seraya menghapus airmata Friska.
"Aku bawain makanan." Friska menyodorkan kotak makanan pada Gabriel masih sambil berurai airmata.
"Bunda masih marah-marah?" Pertanyaan Gabriel seketika membuat hati Friska mencelos. Namun Friska dengan cepat menguasai emosinya dan gadis itu menggeleng.
"Udah, jangan nangis! Aku baik-baik saja disini." Gabriel mengusap wajah Friska lalu menatapnya dengan lekat. Waktu kunjungan akan segera habis.
"Tetap makan teratur, ya, Mas! Semoga segera ada jalan keluar dan Mas Briel bisa segera bebas," pungkas Friska saat dua petugas sudah datang untuk menjemput Gabriel.
"Kamu juga jaga kesehatan dan jangan banyak pikiran!" Gabriel balik berpesan pada Friska sebelum pria itu dibawa masuk kembali dan berpisah dengan Friska.
Friska menghapus kasar airmatanya, lalu melangkah gontai keluar dari kantor polisi. Abang Jimmy masih menunggu Friska di halaman parkir.
"Sudah?" Tanya Abang Jimmy yang hanya dijawab Friska dengan anggukan samar.
"Friska naik angkot saja ke terminal, Bang!" Ujar Friska yang merasa sungkan karena terus-terusan merepotkan Abang Jimmy.
"Udah, aku antar sekalian!" Abang Jimmy mengacak rambut Friska dan tersenyum simpul.
"Ayo naik!" Titah Abang Jimmy selanjutnya dan Friska hanya menurut. Motor matic itupun melaju meninggalkan kantor polisi menuju ke terminal kota.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.