
Friska kembali duduk di bangku semen yang ada di area parkir setelah tadi sempat berkeliling menjajakan keripiknya dan hanya laku satu bungkus.
"Lapar, ya, Sayang? Kita pulang habis ini, ya!" Gumam Friska seraya mengusap perutnya dan tersenyum tipis. Friska kembali mengarahkan pandangannya ke arah jalan yang menuju ke pantai. Isma masih belum kembali, jadi Friska akan menunggu sebentar.
"Mbak Friska!"
Setelah beberapa saat, akhirnya terdengar suara Isma yang memanggil Friska dari kejauhan. Friska yang sejak tadi termenung langsung menoleh ke arah Isma yang datang bersama seorang gadis remaja.
Tunggu, bukankah itu....
Friska masih mengamati gadis yang bersama Isma tersebut, saat si gadis sudah berlari dan berseru ke arahnya.
"Mami Friska!" Seru gadis itu yang suaranya mirip Queena.
Tapi itu memanglah Queena!
Ya, itu benar-benar adalah Queena!
"Mami Friska!" Queena tiba-tiba sudah berada di hadapan Friska dan memeluk Friska dengan erat.
"Mami kemana saja?" Tangis Queena yang tetap memeluk erat Friska seolah tidak mau untuk melepaskannya.
"Queena?" Gumam Friska lirih yang benar-benar kaget karena berjumpa Queena di tempat wisata ini.
"Adik-adiknya Queena!" Queena ganti mengusap dan meletakkan kepalanya di perut Friska yang sudah membola.
"Kamu ngapain disini, Queen?" Tanya Friska yang masih linglung.
"Study tour," jawab Queena lirih.
"Tapi Queena seneng karena akhirnya Queena bisa bertemu mami lagi." Queena masih tetap memeluk Friska.
"Ayo pulang, Mi!" Ajak Queena selanjutnya.
"Pulang?"
__ADS_1
"Pulang kemana? Mami sudah di rumah," jawab Friska lirih dengan tatapan mata kosong.
"Di rumah siapa? Rumah mami itu di rumahnya Oma! Bareng Queen, bareng Oma, Opa, dan Papi!" Sergah Queena yang tangisnya sudah menjadi.
"Itu bukan rumah mami!" Sentak Friska seraya melepaskan pelukan Queena.
"Mami tidak akan pulang lagi ke rumah itu, karena Bunda dan Ayah mau memisahkan Mami dari kedua bayi mami, Queen!" Tutur Friska seraya mengusap perutnya sendiri. Tentu saja ucapan Friska tersebut langsung membuat Queena kaget bukan kepalang.
"Kenapa mami berpikir seperti itu? Oma tidak mungkin memisahkan Mami dari kedua bayi Mami--"
"Mami dengar sendiri!" Sergah Friska memotong kalimat Queena.
"Mami dengar sendiri kalau Bunda itu merasa sudah kewalahan menampung mami di rumah! Bunda udah nggak kuat dan habis kesabaran."
"Lalu Ayah mengajukan ide agar menunggu sampai bunda lahiran, lalu setelahnya, mereka akan menawarkan kedua bayi Mami ke tetangga atau ke siapa saja yang mau mengadopsi!"
"Kami ini manusia dan bukan barang yang bisa diberikan begitu saja pada orang! Bisa dioper kesana dan kesini! Dipisahkan begitu saja!" Friska menyeka airmata yang sudah bercucuran di kedua pipinya.
"Mami tidak akan pulang lagi ke rumah itu, karena mami tidak mau menjadi beban untuk Ayah dan Bunda!"
"Lebih baik mami hidup seperti sekarang, asalkan tidak ada yangg memisahkan mami dari kedua bayi mami!" Pungkas Friska seraya meraih lengan Isma yang sejak tadi hanya mematung bingung atas perdebatan Friska dan Queena.
"Mami!" Panggil Queena yang berusaha mengejar Friska, namun panggilan dari guru pembimbing membuat Queena mengurungkan niatnya. Rasanya sia-sia juga jika Queena membujuk Friska sekarang karena mami sambungnya itu terlihat marah pada Oma dan Opa.
Tapi benarkah yang dikatakan oleh Friska?
Benarkah Oma dan Opa berniat memberikan kedua adik Queena pada tetangga dan orang lain karena menganggap Mami Friska sebagai beban di rumah?
Kalau semua yang dikatakan Mami Friska benar, Queena benar-benar akan murka pada Oma dan Opanya.
Queena membuka ponselnya dan hendak menghubungi Gabriel. Namun sial seribu sial karena tidak ada sinyal di area tersebut.
"Ck!"
Queena hanya bisa berdecak kesal dan akhirnya gadis itu berganti baju mengikuti teman-temannya, karena bus juga akan segera meninggalkan objek wisata sebentar lagi.
__ADS_1
****
Bus pariwisata yang mengangkut rombongan murid dan guru tiba kembali di sekolah Queena pagi-pagi buta. Kemarin setelah meninggalkan pantai, bus memang mampir sebentar ke pusat oleh-oleh, lalu baru melanjutkan perjalanan pulang pukul delapan malam. Queena sendiri memilih untuk tak turun dari bus sejak bus meninggalkan pantai dan gadis itu sibuk mencatat serta mengingat-ingat nama pantai dimana Mami Friska tinggal.
Queena sudah tak sabar untuk segera menyampaikan pada Papi Gabriel tentang keberadaan Mami Friska di sebuah panti asuhan dekat pantai. Sekalian Queena mau mencecar Bunda Laksmi dan Ayah Yuda perihal pengakuan dan alasan mami Friska pergi meninggalkan rumah. Apa benar, Oma dan Opa Queena itu memang berniat membuang kedua bayi Mami Friska dari rumah?
Queena memilih turun dari bus belakangan. Papi Briel rupanya sudah tiba di sekolah dan sudah siap menjemput Queena.
"Hai--" Gabriel baru menyapa Queena saat putrinya itu tiba-tiba sudah menghambur ke pelukan Gabriel.
"Queena bertemu mami, Pi!" Ucap Queena yang sesaat membuat Gabriel bingung.
Bertemu Mami?
Maksudnya Mami Friska?
"Mami Friska?" Tanya Gabriel memastikan seraya menangkup wajah Queena.
Queena mengangguk.
"Lalu sekarang mami mana? Nggak kamu ajak pulang?" Cecar Gabriel pada sang putri.
"Mami nggak mau pulang, Pi! Queena udah bujuk-bujuk, tapi mami tetap nggak mau pulang!"
"Kata Mami, Oma dan Opa berniat memberikan kedua bayi mami ke tetangga setelah lahir nanti, karena kata Oma dan Opa, Mami Friska itu hanya jadi beban di rumah."
"Itulah alasan kenaoa mami kabur dari rumah dan nggak mau pulang sampai sekarang," cerita Queena panjang lebar yang langsung membuat Gabriel naik darah.
Gabriel menarik tangan Queena dengan cepat ke arah motor, lalu pria itu segera melajukan motornya ke arah rumah dan menembus dinginnya udara pagi. Gabriel ingin secepatnya menanyakan pada Bunda Laksmi dan Ayah Yuda kebenaran tentang apa yang sudah dikatakan Friska.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.