
"Friska!" Teriak Gabriel emosi.
Friska yang sudah selesai menunaikan panggilan alamnya, buru-buru keluar dari kamar mandi.
"Om, kenapa teriak-teriak?" Tanyao Friska bingung.
"Ini apa? Kamu selingkuh lagi sama Jimmy? Berapa banyak selingkuah lamu di luar sana sebenarnya?" Cecar Gabrian seraya mengacung-ngacungkan ponsel Friska.
"Hah? Friska nggak selingkuh, Om! Friska baru aja chat-an sama Sashi!" Jawab Friska masih dengan raut bingungnya.
"Nggak usah bohong! Jelas-jelas yang tertera di layar ponsel kamu itu nomornya Jimmy!" Gabriel sudah semakin emosi sekarang.
"Iya, kan Abang Jimmy abangnya Sashi. Tadi Sashi nggak punya pulsa, jadi pinjam ponselnya abang Jimmy!" Jelas Friska yang membuat emosi di wajah Gabriel sedikit memudar.
"Kenapa Om Briel nggak baca saja riwayat chat-nya sebelum asal tuduh begitu?" Sambung Friska lagi yang langsung membuat Gabriel men-scroll layar ponsel Friska untuk membaca riwayat chat Friska dengan kontak bernama Jimmy itu. Isinya memang sama seperti yang dikatakan Friska dan dari bahasa chat-nya itu memang bahasa khas antara Friska dan Sashi saat sedang mengobrol.
Gabriel yang tadi terlihat marah sekarang ganti salah tingkah dan berulang kali menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Masih mengira Friska selingkuh sama Abang Jimmy?" Tanya Friska yang Gabriel tahu kalau itu sebenarnya sedang menyindir Gabriel.
"Siapa yang bilang kamu selingkuh? Aku tadi kan cuma tanya, Friska Sayang!" Jawab Gabriel yang sudah merangkul serta merayu Friska.
"Ck! Om Briel sepertinya udah pikun! Baru beberapa menit yang lalu Om terang-terangan nuduh Friska selingkuh. Sekarang nggak mau ngaku!" Decak Friska seraya menyentak rangkulan Gabriel, meskipun suaminya itu keras kepala dan tetap kekeh ingin merangkul Friska.
"Tadi kan cuma bercanda," ungkap Gabriel dengan ekspresi wajah sok manis. Sementara Friska masih merengut dan malas menanggapi rayuan gombal Gabriel labil.
"Mandi sana! Tadi belum jadi mandi kan?" Sergah Friska selanjutnya mengingatkan Gabriel.
"Mandiin dong, Istriku yang cantik!" Rayu Gabriel masih sok manis.
Stok gulanya berkarung-karung mungkin.
"Nggak! Friska yang mandi duluan kalau begitu!" Friska kembali menyentak rangkulan Gabriel dan gadis itu masuk ke kamar mandi dengan cepat seraya membanting pintu.
"Fris!" Gabriel mengetuk pintu kamar mandi dan masih berusaha merayu Friska.
"Friska, Sayang! Aku mandiin sini!" Rayu Gabriel yang tetap tak ditanggapi oleh Friska.
Ck! Sepertinya Friska benar-benar marah pada Gabriel.
Gabriel tak mengetuk lagi dan memilih duduk di tepi tempat tidur seraya membuka kancing kemejanya. Gabriel meraih ponsel Friska dan membaca chat berisi curhatan Friska ke Sashi tadi. Tak lupa Gabriel juga mengganti kontak bernama Jimmy itu menjadi Sashi Kedua agar jiwa cemburunya tidak berkobar hebat.
__ADS_1
Repot juga punya istri imut dan cantik seperti Friska. Kemana-mana ada saja yang menggoda dan mendekatinya, padahal Gabriel kan tidak bisa disamping Friska terus selama dua puluh empat jam!
****
"Queena mana, Bund?" Tanya Gabriel saat makan malam karena tak melihat Queena di meja makan.
"Makan di kamar! Kelihatannya sedang marah. Kamu apakan tadi memangnya si Queena?" Cecar Bunda Laksmi seraya mendelik pada Gabriel. Sementara Friska memilih untuk diam saja dan tak mau ikut campur apalagi buka suara. Friska menikmati makan malamnya dalam diam, meskipun sebenarnya gadis itu tak berselera.
"Cuma Briel nasehati agar tak dekat-dekat dengan Franklyn brengsek menyebalkan itu!" Jawab Gabriel blak-blakan.
"Seusia Queena itu wajar jika menyukai lawan jenis, Briel! Tak perlulah kamu kekang sampai segitunya! Yang ada nanti anaknya malah berontak lalu berakhir seperti kamu dan Hana dulu-"
"Bunda!" Tegur Ayah Yuda memotong kalimat Bunda Laksmi yang malah mengungkit-ungkit masalalu Gabriel dan Hana dulu.
Dulu, saat Gabriel terang-terangan mengakui perbuatannya bersama Hana pada Ayah Yuda dan Bunda Laksmi, kedua orang tua Gabriel itu memang langsung shock. Bahkan kala itu Bunda Laksmi sempat mendiamkan Gabriel hampir satu bulan lamanya. Hingga akhirnya, Gabrian lah yang membuat Bunda Laksmi dan Gabriel kembali akur.
Tadinya, Ayah Yuda pikir itu adalah kali terakhir Gabriel membuat Bunda Laksmi kecewa. Namun nyatanya, setelah belasan tahun berlalu, Gabriel malah kembali membuat Bunda kandungnya itu kecewa dengan skandal pernikahannya bersama seorang gadis SMA dengan alasan yang bisa dibilang sangat konyol.
Ayah Yuda benar-benar tak habis pikir!
Suasana di meja makan mendadak berubah hening. Hanya terdengar denting peralatan makan karena semua anggota keluarga Ferdinand saling diam.
"Makan yang banyak, Fris! Agar tidak diinfus lagi karena pingsan," sekarang giliran Ayah Yuda yang mencairkan suasana seraya menyodorkan sepiring ayam goreng tepung ke hadapan Friska. Di situasi normal, Friska pasti akan langsung menyambutnya dengan senyuman bahagia. Namun berhubung sedang ada konflik di keluarga ini, Friska memilih tersenyum seadanya.
"Iya, Ayah! Nanti Friska ambil lagi kalau belum kenyang," jawab Friska seraya menerima piring ayam goreng tadi dari tangan Ayah Yuda, lalu meletakkannya kembali ke atas meja. Friska lanjut makan meskipun kini makanan di piringnya sudah tak berasa apa-apa, karena selera makan Friska sudah menguap pergi. Tapi Friska juga tak bisa begitu saja membuangnya, karena pasti Bunda Laksmi dan Ayah Yuda akan mengomeli Friska.
Suasana sudah keruh begini, jadi Friska tak perlu membuatnya menjadi keruh lagi.
****
"Fris, belum tidur?" Sapa Gabriel pada Friska yang masih berkutat dengan tugas matematikanya. Friska harus beberapa kali bertanya pada Sashi gara-gara tadi ia tidak ikut pelajaran dan merasa bingung dengan catatan Sashi yang lebih mirip resep dokter. Mungkin sahabat Friska itu cita-citanya memang jadi dokter.
Aamiin!
Asal bukan dokter cinta atau dokter-dokteran!
"Masih ngerjain peer sama nyalin catatan, Om! Tadi kan Friska nggak ikut pelajaran gara-gara pingsan," jawab Friska yang sudah tak ngambek lagi pada Gabriel.
"Peer apa? Butuh bantuan?" Tanya Gabriel seraya menarik kursi dari meja rias ke dekat meja belajar Friska.
Lucu memang!
__ADS_1
Selain lemari baju dan meja rias, di kamar Gabriel sekarang juga dilengkapi meja belajar untuk menaruh buku-buku pelajaran dan tas sekolah Friska. Terkadang Gabriel juga memakainya untuk mengerjakan pekerjaan yang terpaksa ia bawa pulang.
"Matematika. Om Briel bisa?" Tanya Friska seraya menyodorkan buku soalnya pada Gabriel.
"Bisa! Kecil ini!" Jawab Gabriel sombong. Gabriel mulai mengajari Friska serta sedikit menjelaskan bagian yang belum Friska pahami.
"Om," celetuk Friska yang mendadak jadi kepo perihal kalimat Bunda Laksmi tadi.
"Hmmm. Ada apa?"
"Tadi maksud bunda apa, sih? Yang pernah terjadi pada Om Briel daan Tante Hana itu apa?" Tanya Friska lagi yang sepertinya benar-benar kepo.
"MBA!" Jawab Gabriel singkat.
"Om Briel?" Friska membelalak tak percaya.
"Iya! Kenapa? Kaget?" Cecar Gabriel yang kini sudah menatap pada Friska.
"Nggak nyangka aja," Friska menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sejak dulu, anak kesayangannya Bunda itu kan memang Brian, yang penurut, nggak pernah bikin Bunda kecewa, selalu bisa nyenengin Bunda." Gabriel mulai curhat.
"Om yang sabar, ya! Om Briel juga baik, kok!" Friska menepuk punggung Gabriel untuk memberikan semangat pada suaminya tersebut.
"Kalau nggak ada Om, entah sudah jadi apa Friska sekarang," lanjut Friska lagi seraya tertawa kecil.
"Berarti nggak nyesel jadi istri aku, kan?" Tanya Gabriel menatap penuh harap pada Friska yang tampak berpikir untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya Friska menggeleng seraya tersenyum pada Gabriel.
"Istriku yang cantik!" Puji Gabriel seraya menangkup gemas wajah Friska.
"Om!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1