Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
TIDAK MUNGKIN


__ADS_3

"Kamu aja, Shi!" Friska memberikan bungkusan testpack pada Sashi yang menemaninya di salah satu bilik toilet yang ada di sekolah. Sudah ada air seni Friska di depan dua gadis itu dan sebuah testpack yang Sashi ambil dari kamar sang mama.


Tadi malam, setelah Friska melihat kalender dan menghitung-hitung, Friska sempat shock karena ternyata Friska sudah terlambat satu minggu lebih dari jadwal haid yang seharusnya. Semalaman Friska curhat ke Sashi hingga akhirnya Sashi menyarankan Friska untuk melakukan testpack saja dan Sashi juga berjanji akan membawakan alat tes kehamilan itu karena mamanya Sashi memang menyimpan banyak d kamar.


"Kalau dua garis gimana, Fris?" Tanya Sashi menyebutkan kemungkinannya.


"Aku nggak tahu!" Jawab Friska bingung.


"Kasih tahu bapaknya, lah, Fris!" Celetuk Sashi seraya menbaca sebentar petunjuk di bungkus testpack sebelum mulai melakukan tes. Alatnya hanya ada satu jadi Sashi tak boleh melakukan kesalahan!


"Baiklah! Celupin pelan-pelan!" Gumam Sashi yang mulai mencelupkan ujung testpack ke dalam air seni Friska.


"Pesing juga, Fris! Habis makan apa, kamu?" Celetuk Sashi lagi yang langsung berhadiah keplakan tangan dari Friska.


"Malah ngeledek!" Sungut Friska pada Sashi.


"Kan mencairkan suasana biar kamu nggak tegang!" Kekeh Sashi yang masih menunggu hasil testpack.


"Sudah belum?" Tanya Friska yang tetap cemas.


"Sudah!" Sashi mengangkat bilah testpack tadi dari gelas dan langsung terlihat dua garis merah yang sangat jelas.


"Dua garis, Fris!" Ucap Sashi lirih yang langsung membuat Friska lemas seketika.


"Selamat, ya!" Lanjut Sashi lagi menatap prihatin pada Friska yang masih terlihat lesu.


"Kamu nggak ember, kan, Shi!" Tanya Friska dengan tatapan kosong.


Friska hamil!


Friska benar-benar hamil sekarang.


"Masih aja tanya! Kalau aku ember, status kamu sebagai istri Om Briel pasti sudah tersebar di seantero sekolah!" Jawab Sashi seraya berbisik-bisik mungkin maksudnya biar tidak ada yang mendengar.


"Bantu aku ngumpetin ini, ya, Shi! Setidaknya sampai ujian," Friska merem*s perutnya sendiri yang masih datar. Namun perut datar itu akan segera membukit tak lama lagi. Friska jadi ingat kata-kata guru BK saat memperingatkan para siswa dan siswi agar tidak melakukan free *** sebelum menikah.


"Kalau tidak mau hamil! Ya jangan berhubungan suami istri!"


Ya,


Friska saja hampir setiap malam praktek bersama Om Briel. Jadi kalau sekarang Friska hamil, ya sudah resiko!

__ADS_1


"Iya, Fris! Kita kan teman!" Sashi mendekap Friska seolah sedang menyalurkan kekuatan untuk Friska.


"Tapi kamu bakal ngasih tahu Om Briel, kan?" Tanya Sashi memastikan.


"Lihat situasi dulu nanti. Om Briel kadang ceplas-ceplos," jawab Friska masih dengan tatapan kosongnya, hingga suara bel tanda masuk kelas membuat dia gadis itu melepaskan dekapan mereka.


"Beresin!" Ucap Sashi yang segera membungkus bekas testpack tadi dengan kresek hitam, lalu menyumpalkannya ke tong sampah di dalam toilet. Sedangkan Friska bertugas membuang gelas bekas air seninya tadi ke tong sampah juga. Setelah mencuci tangan dan membereskan jejak-jejak yang membuat curiga, kedua remaja itu keluar beriringan dari dalam toilet dan langsung menuju ke kelas mereka.


****


"Iya, saya benar-benar minta maaf, Pak! Nona Kate sedang todak enak badan dan pertemuan dengan anda akan saya jadwalkan ulang!" Jelas Gabriel berulang kali pada seorang rekan bisnis via sambungan telepon.


Entah ini sudah yang keberapa,namun pekerjaan Gabriel seharian ini hanyalah membatalkan semua jadwal Kate karena wanita itu tidak datang ke kantor dan tidak bisa dihubungi sama sekali.


Entah menghilang kemana Kate setelah kejadian penyiraman jus jeruk kemarin, wanita itu seolah lenyap ditelan bumi.


Kriiiing!


Telepon di meja Gabriel kembali berbunyi. Segera Gabriel mengangkatnya setelah mengumpat berkali-kali tentu saja!


"Halo selamat siang!" Sapa Gabriel seramah mungkin.


"Pak Briel, meeting Nona Kate-"


"Kau mau menggantikan Nona Kate?" Gabriel bercerocos seraya bersungut-sungut seperti Friska saat sedang PMS.


Terserah saja!


Gabriel sedang PMS sekarang karena Kate!


Gabriel kembali meletakkan gagang telepon dan pria itu memijit pelipisnya sendiri yang benarkah pening sekarang. Sudah berkas menumpuk banyak, jadwal berantakan! Semua pekerjaan Kate terpaksa Gabriel handle semua!


"Dasar bos egois!" Maki Gabriel kesal.


Gabriel kembali menarik nafas panjang dan meraih berkas-berkas yangbharis ia periksa. Padahal seharusnya ini adalah pekerjaan Kate. Gabriel akan minta gaji dua kali lipat bulan ini pokoknya!


****


"Kamu jualan kue juga, Fris?" Tanya Sashi saat melihat Friska yang sedang meng-upload foto kue kering ke media sosialnya.


"Kuenya Bunda!" Jawab Friska seraya meringis.

__ADS_1


"Aku dapat komisi setiap membantu Bunda membuat kue, jadu semakin banyak orderan yang masuk, semakin banyak kan komisi yang aku terima," cerita Friska dengan raut wajah berbinar.


"Tapi kan bentar lagi ujian, kamu bisa bagi waktu, emang? Nggak keteteran, gitu?" Tanya Sashi khawatir.


"Bisa, kok! Bunda selalu nyuruh aku belajar dulu sebelum mulai bantu bikin kue," jawab Friska yang langsung membuat Sashi mengangguk lega.


"Bunda kamu sebenarnya baik juga, ya!"


"Iya! Tapi nggak tahu kalau nanti Bunda tahu masalah ini," Friska kembali merem*s perutnya sendiri.


"Mungkin semua sikap baik Bunda akan langsung menguap pergi dan Bunda bakal ngomelin aku tujuh hari tujuh malam," lanjut Friska lagi yang raut wajahnya sudah berubah sendu.


"Belum tentu, Fris! Nanti juga Bunda seneng karena mau dapat cucu baru," hibur Sashi yang sudah kembali merangkul dan mendekap Friska.


"Tapi kalau aku pikir-pikur, ya, Fris! Misalnya Bunda kamu mau ngomel, seharusnya kan ngimelnya ke kamu dan Om Briel!"


"Secara, kalian kan bikinnya berdua!" Pendapat Sashi panjang lebar yang hanya membuat Friska tersenyum kecut.


"Bunda itu udah antisipasi! Udah ngasih pil kontrasepsi ke aku dan ngingetin buat minum."


"Kamu minum, nggak?" Sashi bertanya khawatir.


"Enggak, dibuang Om Briel! Kalau aku minum, masa iya aku hamil," jawab Friska yang langsung berbisik di akhir.


"Bagus! Jangan diminum! Nggak boleh minum itu kalau belum pernah hamil katanya," Cerocos Sashi panjang lebar.


"Yang bilang kayak gitu siapa?" Tanya Friska penuh selidik.


"Mama!" Sashi meringis.


"Alasannya?" Friska semakin kepo.


"Ya pokoknya nggak boleh!" Jawab Sashi setelah kebingungan beberapa saat.


"Udah, yuk! Ke kantin! Aku udah lapar!" Ajak Sashi seraya menarik lengan Friska dan mengajak sahabatnya itu untuk pergi ke kantin sekolah.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2