Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
KAU HAMIL?


__ADS_3

"Fris, masih makan malam?" Tanya Bunda Laksmi pada Friska yang baru selesai mengelap loyang-loyang yang tadi dipakai untuk memanggang kue.


"Friska masih kenyang, Bu! Nanti saja kalau lapar Friska makan sendiri," tolak Friska sebelum kemudian gadis itu bersendawa kenyang.


"Makan apa tadi? Kayaknya kamu tadi terakhir makan saat siang pulang sekolah." Bunda Laksmi bertanya curiga.


"Tadi pas antar kue di salah satu rumah pelanggan kita dikasih cake, Bund!" Gabriel menyela dan memberikan alasan untuk membantu Friska.


"Cake? Cake ulang tahun?" Bunda Laksmi masih menyelidik.


"Iya, anaknya pas ulang tahun dan katanya cake sisa banyak. Jadi kita berdua disuruh masuk makan cake," jawab Gabriel seraya tertawa kecil.


"Friska makan dua potong, Bund! Jadi kenyang," timpal Friska seraya mengusap perutnya sendiri. Bunda Laksmi akhirnya mengangguk dan percaya.


"Yasudah, nanti langsung istirahat saja, Fris kalau sudah selesai semua. Jangan tidur malam-malam dan Friska jangan diajak lembur, Briel!" Bunda Laksmi berpesan pada Gabriel yang hanya meringis.


"Mana pernah Gabriel ajak lembur, Bund! Biasa juga udah ngorok si Friska sebelum jam dua belas," kilah Gabriel yang langsung membuat Friska merengut.


"Mas itu yang ngorok! Friska nggak ngorok juga!" Gerutu Friska pada Gabriel.


"Mana kamu tahu? Kan kamu tidur trus yang liat aku," sergah Gabriel mencari pembenaran yang tentu saja semakin membuat Friska merengut.


"Friska mau tidur!" Ujar Friska akhirnya seraya menata loyang terakhir yang sudah selesai ia lap. Friska mencuci tangan, lalu pamit pada Bunda Laksmi dan langsung masuk ke kamar.


"Gabriel juga mau istirahat biar besok kuat ngurir dan kuat bantuin bunda nyetak adonan," Gabrian ikut-ikutan pamit pada Bunda Laksmi. Mumpung masih jam sembilan, bisalah Gabriel mengajak Fris main satu ronde. Sejak kasus pemecatan dirinya kemarin Gabriel belum minta jatah lagi ke Friska karena istrinya itu mengeluh sakit di bagian perut bawah. Tapi setiap Gabriel ajak ke dokter untuk periksa, Friska malah menolak.


Dasar Friska!


"Nanti bangun jam dua, ya! Bantuin bunda lagi!" Pesan Bunda Laksmi pada Gabriel.


"Siap, Bunda! Nanti Briel pasang alarm."


"Bunda istirahat juga, gih! Besok lanjug lagi bikin kuenya!" Gabriel memeluk Bunda Laksmi beberapa saat sebelum lanjut keluar dari dapur, lalu masuk ke kamar menyusul Friska.


Friska masih gosok gigi di dalam kamar mandi saat Gabriel masuk ke kamar.


"Ba!" Sapa Gabriel usil yang hanya membuat Friska memutar bola mata.


"Nggak bantuin bunda?" Tanya Friska masih dengan sikat gigi tersumpal di mulutnya.


"Bunda udah mau istirahat. Lanjut nanti jam dua," jawab Gabriel yang sudah melingkarkan lengannya di pinggang Friska, lalu pria itu menyandarkan kepalanya di pundak kanan Friska.


"Semakin montok!" Puji Gabriel seraya memainkan dada Friska.


"Auw!" Friska mengaduh saat Gabriel menyentuh ujung gundukan kenyalnya.


"Kenapa?" Gabriel segera membuka kancing piyama Friska untuk memeriksa dada istrinya tersebut.


"Mas!"


"Udah libur seminggu," bisik Gabriel mengingatkan.


"Tapi..."


"Tapi apa? Kamu sedang ada tamu?" Tanya Gabriel uang tangannya sudah meraba pangkal paha Friska untuk mencari keberadaan roti jepang.

__ADS_1


Tidak ada!


"Apa, sih!" Friska menyentak tangan Gabriel.


"Nggak haid. Trus kenapa nggak mau?" Tanya Gabriel penuh selidik.


"Nggak boleh nolak kalau suami minta, lho!" Lanjut Gabriel lagi mengingatkan Friska.


"Iya, tapi..."


"Tapi apa?" Gabriel bertanya tidak sabar.


"Mas Briel ember, nggak?" Friska balik bertanya karena masih merasa ragu untuk memberitahu Gabriel perihal kehamilannya.


"Masih tanya! Enggaklah!" Jawab Gabriel pongah.


"Tapi sering keceplosan! Udah, nggak jadi!" Friska kembali mengurungkan niatnya.


"Kok nggak jadi? Ada apa, sih?" Gabriel semakin penasaran.


"Udah, Friska mau bobok!" Friska mengancingkan kembali piyamanya dan hendak keluar dari kamar mandi.


"Fris, kayaknya kamu belum haid sebulan lebih." Celetuk Gabriel tiba-tiba seraya membuka lemari kecil di dekat wastafel kamar mandi, dimana Friska menyimpan pembalut serta kebutuhan wanitanya.


"Pembalut kamu masih utuh, Fris!" Gabriel menatap penuh selidik pada Friska yang kini mematung di ambang pintu kamar mandi.


"Fris!"


"Ini semua gara-gara Mas Briel!" Friska akhirnya kembali menghampiri Gabriel dan memukul-mukul dada suaminya itu.


"Kamu hamil?" Tanya Gabriel memastikan.


"Trus kenapa nggak bilang?" Gabriel sudah menangkup wajah Friska dan binar kebahagiaan tampak jelas di wajah Gabriel.


"Takut sama Bunda. Mas Briel kan ember," jawab Friska seraya merengut.


"Istri kecilku hamil!" Gabriel masih merasa tak percaya.


"Baru mau ujian padahal," Friska kembali merengut.


"Nanti belajarnya aku temani, ya! Aku pijitin juga kalau capek." Gabriel sudah bersimpuh di depan Friska, lalu mengecup perut Friska yang masih datar.


"Hai, calon jagoannya Papi!" Sapa Gabriel merasa gemas.


"Tahu darimana kalau jagoan? Kan masih kecil?" Tanya Friska bingung.


"Ya tahu aja! Yang ini harus jagoan!" Jawab Gabriel asal.


"Maksa! Kalau princess bagaimana?"


"Satu princess satu jagoan!" Gabriel memberikan jalan tengah.


"Gimana ceritanya bisa satu jagoan satu princess?" Tanya Friska bingung.


"Kembar! Kan aku kembar, jadi ada kemungkinan kamu mengandung bayi kembar juga!" Gabriel mulai berteori.

__ADS_1


"Nyatanya Queena nggak kembar," Friska membantah teori Gabriel dengan cepat.


"Ya, kan Queena baru percobaan. Yang kamu ini aku udah expert!" Ujar Gabriel yang mulai berteori ngawur.


"Apa bedanya expert dan pemula? Orang gerakan bikin anak juga cuma kayak gitu," Friska terheran-heran dengan teori aneh Gabriel.


"Kayak gitu bagaimana? Coba praktekin!" Rayu Gabriel mulai menggoda Friska.


"Nggak boleh sering-sering kata Bu bidan!" Friska menjelaskan pada Gabriel.


"Sering-sering apanya? Udah seminggu lebih belum nglakuin juga!"


"Yang nggak boleh itu kalau mainnya setiap hari! Kalau cuma seminggu sekali atau dua kali ya nggak apa-apa!" Gabriel sudah kembali membuka kancing piyama Friska.


"Tapi-"


"Nanti aku pelan-pelan! Aku kan udah pengalaman," Potong Gabriel seolah sedang berjanji pada Friska.


"Nanti perutnya Friska sakit, nggak?" Tanya Friska masih khawatir.


"Enggak!" Gabriel sudah menangkup wajah Friska, lalu tanpa menunggu lagi, Gabriel mulai menyatukan bibirnya dengan bibir Friska.


Pagutan Gabriel disambut Friska dengan segera dan pasangan suami istri itu sudah langsung larut dalam pagutan hangat dengan tangan yang bergerak lincah dan saling melucuti baju masing-masing.


"Hhhhh!" Nafas Friska sedikit terengah saat Gabriel mendaratkan tubuh Friska dengan lembut ke atas tempat tidur. Dua tubuh itu sudah sama-sama naked dan dipenuhi kabut gairah. Gabriel mengarahkan miliknya ke depan milik Friska.


"Mas!" Friska mengusap lengan Gabriel dan menatap ke dalam manik mata suaminya tersebut.


"Pelan-pelan!" Pesan Friska seraya memejamkan matanya.


Friska selalu melakukan hal itu saat sedang bercinta bersama Gabriel, seolah masih terbawa dengan yang terjadi diantara mereka saat dulu pertama kali melakukan penyatuan.


Gabriel mendorong pelan miliknya sambil menatap wajah Friska yang terlihat meringis.


Milik Friska selalu saja terasa sempit dan menjepit


Gabriel terus mendorong dengan pelan dan hati-hati, hingga akhirnya milik Gabriel sudah tenggelam sepenuhnya ke dalam milik Friska.


"Sakit?" Tanya Gabriel seraya mengusap wajah Friska.


"Sedikit. Mas nggak pakai sarung ajaib?" Friska mengingatkan.


"Udah hamil juga," Gabriel tertawa kecil.


"Keluarin di dalam juga nggak masalah!" Lanjut Gabriel seraya tersenyum penuh kemenangan.


Ya!


Tongkat yang bebas memang lebih terasa enak ketimbang yang sarungan.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2