Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
BULU KETEK


__ADS_3

Gabriel yang sudah selesai membantu Queena mengerjakan peer-nya, segera kembali ke dapur untuk mengecek Friska. Namun rupanya gadis itu sudah tak ada di dapur dan bak cucian piring juga sudah kosong. Namun Friska tak sekalian membersihkan meja dapur dan juga meja makan. Jadilah Gabriel yang harus turun tangan untuk membereskan semuanya.


"Briel, sedang apa?" Tegur Ayah Yuda yang baru pulang dari acara di rumah tetangga.


"Beresin dapur, Yah! Bunda sakit kepala tadi katanya," jawab Gabriel bersamaan dengan pria itu yang sudah selesai mengelap meja makan.


"Istrimu kemana? Kenapa bukan dia yang membereskan?" Tanya Ayah Yuda lagi.


"Udah cuci piring tadi. Capek katanya. Jadi Gabriel kebagian lap-lap meja," terang Gabriel yang sudah ganti mencuci tangan.


"Baru cuci piring sudah capek," cibir Ayah Yuda yang sama sekali tak ditanggapi oleh Gabriel.


"Gabriel istirahat dulu, Yah! Selamat malam," pamit Gabriel seraya berlalu keluar dari dapur. Gabriel langsung masuk ke kamar dan tadinya mengira kalau Friska sudah tidur. Namun rupanya gadis itu masih bermain ponsel sambil berbaring.


"Belum tidur?" Tanya Gabriel seraya menutup dan mengunci pintu kamar.


Friska tak menjawab dan bibirnya hanya merengut. Gadis itu juga langsung berbalik membelakangi Gabriel. Friska kembali mengutak-atik ponselnya.


"Jadi praktek malam ini, kan?" Tanya Gabriel usil seraya membuka kausnya. Namun sepertinya Friska masih belum sadar karena gadis itu masih memunggungi Gabriel.


"Friska!" Panggil Gabriel dengan nada merayu.


"Om praktek aja sendiri! Friska marah!" Sungut Friska yang akhirnya buka suara namun masih tetap memunggungi Gabriel.


"Masa iya, punya istri tapi praktek sendiri?" Gabriel sudah naik ke atas tempat tidur sekarang.


"Om ngapain naik ke atas sini?"


"Tidur di bawah-" Friska sudah berbalik dan hendak mendorong Gabriel saat akhirnya gadis itu sadar kalau Gabriel sedang bertelanjang dada sekarang dan tak memakai kaus.


"Hah!" Friska memekik dan langsung menutup kedua matanya dengan telapak tangan.


"Om, kenapa nggak pakai baju?" Tanya Friska masih sambil menutup kedua matanya.


"Kausku basah gara-gara bantuin kamu cuci piring tadi," jawab Gabriel mencari alasan.


"Kan masih banyak kaus lain di lemari! Cepat pakai baju, Om!"


"Malu!" Friska masih belum melepaskan kedua tangan yang menutupi wajahnya.


"Lebih enak begini. Kamu buka baju juga, gih! Biar kita bisa langsung praktek," ujar Gabriel usil.


"Praktek apa?" Friska mengintip Gabriel sedikit melalui sela-sela jarinya.


"Iya praktek itu! Kan tadi kamu udah janji," tagih Gabriel.


"Kan Om nggak bantuin Friska cuci piring sampai selesai. Jadi janji dibatalkan!"

__ADS_1


"Nggak bisa gitu, dong, Fris!" Gabriel memaksa untuk membuka kedua telapak tangan Friska yang menutupi wajah gadis itu.


"Om mau apa?" Jerit Friska berusaha berontak.


"Ssstttt! Jangan teriak-teriak!" Gabriel membungkam mulut istrinya yang mirip toa pengeras suara itu.


"Iya, Om mau apa? Friska masih kecil, Om!" Suara Friska tak terlalu jelas karena tangan Gabriel masih membungkam mulutnya.


"Bicaranya jangan teriak-teriak! Nanti Ayah sama Bunda dengar dikira kamu aku apain," ujar Gabriel yang berucap dekat sekali dengan wajah Friska. Istri Gabriel itu sampai membeku di tempatnya karena melihat wajah Gabriel dari jarak yang sangat dekat.


"Om mau ngapain?" Friska ganti mencicit masih sambil menatap wajah dewasa Gabriel.


"Ngajakin kamu praktek," jawab Gabriel jujur seraya tersenyum ke arah Friska. Terang saja hal itu langsung membuat wajah Friska semerah tomat.


"Praktek itu?" Suara Friska semakin kecil.


"Iya, praktek itu," jawab Gabriel setengah berbisik. Wajah pria itu sudah sangat dekat dengan wajah Friska


"Tapi-" Friska tak jadi melanjutkan kalimatnya, saat bibir Gabriel tiba-tiba sudah mendarat di bibirnya.


Hanya sekilas!


Tapi sukses membuat jantung Friska jedag-jedug dan nyaris meledak. Friska juga mendadasesak nafas hanya karena dicium sekilas oleh Gabriel.


Gabriel mengulas senyum dan ganti mengusap bibir Friska dengan ibu jarinya. Friska memejamkan mata.


"Kenapa merem-merem begitu?" Tanya Gabriel heran.


"Hah!" Friska memekik kaget saat Gabriel yang tiba-tiba sudah meletakkan tangan Friska di dadanya yang tak tertutupi apapun.


"Om!" Friska kembali merengut serta cepat-cepat menarik kembali tangannya.


"Kenapa? Nggak mau pegang? Anget, lho bobok disini," goda Gabriel nakal seraya menunjuk ke bisep serta dadanya yang lumayan terbentuk meskipun tak se-perfect milik Channing Tatum. Tapi kalau dipakai untuk memeluk Friska masih okelah!


Friska hanya menggeleng dan kembali menutup wajahnya yang masih merah dengan telapak tangan.


"Om, Friska benar-benar belum siap! Itunya dipending dulu, ya!" Friska lagi-lagi mengajak Gabriel bernegosiasi.


"Tapi tadi udah janji kalau malam ini pemanasan dulu," goda Gabriel yang lagi-lagi memaksa untuk membuka telapak tangan Friska.


"Matiin aja AC-nya, Om! Biar panas dan nggak perlu pemanasan lagi," usul Friska yang benar-benar membuat Gabriel ingin tertawa sekarang.


"Kok malah tertawa?" Tanya Friska bingung.


"Nggak apa-apa!" Gabriel masih berusaha mengendalikan tawanya.


"Udah, kamu bobok aja! Tadi katanya ngantuk," Gabriel sudah merebahkan tubuhnya dibatas tempat tidur masih dengan bertelanjang dada. Pria itu melipat kedua tangannya di belakang kepala, lalu memakainya sebagai bantal.

__ADS_1


"Om tidur nggak pakai baju?" Tanya Friska yang masih duduk dan belum ikut berbaring.


"Lebih enak begini," jawab Gabriel santai.


"Iya, tapi itu jangan dipamerin begitu, dong, Om! Nanti Friska pingsan bagaimana?" Friska sudah kembali merengut.


"Apanya?" Tanya Gabriel bingung.


"Tu! Bulu ketek Om Briel!" Rengut Friska seraya mengendikkan dagunya ke arah ketiak Gabriel yang memang terpampang nyata.


"Wangi, kok! Coba kamu cium!" Titah Gabriel yang langsung membuat Friska beringsut mundur.


"Nggak, ah! Geli!"


"Kenapa nggak dicukur sampai bersih kayak punya Friska?" Tanya Friska yang langsung membuat Gabriel mengernyit.


"Coba lihat punya kamu," sifat usil Gabriel kembali.


"Nggak, ah! Friska mau bobok!" Friska akhirnya merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan mengambil posisi ke pinggir, menjauhi Gabriel. Gadis itu juga miring ke samping dan memunggungi Gabriel.


"Kenapa minggir-minggir begitu? Nanti jatuh bagaimana?" Tegur Gabriel yang sudah ikut berbaring miring dan menghadap ke arah Friska yang memunggunginya.


"Takut pingsan, kalau dekat-dekat sama ketek Om," jawab Friska yang suaranya terdengar berdengung karena gadis itu memencet hidungnya sendiri. Entah apa maksudnya.


"Ck! Wangi gini masa bikin pingsan," Gabriel yang jiwa usilnya merasa teegelitik akhirnya malah menarik tubuh Friska dan menjepit gadis itu di bawah ketiaknya.


"Om!" Pekik Friska meronta-ronta.


"Om Briel!" Friska terus meronta dan memukul-mukul dada Gabriel.


"Om, iiih!" Friska ganti mendorong dan menendang Gabriel dengan barbar sementara Gabriel hanya tergelak tanpa dosa.


"Om apaan, sih?" Rengut Friska yang akhirnya bisa lepas dari jepitan ketiak maut Gabriel.


"Apa? Kan cuma mau ngangetin kamu," kilah Gabriel memasang raut wajah tanpa dosa.


"Emangnya Friska sayur!" Gerutu Friska seraya kembali berbalik dan memunggungi Gabriel lagi. Sementara Gabriel hanya terkekeh kecil sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh Friska.


"Yaudah, peluk aja begini boleh, kan? Kan kamu istriku," ujar Gabriel yang sudah memeluk Friska dari belakang. Friska tak menjawab dan gadis itu menejamkan matanya yang sudah terasa sangat berat. Tak butuh waktu lama, Friska sudah bernafas dengan teratur dan terlelap di pelukan Gabriel.


"Pa, Friska kangen sama Papa."


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2