
Mata Friska masih membelalak tak percaya saat Gabriel dengan tanpa dosa mengatakan kalau isi sarung tumpah di dalam.
"Om jangan bercanda!" Friska mulai panik sekarang.
"Om keluarin cepat!"
"Iiih!" Friska bangun dengan tergesa sampai lutut gadis itu terantuk sudut tempat tidur.
"Aduh!" Friska memilih mengabaikan lututnya dan gadis itu lanjut masuk ke kamar mandi dengan langkah terpincang.
"Fris!" Panggil Gabriel yangvsudah menyusul Friska masuk ke dalam kamar mandi. Friska sedang menyemprotkan air dari shower ke dalam miliknya.
"Om Briel bagaimana, sih!" Omel Friska bersungut-sungut Gabriel.
"Bagaimana apanya? Orang tidak sengaja," kilah Gabriel mencari alasan.
"Lagian, aku kan tidak tahu kalau sarungnya bisa nyangkut gitu. Mungkin gara-gara punya kamu yang masih sempit," Gabriel malah mengerling nakal ke arah Friska sekarang.
"Iih! Lagi serius juga!" Friska menyemprotkan air ke arah Gabriel karena sebal.
"Coba lihat!" Gabriel mendudukkan Friska ke atas dudukan toilet lalu membuka kedua paha istrinya itu.
"Udah bersih! Nggak bakal hamil!" Ucap Gabriel yakin.
"Nanti Friska kena omel Bunda kalau hamil, Om! Friska bisa-bisa diusir dari rumah!" Rengut Friska berprasangka.
"Nggak mungkin! Bunda nggak akan sekejam itu, Fris!" Gabriel sudah meraih handuk untuk membalut tubuh polos Friska.
"Lagipula, hamil ada suaminya, kok! Jadi kenapa harus risau?" Lanjut Gabriel seraya menangkup gemas wajah Friska.
"Kan Friska masih sekolah, Om! Belum ujian! Belum lulus! Kata Bunda juga nggak boleh hamil lagi!"
"Tahu gitu Friska mending minum pilnya kemarin itu dan nggak usah nurutin idenya Om Briel pakai sarung!" Friska masih merengut pada Gabriel.
"Nggak boleh!"
"Kalau belum pernah hamil nggak boleh minum pilnya itu!" Gabriel menggoyang-goyangkan telunjuknya di depan wajah Friska.
"Tapi Bunda yang ngasih! Berarti kan boleh!" Friska masih saja ngeyel.
"Nggak boleh ya nggak boleh! Jangan coba-coba minum pokoknya!" Gabriel memperingatkan Friska.
"Yaudah! Om keluar sana! Friska mau mandi keramas sekarang saja sebelum bobok. Biar besok pagi nggak buru-buru!" Usir Friska selanjutnya pada Gabriel.
"Aku mau mandi juga, Fris!" Gabriel mencari-cari alasan agar bisa mandi bareng lagi dan mencumbu Friska lagi.
__ADS_1
"Antri! Friska duluan!" Friska kekeh mendorong Gabriel keluar dari kamar mandi, lalu menutup pintu.
Gabriel hanya bisa berdecak kecewa serta menunggu Friska selesai mandi.
Gagal sudah, acara mandi bareng Friska!
****
Friska baru tiba di kelas saat gadis itu sudah mendapati sebuah bunga di atas meja yang biasa ia tempati. Ada juga secarik kertas dibawah bunga mawar tersebut bertuliskan,
Untuk Friska ❤
Hah?
Friska mengambil kertas tersebut lalu membukanya. Ada deretan bait puisi di dalam kertas yang membuat Friska harus menautkan kedua alisnya.
^^^Senyumanmu adalah detik jarum jam bagiku. ^^^
^^^Terasa singkat, secepat angin berlalu. Menjadikan dering bel sekolah bagai lantunan melodi rindu.^^^
^^^Cinta bisa memberikan cahaya pada mata yang sekalipun buta. ^^^
^^^Cinta juga bisa jadi petaka meski pada orang yang di surga. ^^^
^^^Ah, biarlah... cinta tak butuh kata-kata.^^^
Friska langsung berdecak saat membaca nama si pengirim bunga dan puisi gombal tadi. Gadis itu langsung meremas kertas tersebut bersamaan dengan Sashi yang baru tiba di kelas.
"Bunga siapa itu, Fris?" Tanya Sashi kepo.
"Mau? Buat kamu saja! Aku sedang alergi bunga mawar terutama yang warnanya merah!" Jawab Friska sedikit keras saat ekor matanya tak sengaja menangkap Franklyn yang sedang mengintip di pintu kelas. Friska juga langsung menyodorkan bunga mawar tadi pada Sashi tanpa ba bi bu.
"Ngidam?" Ledek Sashi seraya mengendus aroma bunga mawar merah yang ia terima dari Friska.
Friska diam sejenak mendengar pertanyaan dari Sashi. Sudah beberapa minggu berlalu sejak kejadian sarung ajaib nyangkut waktu itu dan Friska juga belum mendapat tamu bulanan.
Eh, tapi kan jadwal datang bulan Friska memang masih sekitar satu minggu lagi. Jadi sepertinya aman dan Friska hanya perlu positif thinking. Hubungan Friska sama Bunda juga sudah membaik meskipun kadang bunda masih suka mengomel pada Friska saat Friska teledor melakukan sesuatu. Lalu hubungan Friska dan Queena....
Putri sambungnya itu masih susah ditaklukkan. Tapi biarkan saja! Penting Friska sudah berusaha.
"Fris! Kok melamun? Kamu beneran ngidam?" Cecar Sashi berbisik-bisik pada Friska.
"Sembarangan! Masih sekolah juga!" Sahut Friska sedikit bersungut. Sashi sontak tergelak dan kembali mengendus aroma bunga mawar ditangannya. Friska melirik ke arah pintu kelas dimana tadi Franklyn mengintip. Sultan blasteran itu sudah tak nampak batang hidungnya, mungkin sudah kembali ke kelas karena misinya gagal.
Hahahaha!
__ADS_1
Lagipula, ngapain juga itu orang ngotot deketin Friska?
Hati Friska sekarang udah tertaut pada Om Briel seorang-
Eh!
Sebaiknya Friska menjaga sikap dan tak terlalu menunjukkan perasaannya agar Om Briel bucin itu tak kegirangan. Tapi ngomong-ngomong kenapa Friska mendadak kangen pada Om Briel, ya?
Tidak biasanya Friska begini saat sedang di sekolah.
Aneh sekali!
"Nanti katanya pulang lebih cepat, Fris!" Ujar Sashi yang sudah duduk di bangku di samping Friska dan mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya.
"Emang ada acara apa?" Tanya Friska yang ikut-ikutan mengeluarkan buku dari tasnya.
"Guru-guru mau rapat. Biasalah!"
"Ke Mall, yuk! Udah lama kita nggak hang out bareng!" Ajak Sashi mencetuskan sebuah ide.
Friska tak langsung menjawab dan berpikir sejenak.
"Nanti pulangnya sama kayak kalau kita pulang sekolah itu, biar nggak ketahuan Bunda kamu," usul Sashi lagi yang sudah hafal tentang omelan Bunda Laksmi kalau Friska pulang telat karena sahabatnya itu selalu curhat.
"Yaudah lihat dulu nanti pulang sekolah jam berapa," jawab Friska akhirnya.
"Yess! Nanti aku traktir minuman yang kekiniaan itu di mall!" Janji Sashi pada Friska.
"Sprei udah laku berapa emang? Aku dari kemarin baru laku 5 belum nambah-nambah," Friska membuka ponselnya untuk memeriksa orderan.
"Kemarin ada yang borong buat dorprize, gitu. Laku 20," cerita Sashi yang langsung membuat Friska mengulas senyum.
"Wah! Pantesan mau traktir!"
"Baru rezeki mungkin, Fris! Nanti nular kok ke kamu!" Hibur Sashi memberikan semangat pada Friska.
"Aamiin!" Jawab Friska bersamaan dengan bel masuk kelas yang sudah terdengar.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.