
Queena masuk ke rumah seraya beberapa kali mengusap airmata yang membasahi wajahnya. Queena benar-benar merasa kecewa dan sakit hati karena Abang Franklyn ternyata lebih tertarik pada Friska yang jelas-jelas sudah punya suami.
Padahal Queena lebih cantik, lebih imut, dan lebih menarik ketimbang Mami Friska bocah itu! Lalu kenapa Abang Franklyn tak sedikitpun melirik Queena atau minimal peka dengan sikap Queena padanya selama ini?
"Ganti baju dulu baru makan, Fris!" Teguran Bunda Laksmi pada Friska langsung membuat Queena yang baru masuk ke rumah sakit telinga. Hampir setiap hari Bunda Laksmi mengomel sekarang karena tingkah polah Friska. Padahal dulu, Bunda Laksmi jarang sekali mengomel atau marah-marah.
"Queena, sudah pulang?" Tanya Bunda Laksmi selanjutnya pada Queena yang baru datang.
"Iya, Oma!" Jawab Queena yang masih sedikit sesenggukan swraya kembali mengusap genangan airmata di pelupuk matanya.
"Kau menangis, Queena? Ada apa?" Tanya Bunda Laksmi khawatir.
"Nggak kenapa-kenapa, Oma! Queena mau ke kamar dulu!" Pamit Queena seraya berlalu dan masuk ke kamarnya.
"Ganti baju lalu makan siang, Queen!" Seru Bunda Laksmi pada sang cucu kesayangan.
"Nanti saja makannya, Oma!" Queena balik berseru dari dalam kamar. Sementara Bunda Laksmi kembali ke dapur dimana ada Friska yang ternyata lanjut makan dengan lahap masih tanpa mengganti seragamnya.
Ck! Dasar kepala batu!
"Queena kenapa, Bund?" Tanya Friska dengan mulut yang penuh makanan.
"Ck! Ditelan dulu baru ngomong, Friska!" Tegur Bunda Laksmi tegas. Friska cepat-cepat mengunyah makanannya dan kembali bertanya,
"Tadi Queena kenapa, Bund?"
"Bunda juga tidak tahu! Pulang sekolah udah nangis. Apa mungkin kena bully, ya?" Bunda Laksmi mulai berprasangka, saat pandangan mertua Friska itu tertuju ke tangan kiri Friska.
"Itu tangan kamu kenapa diplester begitu, Fris?" Tanya Bunda Laksmi penuh selidik.
"Tadi diinfus, Bund! Gara-gara Friska pingsan di sekolah," jawab Friska menjelaskan.
"Pingsan kenapa? Kamu rutin minum pil KB-nya kemarin itu, kan?" Cecar Bunda Laksmi mulai khawatir.
Jangan sampai menantu bocahnya ini hamil karena setiap malam digarap oleh Gabriel.
"Iya rutin. Friska pingsan gara-gara datang bulan. Kata dokter Friska anemia karena kurang makan sayur," jelas Friska seraya meminggirkan potongan sayur di piringnya. Kebetulan Bunda Laksmi masak capcay siang ini dan Friska menyingkirkan semua sayuran serta hanya memakan seafoodnya.
"Trus ini kenapa malah disingkirkan sayurannya? Mau pingsan lagi? Biar diinfus lagi, trus nggak bantuin Bunda ngapa-ngapain?" Cecar Bunda Laksmi seraya menunjuk-nunjuk ke sayuran di pinggir piring Friska. Menantu Bu Laksmi itu hanya meringis.
__ADS_1
"Makan sayurannya!" Ucap bunda Laksmi tegas.
"Rasanya aneh, Bund-"
"Mana ada orang pingsan gara-gara datang bulan!" Celetuk Queena tiba-tiba memotong kalimat Friska. Gadis itu sudah bergabung ke meja makan bersana Friska dan Bunda Laksmi.
"Menantu Bunda itu pasti hanya mengarang cerita, biar bisa pulang naik taksi dan gegayaan jadi nona muda!" Sambung Queena lagi mencibir ke arah Friska.
"Kamu pulang naik taksi lagi, Fris?" Bunda Laksmi sudah melotot horor pada Friska.
"Iya, kan Friska dari rumah sakit, Bund! Tadi juga yang nyuruh naik taksi Om Briel karena Om Briel harus kembali ke kantor dan nggak bisa nungguin Friska."
"Bunda bayangin sendiri, Friska di UGD, diinfus, nggak ada yang jagain-"
"Lebay!" Cibir Queena lagi.
"Masa iya orang pulang dari UGD bisa segar bugar begitu dan makannya lahap?" Lanjut Queena tetap mencibir Friska.
"Aku nggak bohong! Tanya saja pada Franklyn yang tadi melihatku pingsan di sekolah dan menbawaku ke UKS!" Sergah Friska yang mulai meninggikan nada bicaranya.
"Oh, jadi tadi sok jual mahal sama Abang Franklyn, sok galak, sok judes, tapi mau juga digendong ke UKS!"
"Aku nggak seperti itu, Queen! Kamu kalau nggak tahu kronologinya nggak usah sok tahu begitu!"
"Kamu itu yang sok kegenitan,banyak mengeluh, nggak ada bersyukurnya padahal Oma dan Papi sudah mau menampungmu disini!"
"Siapa yang nggak bersyukur-"
"Sudah!" Bund Laksmi yang stress mendengar perdebatan cucu dan menantunya langsung menggebrak meja dengan keras agar dua gadis di hadapannya itu diam.
Wanita paruh baya itu langsung memijit kepalanya yang terasa cekot-cekot.
"Kalian sedang berdebat apa sebenarnya? Kenapa Tidak ada yang mau mengalah?"
"Kamu juga, Friska! Sebagai mami sambungnya Queena dan yang lebih tua, tak seharusnya kamu itu nyolot-nyolot begitu pada Queena!" Cerocos Bunda Laksmi menatap tajam ke arah Friska.
"Friska cuma membela diri karena Queena menuduh Friska yang bukan-bukan, Bund! Friska nggak nyolot!" Kilah Friska membela diri.
"Queena nggak menuduh! Queena mengatakan apa adanya!" Sergah Queena seraya mendelik pada Friska.
__ADS_1
"Dan dia ini bukan Mami sambung Queena! Queena nggak mau punya mami sambung bocah yang kegenitan dan keganjenan seperti dia!" Lanjut Queena lagi yang sudah ganti menunjuk-nunjuk ke arah Friska.
"Aku nggak-"
"Sudah! Sudah!" Bunda Laksmi kembali memotong pembelaan diri Friska.
"Bund, kenapa teriak-teriak?" Tanya Ayah Yuda yang baru tiba di rumah.
"Ini, menantumu ini bikin migrainnya bunda kumat, Yah!" Lapor Bund Laksmi yang kembali memegangi kepalanya yang semakin cekot-cekot.
"Kok Friska, Bund! Yang mulai mengajak debat tadi Queena," sergah Friska yang kembali membela diri
"Terserah, Fris! Terserah!"
"Sejak kamu tinggal disini, migrain bunda itu jadi sering kambuh! Tak lama mungkin bunda juga akan terkena serangan jantung!"
"Kapan kamu itu menjadi dewasa? Kamu itu seorang istri dan seorang mami!" Cecar Bunda Laksmi sebelum mertua Friska itu berlalu pergi dan keluar dari dapur.
"Dasar ganjen!" Maki Queena yang ikut-ikutan meninggalkan dapur menyusul sang Oma. Friska hanya merengut dan kembali duduk, lalu mengaduk-aduk makanan di piringnya dengan kesal.
"Ini tangan kamu kenapa, Fris?" Tanya Ayah Yuda seraya menunjuk ke tangan kiri Friska.
"Habis diinfus gegara yadi Friska pingsan di sekolah, Ayah! Tapi kata Bunda dan Queena, Friska hanya mengarang indah. Padahal Friska tadi benar-benar pingsan, sampai Om Briel datang ke sekolah, lalu membawa Friska ke UGD!" Jelas Friska dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu sakit?" Tanya Ayah Yuda lagi yang terlihat khawatir. Meskipun kadang Ayah Yuda sering mencibir Friska di belakang, namun ayah kandung Om Briel ini tak oernah berkata ketus pada Friska.
"Sekarang Friska udah baikan, Ayah!" Jawab Friska yang masih merengut seraya mengusap airmatanya.
"Yasudah, itu makanannya kamu habiskan dulu, lalu ganti baju dan istirahat!" Nasehat Ayah Yuda sembari menepuk punggung Friska.
"Iya, Ayah!" Jawab Friska lirih seraya menatap tanpa selera ke makanannya yang berada di piring. Selera makan Friska sudah menguap pergi sekarang.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.