
"Om Briel mau apa?" Pertanyaan yang meluncur dari bibir Friska saat Gabriel hampir melum*tnya langsung membuat Gabriel menahan diri.
"Mau menciummu," jawab Gabriel jujur seraya kembali mendekatkan wajahnya ke arah Friska, namun tangan Friska menangkup bibir Gabriel dengan cepat.
"Nggak boleh! Friska sedang berdarah," ucap Friska mengingatkan Gabriel.
"Cuma cium bibir atas! Bukan bibir bawah!" Sergah Gabriel seraya menahan tawa. Gabriel akhirnya menarik kembali kepalanya dan tak jadi mencium bibir Friska.
"Om baru pulang kerja, ya?" Tanya Friska seraya memindai Gabriel dari atas hingga bawah. Gadis itubtetap di posisinya semula, berbaring miring.
"Iya! Belum sempat ganti baju tadi. Lihat kamu tidur kok cantik banget, makanya mau aku cium dulu," cerita Gabriel seraya tersenyum nakal ke arah Friska.
"Iiih! Om mesum!" Cibir Friska seraya menyibak selimutnya lalu gadis itu bangun dan melihat jam di atas nakas.
"Hampir jam lima? Ya ampun!" Friska cepat-cepat berdiri dan membuka lemari.
"Mana belum mandi. Bunda pasti mencak-mencak," gumam Friska lagi yang sudah selesai memilih baju ganti.
"Wah, kebetulan! Aku juga belum mandi, Fris!"
"Kita mandi bareng, ya!" Ajak Gabriel modus.
"Nggak!" Tolak Friska tegas.
"Friska baru ada tamu, Om! Itunya Friska berdarah! Masa iya mau om tusuk juga? Nanti kalau Friska pendarahan lagi bagaimana?" Cecar Friska bersungut-sungut pada Gabriel.
"Yang aku tusuk bukan itunya! Tapi ini," Gabriel mengarahkan telunjuknya ke bibir Friska.
"Mulut Friska,Om?" Tanya Friska seraya membelalak tak percaya.
"Iya, seperti menghisap lolipop itu," jawab Gabriel yang seolah sedang mengajari Friska.
"Tapi nanti kalau Friska gigit, Om Briel marah, nggak?" Tanya Friska lagi.
"Ya jangan digigit!" Sergah Gabriel cepat.
"Sini, aku ajari!" Gabriel menarik Friska untuk kembali duduk di tepi tempat tidur, lalu pria itu merogoh ponsel di saku celananya. Gabriel membuka dengan cepat sebuah file tersembunyi di ponselnya, sebelum kemudian deretan video aneka rupa berjejer di layar ponsel Gabriel dan berhasil membuatku Friska melongo.
"Om, itu kan video porn*?" Cicit Friska menatap tak percaya pada Gabriel.
"Kan kita udah nikah. Jadi bolehlah nonton begini sesekali," jawab Gabriel santai seraya memutar satu video dimana sang aktris sedang menghisap milik sang aktor layakmya menghisap-hisap es krim.
"Hoek! Pasti baunya pesing," celetuk Friska yang langsung membuat Gabriel refleks tertawa.
"Udah pernah nyoba memang?" Tanya Gabriel yang masih berusaha menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Belum sih! Tapi kan kebanyakan cowok kalau buang air kecil itu nggak pernah cebok. Itu kenapa, sih, Om? Hemat air atau takut itunya masuk angin?" Cecar Friska polos yang langsung membuat Gabriel kembali tertawa.
"Hei! Aku nggak termasuk yang kalau habis buang air kecil nggak cebok, lho! Aku kan selalu menjaga kebersihan!" Klaim Gabriel seraya membawa tangan Friska ke atas miliknya yang masih terbalut celana.
"Udah keras, Om!" Celetuk Friska setelah memegang milik Gabriel.
"Kamu hisap, ya! Seperti di video ini!" Pinta Gabriel sedikit merayu Friska.
"Nggak, ah! Punya Om Briel kan gondrong! Nanti kalau rambutnya nyangkut di gigi Friska gimana?" Celetuk Friska menolak permintaan Gabriel sekaligus memberikan alasan.
"Mana ada gondrong! Udah rapi ini!" Gabriel membuka sabuk celananya, lalu lanjut membuka celana kerjanya dan mengeluarkan miliknya yang sudah tegak.
"Hah!" Friska memekik kaget seraya membungkam mulutnya sendiri karena kaget melihat milik Gabriel yang sudah tegak.
"Kenapa? Kan udah pernah lihat kemarin," tanya Gabriel heran.
"Nggak apa-apa," Friska hanya meringis.
"Pegang!" Pinta Gabriel nakal.
"Friska masih berdarah, Om!" Friska mencari alasan.
"Pegang saja! Aku juga nggak ada niat buat masukin," ujar Gabriel yang sudah membimbing tangan Friska untuk memegang miliknya.
"Trus Friska ngapain? Ngurut ini kayak kemarin itu lagi?" Tanya Friska seraya merengut.
"Memang apa enaknya, sih, Om?" Tanya Friska yang mulai menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah.
"Ya, enak aja."
"Ouh!" Gabriel melenguh seolah sedang menikmati urutan tangan Friska.
"Om tahu, nggak? Queena kalau pulang sekolah sekarang diantar cowok terus, lho!" Lapor Friska pada Gabriel yang masih merem melek menikmati kocokan Friska.
"Masa, sih? Siapa? Teman sekolahnya?" Cecar Gabriel masih sambil merem melek.
"Franklyn!" Jawab Friska to the point yang langsung membuat Gabriel kaget.
"Franklyn yang sok-sokan godain kamu di sekolah kemarin? Yang pamer kalau dia ke sekolah naik mobil dan mengira aku ke sekolah kamu naik odong-odong itu?" Cecar Gabriel penuh emosi.
"Perasaan Franklyn kemarin nggak bilang begitu, Om!" Friska menggaruk kepalanya yang tak gatal dan mencoba mengingat-ingat.
"Eh iya. Itu perasaanku saja," Gabriel meringis.
"Tapi kamu serius, soal Queena diantar oleh Franklyn?" Tanya Gabriel lagi yang sudah melupakan soal miliknya yang haus belaian tadi. Suami Friska itu sudah membenarkan kembali celana serta sabuknya.
__ADS_1
"Iya, Friska serius, Om!"
"Dua kali Friska mergokin Queena diantar oleh Franklyn."
"Yang kapan hari itu pakai mobil warna kuning yang hari ini pakai mobil warna merah," lapor Friska yang langsung membuat Gabriel berdecak berulang-ulang.
"Memang bapaknya punya usaha showroom mobil si Franklyn Franklyn itu? Kenapa gonta ganti mobil?" Decak Gabriel yang segera melangkah ke pintu kamar.
"Kata anak-anak di sekolah dia itu kan sultan. Jadi tajir gitu," cerita Friska pada Gabriel.
"Sultan apa? Sultan tapi tak punya attitude dan seenaknya godain istri orang! Pakai acara minta lampu hijau segala buat jadi pebinor!" Sergah Gabriel bersungut-sungut.
"Ya, kan Franklyn nggak tahu kalau Friska istrinya Om Briel," ujar Friska mengingatkan.
"Besok-besok makanya kamu bilang, kalau kamu itu istriku! Biar dia nggak ganjen-ganjen lagi godain kamu!" Cerocos Gabriel yang sudah keluar dari kamar. Friska mengikuti langkah suaminya tersebut.
"Siapa yang ganjen, Briel? Kenapa kamu bersungut-sungut begitu?" Tanya Bunda Laksmi menatap heran pada sang putra. Sedangkan Queena yang sedang mengerjakan tugas di ruang tengah hanya melirik sejilas pada sang Papi sebelum kembali fokus ke tugasnya.
"Itu, Bund! Bocah bernama Franklyn! Dia itu yang ganjen godain Friska!" Jawab Gabriel masih bersungut.
"Bukannya yang ganjen itu istrinya Papi? Udah punya suami tapi masih aja gampangan ke Franklyn! Jangan-jangan di sekolah juga punya banyak paccar simpanan!" Celetuk Queena yang langsung membuat Friska mengepalkan erat tangannya.
"Jaga mulut kamu itu, Queen! Aku bukan gadis murahan!" Sergah Friska yang tak busa lagi menahan emosinya karena kata-kata yang dilontarkan Queena benar-benar sudah keterlaluan kali ini.
"Friska!" Tegur Ayah Yuda lantang, seolah sedang memperingatkan Friska agar tak menjawab emosi Queena dengan emosi juga.
"Friska sedang berkata kebenaran, Ayah! Queena itu yang keterlaluan karena sudah menuduh Friska sebagai cewek gampangan!" Sergah Friska yang tetap kekeh membela diri.
"Sudah!" Gantian Gabriel yang berusaha meredam emosi Friska sekarang.
"Om Briel belain Queena juga?" Friska menatap tak percaya pada sang suami.
"Bukan belain Queena! Tapi kamu itu jangan ikutan nge-gas, kalau Queena sedang emosi!" Tukas Gabriel memperingatkan Friska.
"Nah! Dengerin itu, Fris! Jangan ikut nge-gas!" Timpal Bunda Laksmi yang ikut memperingatkan Friska.
Friska yang merasa dicecar dan dipojokkan oleh semua keluarga Ferdinand langkah merengut dan berbalik pergi. Gadis itu berlari masuk ke kamar sambil membanting pintu.
"Dasar bocah!"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.