
Gabriel membuka pintu kamar seraya memanggil nama Friska berulang kali.
"Fris!"
"Friska!"
Tak ada sahutan.
Gabriel memeriksa kamar mandi dan ternyata kosong juga. Lalu Friska kemana? Bukankah tadi Friska masuk ke kamar.
"Friska!" Panggil Gabriel sekali lagi seraya keluar dari kamar dan Friska terlohat menghampiri Gabriel dengan raut wajah tertunduk lesu.
"Fris, kamu darimana?" Tanya Gabriel yang sudah merengkuh kedua pundak istrinya tersebut.
"Teras," jawab Friska berdusta. Jelas-jelas kalau Friska tadi habis menguping perdebatan Gabriel dan Bunda Laksmi.
"Fris, aku minta maaf soal sikap aku di mall tadi." Friska langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dan melepaskan kedua tangan Gabriel yang masih merengkuh pundaknya.
"Friska yang harusnya minta maaf, karena sudah bersikap kekanakan dan membuat malu pacar Om Briel-"
"Aku dan Kate bukan pacar, Fris!" Gabriel menyela penuh emosi.
"Calon istri," Friska mengoreksi.
"Kamu sebenarnya kenapa, sih? Berapa kali aku harus bilang kalau aku dan Kate itu tidak ada hubungan apa-apa! Aku hanya asisten Kate tidak kurang tidak lebih!"
"Tapi bukankah Bunda dan Queena menginginkan ada apa-apa diantara Om Briel dan Tante Kate! Jadi silahkan saja Om nikahi Tante Kate dan Friska akan keluar dari rumah ini, agar Friska tak lagi dianggap sebagai beban!" Friska sudah berurai airmata.
"Kau tidak akan kemana-mana! Kau istriku, tanggung jawabku! Jadi tak perlu mendengarkan omongan Bunda dan Queena! Aku mencintaimu, Fris!" Gabriel sudah mendekap Friska yang kini menangis tergugu.
"Aku mencintaimu!" Ucap Gabriel sekali lagi masih sambil mendekap dan mengusap punggung Friska.
"Friska mau ke rumah Sashi," cicit Friska yang masih dipeluk oleh Gabriel.
"Mau ngapain? Menemui Jimmy?" Sergah Gabriel emosi.
"Cuma mau curhat sama Sashi. Sekalian nginep," Friska menjawab takut-takut.
"Nggak!" Tolak Gabriel tegas.
"Curhat lewat video call kan bisa! Tidak harus datang kesana, menginap! Nanti Jimmy kesenengan!" Cerocos Gabriel menunjukkan kecemburuannya.
"Orang abang Jimmy sudah punya cewek sekarang!" Gumam Friska yang sudah melepaskan dekapan Gabriel, lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Friska berulang kali membasuh wajahnya dengan air dingin, lalu menatap wajahnya sendiri di kaca toilet. Wajah Friska terlihat sembab sekarang.
"Kamu tadi ngapain di mall? Bolos?" Tanya Gabriel yang sudah menyusul Friska ke kamar mandi dan merangkul istrinya tersebut.
__ADS_1
"Pulang cepat! Trus ditraktir Sashi," jelas Friska yang kembali membasuh wajahnya. Gabriel mengambil satu handuk kecil, lalu membantu menyeka sisa air di wajah istrinya tersebut.
"Masih ngambek?" Tanya Gabriel seraya menangkup dagu Friska. Gadis itu langsung menggeleng.
"Katanya tadi mau curhat ke Sashi?" Tanya Gabriel lagi mengingatkan Friska.
"Nggak jadi! Nanti Om Briel nguping lagi!" Jawab Friska seraya berlalu keluar dari kamar mandi meninggalkan Gabriel yang kini tergelak.
"Yaudah, temani aku mandi, yuk!" Ajak Gabriel sembari mengerling nakal ke arah Friska.
"Nggak boleh lama-lama mandinya! Nanti Bunda marah!" Jawab Friska mengingatkan Gabriel yang sudah kembali tergelak.
"Trus sekarang kamu mau kemana?" Tanya Gabriel pada Friska yang sudah kembali meraih knop pintu kamar.
"Bantuin bunda bikin kue! Biar nggak dikutuk jadi sagu keju!" Jawab Friska asal sebelum gadis itu menghilang di balik pintu kamar. Gabriel hanya tertawa kecil dan memilih untuk segera mandi saja, agar bisa segera menyusul Friska juga untuk membantu Bunda Laksmi.
****
"Bunda, masih ada yang bisa Friska bantuin?" Tanya Friska pada Bunda Laksmi yang sedang duduk bersama Queena mengemas kue pesanan.
Bunda Laksmi menghentikan sejenak aktivitasnya lalu menatap ke arah Friska yang hanya menundukkan wajah, kemudian menghela nafas dan baru menjawab,
"Sudah dibantuin Queena. Sudah mau selesai juga," nada bicara Bunda Laksmi hanya datar dan tak ketus sama sekali.
Tumben.
"Friska minta maaf karena tadi udah pergi sebelum menyelesaikan pekerjaan, Bund!" Ucap Friska lagi masih sambil menundukkan wajah.
"Besok lagi, Fris! Kalau lihat Gabriel bersama Kate atau siapapun, tanya dulu baik-baik dan jangan asal main labrak saja!" Nasehat Bunda Laksmi yang nada bicaranya sudah berubah tegas.
"Iya, Bunda! Friska minta maaf. Tadi itu hanya gerakan spontan," Friska memainkan kedua telunjuknya dan berucap penuh sesal.
"Iya, sudah! Kamu istirahat sana, Friska! Besok masuk sekolah, kan?" Titah Bunda Laksmi akhirnya pada Friska yang masih menunduk dan merengut.
"Iya, Bunda!"
"Jangan lupa pilnya diminum, ya? Ini sudah tengah bulan. Kamu sudah dapat tamu, kan?" Tanya Bunda lagi yang langsung membuat Friska diam untuk beberapa saat.
Masa udah tengah bulan?
Jadwal haid Friska udah telat dari jadwal berarti.
Mati, kau Friska! Biasanya telat paling lama hanya satu hari, ini sudah berapa hari?
"Fris, kok melamun?" Tegur Bunda Laksmi yang langsung membuat Friska tersentak.
"Eh, iya, Bunda! Friska sudah dapat tamu bulanan, kok!" Jawab Friska terpaksa berdusta.
__ADS_1
"Pilnya tetap diminum! Jangan lupa! Ujian bentar lagi, kan?" Pesan Bunda Laksmi.
"Iya, bulan depan ujian," Friska meringis.
"Yasudah, sana istirahat!" Titah Bunda Laksmi sekali lagi dan Friska tak menjawab lagi, lalu langsung pergi ke kamar. Friska ingin secepatnya melihat kalender untuk memastikan ia sudah telat berapa hari.
Semoga Friska tidak hamil.
Semoga Friska tidak hamil.
Semoga Friska tidak hamil.
"Fris! Nggak bantuin, Bunda?" Tanya Gabriel yang baru keluar dari kamar.
"Udah ada Queena dan hampir selesai juga. Kata Bunda, Friska disuruh istirahat saja," jelas Friska yang langsung membuat Gabriel mendapatkan ide nakal.
"Main bentar, yuk!" Bisik Gabriel merayu Friska seraya mengusap dada Friska yang masih tertutup kaus longgar warna abu. Gadis itu refleks menggelinjang karena tumben rasanya geli sekali saat Gabriel menyenggol ujungnya.
"Nggak ah! Nanti nyangkut lagi sarungnya." Tolak Friska bersamaan dengan panggilan Bunda Laksmi dari arah dapur pada Gabriel.
"Briel!"
"Tu! Dipanggil Bunda! Friska ke kamar dulu, Bye!" Pamit Friska sedikit meledek Gabriel sebelum kemudian gadis itu melesat masuk ke kamar. Sementara Gabriel memilih untuk ke dapur memenuhi panggilan Bunda Laksmi sebelum ada omelan panjang.
"Iya, Bund! Ada apa?" Tanya Gabriel seraya mencomot sisa kue dari loyang.
"Kamu anterin pesanan-pesanan kue ini, ya! Bareng Queena sana!" Perintah Bunda Laksmi.
"Memang harus malam ini anternya?" Tanya Gabriel yang sudah ganti garuk-garuk kepala.
"Cuma ke kompleks sebelah, Pi! Kuenya mau buat oleh-oleh," bukan Bunda Laksmi melainkan Queena yang menjelaskan.
"Baiklah!" Jawab Gabriel akhirnya menyanggupi.
"Naik motor saja, Pi!" Usul Queena seraya membawa satu kotak kue, sedangkan Gabriel membawa dua sisanya dan mengekori sang putri.
"Iya, iya! Paling pulangnya minta ditraktir martabak manis!" Goda Gabriel yang sudah hafal kebiasaan Queena.
"Kan papi udah lama nggak beliin martabak manis buat Queena!" Jawab Queena mencari alasan.
"Iya, nanti papi beliin, Queena sayang!" Pungkas Gabriel lebay sebelum pria itu melajukan motornya ke kompleks sebelah untuk mengantar kue sambil membonceng Queena yang sudah kembali akrab dengan Gabriel.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.