Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
MAMI?


__ADS_3

"Ini keripiknya, ya, Bu! Ada dua puluh bungkus," lapor Friska pada pemilik warung tempat Mbak Ririn biasa menitipkan keripik untuk dijual.


"Iya!"


"Ini uang keripik yang kemarin." Ibu pemilik warung mengangsurkan uang pada Friska.


"Terima kasih, Bu! Boleh numpang duduk sebentar?" Tanya Friska yang langsung diiyakan oleh ibu pemilik warung.


Friska duduk di bangku panjang yang ada di depan warung.


"Capek, ya, Mbak?" Tanya Isma, seorang anak asuh di panti yang tadi memang berkeliling bersama Friska.


"Sedikit. Mbak istirahat bentar, ya!" Jawab Friska yang hanya membuat Ismi mengangguk.


"Sudah berapa bulan itu kandungannya, Dek? Udah besar banget?" Tanya ibu pemilik warung yang juga duduk bersama Friska dan Isma.


"Enam bulan, Bu!" Jawab Friska.


"Kok udah gede banget? Jangan minum es manis banyak-banyak! Nanti bayinya gede di dalam, mau lahiran kan susah," Ujar ibu pemilik warung mengingatkan.


"Kata bidan kembar, Bu! Jadi besar," terang Friska yang langsung membuat ibu pemilik warung membulatkan bibirnya.


"Oh, kembar! Seneng, ya! Nanti sekali lahiran langsung dapat dua," ibu pemilik warung tertawa renyah dan Friska ikut tersenyum.


"Iya, Bu!" Jawab Friska seraya mengusap perutnya yang sudah membulat sempurna. Ada nyeri di hati Friska karena setiap Friska mengusap dan merasakan tendangan dari kedua calon bayinya, Friska jadi teringat pada Gabriel yang mungkin sekarang masih mendekam di balik jeruji besi.


Friska rindu berat pada suami yang usianya selisih empat belas tahun darinya tersebut.


Sebuah bus pariwisata yang melintas di depan warung membuyarkan lamunan Friska. Tidak hanya satu, melainkan ada enam bus yang melintas beriringan.


"Lagi rame itu di bawah, banyak siswa SMP yang study tour ke sana," ujar Ibu pemilik warung memberitahu Friska dan Isma. Maksud ibu pemilik warung adalah sebuah pantai yang memang berada tak jauh dari panti asuhan tempat Friska bernaung saat ini.


"Memang itu pantainya sudah dibuka untuk umum dan wisata, ya, Bu?" Tanya Friska menyelidik. Setahu Friska dulu pantai itu hanya menjadi sandaran kapal bagi para nelayan dan bukan objek wisata.


"Sudah dari beberapa bulan yang lalu. Tapi memang masih sepi karena belum banyak yang tahu. Kenarin juga ada rombongan study tour yang mampir ke sana." Terang ibu pemilik warung.


"Kita coba ke sana, yuk, Mbak! Kali aja ada yang mau beli keripik."


"Sekalian lihat pemandangan pantai," ajak Isma pada Friska.


"Emmmm, baiklah! Tapi jalan pelan-pelan saja, ya!" Jawab Friska yang langsung membuat Isma mengangguk. Dua perempuan itupun berjalan beriringan menuju ke arah pantai setelah berpamitan pada ibu pemilik warung.


****


Queena menatap birunya laut dari jendela bus yang ia tumpangi. Sudah cukup lama Queena tidak pergi ke pantai, dan pantai yang kini ia kunjungi berbeda dengan pantai di dekat rumah. Pantai disini tersembunyi diantara bukit-bukit batu, membuat pemandangannya terasa memanjakan mata.

__ADS_1


Bus sudah berhenti di tempat parkir dan para siswa segera bersiap untuk turun. Seperti biasa, guru pendamping memberikan pesan-pesan tentang apa-apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan siswa serta memberitahu jam berapa harus kembali ke bus agar tidak hilang atau tertinggal.


Queena mengikuti langkah teman-temannya yang sudah turun duluan, dan angin pantai yang begitu menyejukkan langsung menyambut Queena saat gadis itu turun dari bus.


"Ya ampun! Pemandangannya bagus banget!" Gumam Queena seraya mengambil beberapa foto memakai ponselnya agar nanti bisa Queena tunjukkan pada Papi, Oma, dan Opa.


Queena lanjut menenteng tasnya menuju ke bibir pantai bersama teman-teman yang lain. Queena langsung berbaur bersama teman-temannya dan ikut bermain ombak. Sejenak gadis itu bisa melupakan kesedihannya tentang Mami Friska yang belum ada kabar hingga detik ini.


****


"Udah nggak ada orang, Mbak!" Lapor Isma saat ia dan Friska sampai di parkiran bus. Friska sudah langsung duduk di bangku semen yang ada disitu dan menarik nafas berulang kali.


"Sudah pada turun ke pantai sepertinya, Is! Kamu jalan ke pantai sana! Mbak tunggu aja disini," ujar Friska pada Isma.


"Nggak apa-apa, Mbak Friska disini sendiri?" Tanya Ismi ragu.


"Nggak apa-apa! Udah sana! Tapi jangan keasyikan main air!" Pesan Friska yang hanya membuat Isma terkekeh. Gadis yang usianya sepantaran dengan Queena tersebut sudah berlari-lari kecil menuju ke arah pantai seraya menenteng keripik di tangannya.


Ah, Friska jadi ingat pada Queena. Bagaimana kabar Queena sekarang?


Apa putri sambung Friska itu masih ingat pada Friska?


Setelah beristirahat untuk beberapa saat, Friska kembali bangkit berdiri dan ibu hamil itu berniat untuk berkeliling di tempat parkir menjajakan keripik buatan Mbak Ririn yang masih ada di tangannya. Friska menghela nafas panjang sekali lagi sebelum mulai berjalan dan berkeliling di sekitar tempat parkir.


****


"Keripik kayaknya. Lumayan buat camilan." Jawab Queena seraya bangkit berdiri.


"Beli, yuk!" Ajak teman Queena yang langsung membuat Queena mengangguk. Dua remaja SMP itu menghampiri Isma yang masih menikmati birunya air laut ditambah gulungan ombak yang datang silih berganti.


"Keripiknya berapaan?" Tanya Queena pada Isma.


"Lima ribuan saja, Kak! Mau yang mana? Pilih sendiri!" Isma menyodorkan ikatan keripik tadi pada Queena dan temannya, tak berselang lama siswa lain ikut mendekat dan membeli keripik juga.


Hanya dalam waktu sekejap, keripik yang dibawa Isma sudah ludes terjual.


"Ada lagi, nggak keripiknya? Rasanya enak. Aku mau beli buat oleh-oleh," tanya Queena yang kembali menghampiri Isma yang hendak meninggalkan pantai.


"Ada, sih! Tapi kemasan besar harga dua puluh ribuan. Dibawa mbak aku ditempat parkir," jawab Isma seraya menunjuk ke arah tempat parkir.


"Tapi isi dan rasanya sama, kan?" Tanya Queena memastikan.


"Sama, Kak!"


"Yaudah! Aku beli dua bungkus--"

__ADS_1


"Tiga bungkus lima puluh ribu sudah, Kak!" Sergah Isma memberikan harga promo untuk Queena.


"Yess! Aku beli lima puluh ribu kalau begitu," jawab Queena cepat.


"Yaudah, aku ambil dulu ke atas," pamit Isma selanjutnya pada Queena.


"Tunggu! Aku ikut ke atas!" Ujar Queena seraya mengikuti langkah Isma. Queena sudah selesai bermain bersama ombak di pantai dan mau ganti baju saja, lalu berkeliling di area pantai mencari cenderamata atau souvenir.


"Queen, mau kemana?" Serubteman Queena dari bibir pantai.


"Ganti baju! Bye!" Pamit Queena seraya melambaikan tangan pada temannya.


"Nama kamu Queen? Bagus, ya?" Puji Isma setelah tahu nama Queena.


"Queena lebih tepatnya. Nama kamu siapa?" Queena balik bertanya pada Isma.


"Isma!" Jawab Isma singkat.


"Kamu tinggal di sekitar sini? Enak, ya bisa ke pantai setiap hari," tanya Queena yang langsung membuat Isma terkekeh.


"Iya begitulah!"


"Itu mbak aku!" Ucap Isma selanjutnya seraya menunjuk ke arah seorang wanita hamil berambut sebahu yang sedang duduk di bangku semen.


"Mbak Friska!" Panggil Isma yang langsung membuat Friska menoleh dan Queena mematung di tempatnya. Queena memperhatikan dengan seksama wanita hamil tadi sambil berjalan mendekat ke arahnya.


Semakin jelas terlihat kalau itu memanglah seseorang yang selama beberapa bulan ini Queena rindukan dan Queena cari-cari keberadaannya.


"Mami Friska!"


.


.


.


Aneh, ya!


Upload bab yang ini sama Robert lancar jaya. Giliran Tiff-Gika kok macet, ya?


Mosok harus kuselipin disini episodenya Tiff-Gika 🙄🙄


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2