
Friska baru tiba di kelas saat ia menemukan sebuah undangan ulang tahun di atas mejanya.
"Undangan apa ini?" Gumam Friska seraya membuka undangan ulang tahun tersebut.
"Franklyn?" Dagi Friska mengernyit saat membaca nama yang tertera di dalam undangan dan gadis itu segera merem*snya, lalu melemparnya ke tempat sampah di pojok kelas.
"Eh, dapat undangan dari Franklyn, nggak?"
"Aku dapat!"
"Aku juga dapat!"
"Yeaay!"
Friska masih mendengar bisik-bisik dari teman-teman sekelasnya tentang undangan ulang tahun Franklyn dan seperti biasa, mereka langsung heboh serta bersikap lebay seolah Franklyn adalah seorang cowok istimewa yang patut diidolakan.
Cih!
Kelakuan kayak setan saja kok ya banyak yang suka!
"Amit-amit! Amit-amit! Jangan kayak gitu nanti kalau udah gede, ya, Dek!" Friska mengusap-usap perutnya sendiri saat sedang membatin tentang kelakuan setan Franklyn.
"Kenapa, Fris? Lagi berharap anak kamu mirip aku, ya?" Tanya Sashi yang baru datang yang mulutnya langsung dibekap oleh Friska.
"Jangan keras-keras!" Delik Friska pada Sashi.
"Eh, iya! Sorry!" Sashi memukul bibirnya sendiru yang kadang tak punya rem.
"Dower nanti kalau kamu pukulin begitu!" Ledek Friska seraya terkekeh.
"Nggaklah! Tambah seksi nanti kayak punya Angelina Jolie!" Sashi memonyong-monyongkan bibirnya.
"Angelina Jontor iya!" Ledek Friska sekali lagi yang langsung membuat Sashi manyun.
"Ngomong-ngomong pada heboh banget soal undangan ulang tahun Franklyn! Mau diajak s3x party padahal! Pakai kedok ulang tahun, preet!" Cibir Sashi yang seperti biasa lebih up to date ketimbang Friska.
"Kamu dapat juga?" Tanya Friska penuh selidik.
"Dikasih tadi sama Franklyn! Katanya suruh ngajakin kamu juga. Aku cemplungin tong sampah undangannya!" Gelak Sashi seolah itu adalah hal yang lucu.
"Punyaku juga baru aja kulempar ke tong sampah," Friska ikut-ikutan melaporkan kelakuannya. Kedua sahabat itu langsung melakukan tos.
"Ngomong-ngomong, udah jadi ngomong ke Om Briel soal itu?" Sashi merendahkan nada bicaranya.
"Udah semalam. Semoga Mas Briel nggak ember aja." Jawab Friska penuh harap.
"Trus, ekspresi Om Briel bagaimana? Kaget,pingsan, atau salto?" Tanya Sashi yang sepertinya penasaran sekali.
__ADS_1
"Kaget, seneng, sampai melukin aku semalaman. Kan engap," cerita Friska seraya tersenyum sumringah.
"Duh! Yang semalaman boboknya dipeluk suami! Jadi baper."
"Kapan aku ada yang melukin pas bobok," ujar Sashi mulai mengkhayal.
"Sekolah dulu yang bener! Katanya mau jadi dokter!" Friska menoyor kepala sahabatnya itu dan keduanya langsing tergelak bersama.
"Eh, iya! Orderan sprei kamu laris, ya? Kata mama, laku banyak yang punya kamu," Sashi mengalihkan pembicaraan.
"Iya, rezeki dedek bayi kayaknya," Friska mengusap perutnya sendiri.
"Trus uangnya mau kamu ambil sekarang atau biar dibawa mama dulu?" Tanya Sashi lagi.
"Titip di mama kamu dulu bisa, kan? Biar kekumpul agak banyak buat beli perlengkapan bayi nanti," ujar Friska menyampaikan niatnya.
"Takutnya malah habis kalau yang pegang aku," lanjut Friska lagi.
"Bisa! Nanti aku bilang ke Mama. Pokoknya, kapan aja kamu butuh uangnya, ngomong langsung sama Sashi nanti aku kasih." Pesan Sashi yang langsung membuat Friska mengangguk.
"Eh, aku kan janji mau traktir kamu makan bakso kalau orderan sprei aku banyak. Nanti istri aku traktir deh!" Ujar Friska selanjutnya mengingat janjinya ke Sashi tempo hari.
"Punya duit emang?" Tanya Sashi ragu.
"Upah bantuin bunda bikin kue. Bisalah kalau cuma beli bakso dua mangkok," jawab Friska pamer.
"Iya. Biasa cuma sampai jam sembilan udah disuruh istirahat sama Bunda. Kan sekarang Mas Briel bantu bikin kue juga karena orderan banyak," cerita Friska lagi.
"Rezeki dedek bayi juga kayaknya! Kan selama ini kamu yang bantuin promosi diem-diem."
"Atau Bunda udah tahu kamu bantuin promosi?" Tanya Sashi kepo.
"Bunda belum tahu!" Jawab Friska meringis bersamaan dengan bel masuk sekolah yang sudah berbunyi.
****
Friska pulang sore karena ada tambahan pelajaran menjelang ujian yang akan berlangsung satu pekan lagi.
"Capek?" Tanya Gabriel yang sekarang bisa rutin mengantar jemput Friska sekalian mengantar kue pesanan atau kadang belanja bahan kue juga.
"Dikit. Lapar juga," keluh Friska yang memang lebih sering lapar sekarang.
Aneh memang!
Ibu hamil lain biasanya mual dan muntah di trimester awal. Tapi Friska malah sama sekali tak mual muntah dan malah doyan makan. Sepertinya calon bayi Friska ini memang pengertian.
"Makan dulu! Mau bakso atau mie ayam?" Tawar Gabriel seraya merapikan poni Friska yang vasah oleh keringat.
__ADS_1
"Siomay boleh?" Friska mengajukan pilihan lain.
"Boleh!"
"Ayo, naik!" Titah Gabriel selanjutnya setelah memakaikan helm ke kepala Friska.
****.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore saat Friska dan Gabriel tiba di rumah.
"Siomay, Bund!" Gabriel meletakkan dua bungkus siomay ke atas meja makan.
"Siapa yang beli?" Tanya Bunda Laksmi penuh selidik.
"Tadi Friska ngi-" Gabriel tak jadi melanjutkan kalimatnya karena kakinya mendadak diinjak oleh Friska.
"Friska yang traktir karena orderan sprei-nya banyak, Bund!" Ucap Gabriel cepat mengoreksi jawabannya.
Bunda Laksmi menghela nafas.
"Hanya karena kamu bisa cari uang sendiri, bukan berarti kamu bisa jajan-jajan terus, Fris! Uangnya ditabung dan jangan dihambur-hambur begini!" Nasehat Bunda Laksmi pada Friska.
"Iya, Bund! Kan cuma sesekali dan nggak tiap hari." Friska mencari alasan.
"Udah dibeliin Friska dimakan dulu, Bund!" Gabriel merangkul pundak Bunda Laksmi dan sedikit meredam emosi bundanya tersebut.
"Iya! Kamu lanjutin cetak kuenya! Tinggal dibulat-bulatin itu nastarnya! Udah bunda takar!" Titah Bunda Laksmi pada Gabriel.
"Queena mana, Bund? Masih tidur siang?" Tanya Friska mencari keberadaan Queena.
"Sudah dijemput temannya tadi. Katanya ada acara ulang tahun atau apa," jawab Bunda Laksmi sebelum mertua Friska itu mulai menyantap siomaynya.
"Ulang tahun kemana?" Tanya Gabriel yang sudah mulai membulatkan adonan nastar.
"Ke rumah temannya! Tadi kan sudah izin ke kamu, Briel!" Bunda Laksmi kembali mengingatkan dan Gabriel akhirnya mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya.
Berbeda dengan Friska yang merasa ada yang tak beres. Jangan sampai Queena datang ke ulang tahun Franklyn yang digelar sore ini. Tapi mungkin sebaiknya Friska memastikan!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1