Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
KABAR


__ADS_3

"Ada lagi yang bisa Friska bantu, Mbak?" Tanya Friska pada Mbak Ririn, salah satu orang tua asuh di panti asuhan tempat Friska bernaung saat ini.


Dulu, Friska sering mengunjungi panti asuhan ini bersama Mama dan Papa saat kedua orang tua Friska itu masih ada. Kedua orangtua Friska memang salah satu donatur disini. Namun setelah kasus yang menimpa kedua orang tua Friska hingga akhirnya kecelakaan merenggut nyawa keduanya, Friska tak pernah lagi mengunjungi panti asuhan ini. Dan sekarang Friska kembali kesini dan menumpang tinggal di sini.


"Kamu istirahat saja, Fris! Dari tadi sudah mondar-mandir juga. Kasihan itu dedeknya kalau kamu kecapekan," Mbak Ririn mengendikkan dagunya ke arah perut Friska yang sudah mulai terlihat membulat.


"Nggak enak kalau Friska istirahat, sementara Mbak Ririn masih sibuk di dapur," jawab Friska mencari alasan. Tak berselang lama, terdengar suara klakson dari mobil pick up yang biasa mengantar beberapa bahan pokok sumbangan dari donatur juga untuk anak-anak di panti asuhan.


"Siang!" Sapa sopir pick up yang langsung nyelonong masuk ke dapur.


"Siang, Gus! Lama nggak kelihatan?" Sapa Mbak Ririn pada sopir pick up yang dipanggil Gus itu?


Agus?


"Biasalah, Mbak! Lagi banyak acara," jawab Gus Gus itu tadi.


"Ck! Udah kayak orang penting aja!" Cibir Mbak Ririn pada Bagus.


"Trus ini siapa, Mbak? Anak asuh baru?" Tanya Gus Gus selanjutya seraya menunjuk ke arah Friska yang masih sibuk menyiangi bayam untuk dimasak sayur bening bayam untuk makan siang anak-anak.


"Iya!" Jawab Mbak Ririn seraya terkekeh.


"Yang bener dong, Mbak!"


"Ini Friska! Putri salah satu donatur di panti ini juga. Sekarang Friska tinggal disini dan membantu Mbak," jelas Mbak Ririn akhirnya.


"Oh!"


"Halo, Mbak! Aku Bagus!" Sopir pick up tadi memperkenalkan diri.


"Mbak? Kayaknya kamu lebih tua, kok panggil aku Mbak?" Protes Friska seraya merengut.


"Mbaknya kan udah nikah, aku belum. Jadi panggil Mbak biar sopan," jawab Bagus seraya berkelakar dan mengendikkan dagu ke arah perut Friska yang memang sudah bisa menunjukkan kalau Friska sedang hamil.


"Muka aku kelihatan tua banget, ya?" Tanya Friska seraya menunjuk ke wajahnya sendiri.


"Lebih mirip anak SMP malahan, Mbak! Mbaknya nikah muda, ya?" Tebak Bagus sok tahu.


"Iya!" Jawab Friska jujur.


"Trus suaminya sekarang dimana? Tinggal disini juga?" Tanya Bagus selanjutnya yang langsung membuat Mbak Ririn menyenggol pundak pemuda itu.


"Ada apa?" Tanya Bagus bingung.


"Udah kamu turunin barang sana! Jangan kebanyakan ghibah!" Perintah Mbak Ririn yang langsung membuat Bagus garuk-garuk kepala.


"Kan Bagus cuma tanya, Mbak! Emang ada yang salah sama pertanyaan Bagus?" Tanya Bagus bingung.


"Ada! Kamu udah bikin Friska sedih ini!" Jawab Mbak Ririn bersungut.


"Iya, maaf! Bagus kan nggak tahu."


"Maaf, ya, Mbak Friska! Bagus turunin barang dulu." Ucap Bagus seraya undur diri dan kembali ke halaman depan dimana pick up-nya terparkir. Pemuda itu menurunkan barang-barang dan sekalian membawanya ke dapur.


"Udah, biar Mbak yang lanjutin. Kamu istirahat, gih!" Titah Mbak Ririn sekali lagi pada Friska. Mbak Ririn mengambil alih baskom berisi bayam dari hadapan Friska dan melanjutkan pekerjaan Friska tersebut.


"Friska sedikit ngantuk, Mbak! Friska tidur sebentar, ya! Nanti kalau ada kerjaan lagi Mbak bangunin Friska aja!" Pesan Friska pada Mbak Ririn.


"Iya, Fris!"

__ADS_1


"Oh, iya! Friska boleh pakai telepon sebentar, Mbak? Friska mau telepon seseorang," izin Friska sebelum ia keluar dari dapur.


"Pakai saja, Fris!" Jawab Mbak Ririn santai.


Friska hanya mengangguk dan lanjut keluar dari dapur. Friska berencana menghubungi Sashi karena ini sudah satu bulan lebih dan Friska belum jadi menelepon sahabatnya itu kemarin-kemarin dan memberitahu kalau sekarang ia sudah hidup tenang di panti asuhan ini tanpa khawatir ada yang akan memisahkan dirinya dengan kedua bayinya kelak.


****


Sashi turun dari angkot dan menerjang gerimis yang turun mengguyur bumi, saat ponsel gadis itu berdering nyaring.


"Siapa, ya?" Gumam Sashi pada deretan nomor asing yang kini tertera di ponselnya.


Sashi tak menunggu sampai di rumah dan menerima telepon itu karena mungkin saja itubadalah customer spreinya atau telepon penting.


"Halo!" Sapa Sashi hati-hati.


"Sashi!"


Suara di ujung telepon langsung membuat Sashi menghentikan langkahnya.


"Friska!" Pekik Sashi girang.


"Iya, ini aku, Shi! Bagaimana kabar kamu?"


"Baik, Fris! Kamu sendiri bagaimana? Semua baik-baik saja, kan? Kenapa baru telepon?" Cecar Sashi yang langsung melontarkan banyak pertanyaan.


"Kabarku baik. Maaf baru sempat ngabarin. Sebulan kemarin aku bolak-balik sakit soalnya."


"Hah, sakit apa? Sekarang udah sehat kan? Kedua ponakan aku bagaimana? Sehat-sehat juga, kan?" Tanya Sashi lagi bertubi-tubi yang tentu saja langsung khawatir mendengar kabar Friska yang katanya bolak-balik sakit.


Apa Friska sedang banyak pikiran?


"Iya, sekarang udah sehat dan kandungan aku juga baik-baik saja, kok!"


"Oh, ya, Fris! Ngomong-ngomong Om Briel udah--" Sashi belum selesai bicara dan mengabarkan pada Friska tentang kebebasan Om Briel, saat ada orang lewat yang tak sengaja menyenggol pundak Sashi dan membuat ponsel yang menempel di telinga gadis itu jatuh dan terlempar ke atas aspal.


"Maaf, Mbak!" Orang tadi baru saja akan mengambilkan ponsel Sashi saat tiba-tiba sebuah mobil melintas dengan cepat dan....


Krak!!


"Ponsel!" Sashi membeku di tempatnya, menyaksikan ponsel kesayangannya yang sebenarnya memang sudah retak di sana-sini terlindas mobil dan hancur.


Bukan ponselnya yang Sashi tangisi. Tapi nomor Friska yang tadi belum Sashi simpan dan Sashi yang belum jadi memberitahu Friska soal Om Briel yang sudah bebas.


Bagaimana ini?


"Maaf sekali, Mbak! Saya tadi tidak sengaja."


"Saya ganti yang baru ponselnya, ya?" Tawar pria yang tadi menyebabkan ponsel Sashi jatuh dan terlindas mobil. Tapi Sashi hanya terduduk lemas karena kini ia benar-benar tak tahu lagi harus mencari Friska kemana karena satu-satunya petunjuk sudah raib terlindas mobil.


"Mbak!"


"Saya nggak butuh ponsel baru, Mas! Saya butuh nomor teman saya yang tadi menelepon saya dan belum saya simpan nomornya!" Marah Sashi pada pria asing yang kini garuk-garuk kepala tersebut.


Eh, tapi ganteng juga masnya.


"Trus saya harus bagaimana, Mbak?" Tanya pria itu menatap bingung pada Sashi.


"Beliin saya ponsel baru! Katanya tadi mau ganti?" Sashi menunjukkan ponselnya yang sudah hancur lebur terlindas mobil.

__ADS_1


"Iya, nanti saya ganti ponselnya, Mbak! Maaf banget, ya!" Ucap pria itu lagi.


"Sekalian minta nomor masnya, boleh?" Ringis Sashi yang tak jadi marah.


"Boleh. Mbaknya rumahnya dimana?" Tanya pria itu?


"Di sana! Rumah nomor tujuh," Sashi menunjukkan rumahnya pada pria asing tersebut.


"Oh. Kalau saya kost di depan rumah mbaknya. Yang kost-an panjang warna-warni itu."


"Nama saya Noval," ujar pria tadi sekalian memperkenalkan diri.


"Sashi," jawab Sashi seraya meringis dan membatin.


"Dapat gebetan baru!"


Eh, tapi nomor Friska bagaimana? Hiks!


****


Gabriel masih berusaha memejamkan matanya dan tak berhenti menatap pada bantal dimana Friska biasa tidur. Tepat di sebelahnya. Tangan Gabriel juga mengusap-usap bantal tersebut sambil membayangkan Friska sedang berbaring disana, memejamkan mata lalu Gabriel akan mengusilinya.


"Kamu kemana, Fris? Pulanglah," gumam Gabriel seraya menitikkan airmata, bersamaan dengan pintu kamar yang diketuk dari luar.


"Papi!" Panggil Queena dari luar kamar.


Gabriel bergegas bangkit dan menghapus butir bening di pelupuk matanya, lalu pria itu membuka pintu kamar.


"Ada apa, Queen?" Tanya Gabriel menatap pada Queena yang terlihat sama sedihnya.


"Ponsel mami bunyi terus," lapor Queena seraya menyodorkan ponsel Friska yang tertinggal pada Gabriel.


Gabriel segera mengajak putrinya itu masuk ke kamar dan mereka berdua duduk di tepi tempat tidur.


"Sepertinya banyak yang order sprei, Pi! Trus tadi Queena juga iseng-iseng buka media sosial mami. Ternyata selama ini yang promoin kuenya Oma sampai laris manis itu Mami Friska," cerita Queena panjang lebar yang langsung membuat Gabriel membuka aplikasi chat di ponsel Friska. Benar kata Queena, ada deretan chat dari orang-orang yang hendak memesan sprei. Rezeki Friska memang luar biasa dan sepertinya tak berhenti mengalir lewat orderan sprei dan kue keting bunda yang Friska promosikan.


"Kamu balesin chat yang order sprei ini, bisa?" Tanya Gabriel pada Queena.


"Cek stoknya dimana?" Tanya Queena bingung.


"Ini, buka aja WAG sprei-nya. Ada updatenya setiap hari," Gabriel mengajari Queena dan putrinya itu langsung mengangguk mengerti.


"Mami Fris nggak akan marah, Pi?" Tanya Queena khawatir yang jarinya masih aktif membalas pesan dari para pelanggan Friska.


"Nggak! Nanti biar papi yang ngomong."


"Besok kita bikin pamflet dan selebaran tentang mami kamu, ya! Semoga mami kamu cepat ditemukan dan berkumlul bersama kita lagi," ujar Gabriel seraya merangkul Queena yang hanya mengangguk-angguk setuju.


Queena juga sudah sangat rindu pada mami sambungnya itu.


.


.


.


Tuh, yang nyariin Friska.


Ternyata bareng Bagus, sepupunya Mbak Melody 😆😆

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2