
Friska kembali memegangi kepalanya setelah selesai mengerjakan tugas yang baru saja diberikan guru yang mengajar hari ini.
Aneh sekali, tadi saat berangkat perasaan Friska sudah sarapan dan tidak pusing sama sekali. Lalu kenapa sekarang kepala Friska sakit sekali?
"Eh!" Friska terdiam sejenak saat merasakan sesuatu yang keluar dari pangkal pahanya, lalu membasahi underwearnya.
Gawat!
"Kenapa, Fris?" Tanya Sashi heran saat melihat wajah pucat Friska.
"Aku kayaknya datang bulan," bisik Friska pada Sashi.
"Bawa roti jepang nggak? Aku bawa ini kalau kamu nggak bawa," tanya Sashi ikutan berbisik-bisik.
"Bawa, sih! Tapi kok kayaknya banyak banget, Shi!" Ujar Friska semakin pucat.
"Coba angkat dikit bokongmu, biar aku intip!" Sashi mencetuskan sebuah ide.
"Yaudah, buruan!" Friska mengangkat sedikit bokongnya dan Sashi langsung sigap mengintip.
"Nggak ada apa-apa! Udah buruan ke toilet!" Ujar Sashi sedikit mendorong Friska.
Friska tak membuang waktu lagi dan segera minta izin pada guru yang sedang mengajar. Setelah dapat izin, Friska bergegas menuju ke toilet.
****
"Kok tumben banyak banget, sih? Padahal kan hari pertama," gumam Friska setelah selesai memakai roti jepangnya. Gadus itu beroegangan pada tembok toilet sekolah karena mendadak banyak kunang-kunang di sekitarnya.
"Friska memejamkan mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya,lalu keluar dari toilet masih sambil berpegangan pada dinding.
"Ya ampun! Ini kepala kenapa?" Gumam Friska lagi yang lanjut melangkah menuju ke kelas. Suara riuh anak-anak yang bermain basket saat Friska lewat di pinggir lapangan basket,malah membuat kepala Friska semakin pening dan kunang-kunang di sekitarnya semakin banyak saja.
Friska kembali melangkah saat tiba-tiba lantai tempatnya berpijak terasa berputar. Friska menatap ke sekeliling dan mendadak semuanya jadi gelap.
Friska jatuh pingsan tepat di pinggir lapangan basket dan langsung menjadi perhatian beberapa siswa yang berolahraga. Hingga seorang siswa cowok menghampiri Friska dan memboppng tubuh gadis itu masuk ke UKS sekolah.
__ADS_1
****
Gabriel mengetuk pintu ruangan Kate, sebelum mendorongnya hingga terbuka. Pria itu sedikit kaget saat mendatang Tuan Steinberg yang duduk di kursi kerja Kate dan bukan Kate.
Aneh sekali!
Kate kemana?
"Selamat pagi, Tuan Steinberg!" Sapa Gabriel sopan.
"Pagi, Briel! Kau bawa berkas untuk meeting?"
"Iya, saya membawanya," jawab Gabriel yang langsung memberikan tumpukan kertas di tangannya pada Tuan Steinberg.
"Ngomong-ngomong, Nona Kate tidak ke kantor hari ini, Tuan?" Tanya Gabriel berbasa-basi.
"Kate sedang liburan. Katanya dia stress dengan pekerjaan dan suasana kantor dan wajahnya terlihat murung. Jadi aku biarkan saja dia berlibur selama sepekan." Jelas Tuan Steinberg yang langsung membuat Gabriel membulatkan bibirnya.
"Ngomong-ngomong, apa kau tahu siap pacar Kate, Briel?" Tuan Steinberg gabti melontarkan pertanyaan pada Gabriel.
"Saya tidak tahu, Tuan!" Jawab Gabriel tergagap.
"Kate mengatakan kalau dia sudah punya pacar saat aku ingin menjodohkannya dengan calon menantu pilihanku."
"Makanya aku penasaran, siapa pacar Kate," cerita Tuan Steinberg yang juga sekalian mencurahkan isi hatinya.
"Atau jangan-jangan pacar Kate adalah kau?" Seloroh Tuan Steinberg yang sepertinya sedang mengajak Gabriel berkelakar.
"Sama sekali bukan, Tuan! Saya sidah menikah!" Jawab Gabriel tegas yang langsung membuat Tuan Steinberg kaget.
"Kau sudah menikah? Kapan? Kenapa tidak ada undangan yang mampir kepadaku?" Cecar Tuan Steinberg menatap tak senang pada Gabriel.
"Iya, baru beberapa minggu." Gabriel meringis.
"Acaranya hanya sederhana dan dihadiri keluarga saja," lanjut Gabriel lagi.
__ADS_1
Tuan Steinberg langsung mengangguk mengerti dan tak bertanya lagi. Urusan Gabriel di ruangan tersebut juga sudah selesai, jadi Gabriel segera undur diru dan kembali ke ruangannya sendiri. Saat itulah, tiba-tiba ponsel Gabriel berbunyi dan ada nama Friska yang tertera di layarnya.
Tumben Friska menelepon Gabriel saat jam sekolah. Apa gadis itu terkena razia keperawanan?
"Halo, Fris!" Sambut Gabriel lembut pada istri remajanya.
"Om Briel, ini Sashi!"
"Oh, Sashi! Ada apa, Shi? Krnapa menelepon pakai ponsel Friska? Friskanya mana?" Cecar Gabriel pada sahabat Friska tersebut.
"Friska pingsan di sekolah, Om!"
"Apa? Bagaimana bisa? Apa Friska sakit?" Gabriel mulai panik sekarang. Tadi pagi saat Gabriel antar ke sekolah Friska masih segar bugar dan tidak ada tanda-tanda gadis itu sakit.
"Sashi juga kurang tahu, Om! Friska sekarang di UKS."
"Jangan-jangan Friska hamil, Om!"
Celetukan dan tebakan Sashi malah membuat Gabriel makin kalang kabut.
Baru Gabriel tusuk beberapa kali dan semuanya keluar di luar, masa iya bisa hamil?
"Aku akan kesana sekarang! Kamu jaga Friska dulu, Shi!"
"Baik, Om!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1