Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
SATU RONDE


__ADS_3

"Pelan-pelan!" Rengek Gabriel saat Friska membersihkan lebam di wajahnya. Padahal tadi saat berkelahi dengan Franklyn, suami Friska ini gentle sekali. Lalu kenapa sekarang manja begini?


"Ini sudah pelan, Mas!" Gerutu Friska yang mulai kesal.


"Mami sebaiknya tidak usah ke sekolah dulu, deh! Kan ujian juga sudah selesai. Queena takutnya Mami dijahatin lagi sama Franklyn keparat itu!" Saran Queena yang sudah ikut duduk bersama Friska dan Gabriel.


"Queen, jangan mengumpat!", tegur Gabriel mengingatkan sang putri yang tadi menyebut Franklyn keparat.


"Mengumpat pada pria mesum dan c*bul, apa salahnya?" Queena mencari pembenaran dan membantah teguran Gabriel.


"Ck! Sukanya kok ngeyel kalau dinasehatin!" Gabriel menggerutu pada sang putri.


"Ya seperti kamu! Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya?" Celetuk Ayah Yuda yang juga sudah duduk di samping Queena yang kini tertawa kecil.


"Kamu juga selalu ngeyel kalau dibilangin. Sejak dulu masih sekolah, sampai sekarang sudah setua ini!" Lanjut Ayah Yuda yang langsung membuat Gabriel mendengus.


"Briel belum tua, Yah!"


"Sudah selesai, Mas!" Ucap Friska yang sudah selesai mengobati luka dan lebam di wajah Gabriel. Friska lanjut membereskan peralatan yang tadi ia pakai untuk mengobati Gabriel.


"Masih sakit, Fris! Tiupin!" Titah Gabriel pura-pura meringis.


"Apanya yang sakit?" Tanya Friska tak paham.


"Ini! Tiupin!" Gabriel menunjuk ke lebam di pipinya. Friska segera meniup lebam tersebut meskipun ragu-ragu.


Dan sedikit malu karena ada Queena dan Ayah Yuda.


"Bucin teruus!" Ledek Queena pada sang papi yang langsung membuat Friska berhenti meniup luka Gabriel.


"Udah!" Bisik Friska pada Gabriel.


"Belum!" Rengek Gabriel manja.


"Udah!" Friska sudah bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamar. Gabriel tentu saja langsung mengekori istrinya tersebut.


"Papi jangan lupa ada pengantaran nanti jam tiga!" Seru Queena mengingatkan Gabriel.


"Iya! Papi ingat, Queen!" Sahut Gabriel sebelum masuk ke kamar dan mengunci pintu.


"Fris!" Panggil Gabriel karena Friska yang tak terlihat di kamar. Sepertinya sedang melakukan sesuatu di dalam kamar mandi.


"Friska! Kamu mual lagi?" Tanya Gabriel khawatir seraya mengetuk pintu kamar mandi.


Tak berselang lama, pintu dibuka dari dalam.


"Kamu mual lagi?" Gabriel bertanya sekali lagi dan menangkup wajah Friska untuk memastikan.


"Enggak! Friska buang air kecil saja tadi!" Jawab Friska yang balik menangkup wajah Gabriel yang masih lebam.


"Masih sakit, ya!" Tanya Friska seraya menyusuri lebam di wajah suaminya tersebut.


"Iya! Sakit sekali," jawab Gabriel lebay.

__ADS_1


"Ck!" Friska langsung berdecak karena sikap manja Gabriel.


"Eh, iya! Aku mau periksa perut kamu."


"Duduk sini!" Gabriel membimbing Friska agar duduk di tepi tempat tidur.


"Sakit, nggak? Tadi kamu diseret-serer baj*ngan itu!" Gabriel sudah mengusap lembut perut Friska sambil sesekali mengecupnya.


"Tadi sempat sakit sedikit-"


"Kita ke dokter, ya!" Sela Gabriel semakin khawatir.


"Sekarang udah nggak sakit, Mas!" Friska melanjutkan kalimatnya.


"Kita ke dokter!" Paksa Gabriel sekali lagi.


"Nggak usah! Udah nggak sakit, beneran!" Ucap Friska bersungguh-sungguh.


"Benar?" Gabriel masih tak percaya.


"Iya, benar!" Jawab Friska masih bersungguh-sungguh.


Gabriel menyibak kaus Friska dan mengusap perut istrinya itu sekali lagi.


"Mas!"


"Apa? Aku mau menyapa calon anak-anak kita," jawab Gabriel yang sudah kembali mengecup perut Friska namun secara langsung tanpa terhalang kaus seperti sebelumnya.


"Hai, anak-anaknya Papi!"


"Emang mereka bisa dengar? Kan masih kecil," tanya Friska heran.


"Bisalah!" Jawab Gabriel penuh keyakinan. Tangan Gabriel mulai usil dan menjamah naik ke dada Friska.


"Mas!" Pekik Friska saat tangan Gabriel menyusup ke bawah bra-nya.


"Buka!" Titah Gabriel menatap manja pada Friska.


"Mas Briel ada antaran jam tiga!" Friska mengingatkan.


"Ini baru jam satu!"


"Aku nyenyen sebentar buat tambahan tenaga!" Gabriel membuka sendiri bra Friska karena tak kunjungvdiberikan akses.


"Mas!" Friska menjambak rambut Gabriel saat suaminya itu sudah secara spontan melahap salah satu gundukan kenyalnya. Friska menelan salivanya dengan susah payah saat melihat Gabriel yang sudah asyik menghisap-hisap dadanya seperti bayi besar yang sedang kehausan.


"Ada apa?" Tanya Gabriel yangvraut wajahnya sudah berubah menggoda. Lebam di wajah Gabriel sepertinya tak menyurutkan pikiran mesum suami Friska tersebut.


"Mendadak haus lihat Mas Briel nyenyen begitu," jawab Friska dengan raut polos khasnya yang benar-benar membuat Gabriel ingin tertawa.


"Mau nyenyen juga?" Tawar Gabriel yang sudah membimbing tangan Friska agar menyentuh miliknya yang masih terbalut celana.


"Itu bukan nyenyen!" Celetuk Friska seraya merengut.

__ADS_1


"Tapi bisa dihisap-hisap juga," Gabriel mengerling nakal pada Friska yang wajahnya langsung bersemu merah.


"Udah!" Friska mengusap kepala Gabriel yang masih bertingkah layaknya seorang bayi.


"Udah apa? Udah basah?" Tangan Gabriel meraba milik Friska bagian bawah.


"Mas!"


"Sssssst! Jangan teriak-teriak! Nanti Queena dengar!" Gabriel meletakkan telunjuknya di bibir Friska.


"Masih siang!" Friska mengingatkan.


"Trus? Rasanya sama kok mau siang atau malam. Sama-sama enak!" Gabriel kembali mengerling nakal.


"Satu ronde saja, ya! Udah bangun!" Pinta Gabriel seraya menatap Friska penuh kabut gairah. Gabriel bahkan sudah mengeluarkan miliknya dari dalam celana dan benda itu memang sudah tegak dan bangun.


"Pelan-pelan," pesan Friska seraya mengusap dada Gabriel. Suami Friska itu langsung tersenyum penuh kemenangan dan meloloskan kaus yang dikenakan Friska tanpa basa-basi lagi.


"Mulai besok pakai daster saja, biar enak!"


"Kaus kamu udah pada kekecilan begini," saran Gabriel pada Friska.


"Daster kayak yang dipakai Bunda itu? Nanti Friska kayak ibu-ibu, Mas!" Tanya Friska yang sepertinya masih enggan.


"Nanti cari yang model lucu-lucu dasternya. Jangan yang hombreng-hombreng kayak punya Bunda!" Jawab Gabriel seraya terkekeh. Fruska ikut terkekeh, sebelum kemudian istri Gabriel itu melenguh karena Gabriel yang baru saja menyatukan miliknya dengan milik Friska.


"Sakit?" Tanya Gabriel sebelum mulai bergerak.


"Ngganjel dikit," jawab Friska yang sudah mengalungkan kedua lengannya di leher Gabriel.


"Aku bergerak, ya!" Izin Gabriel yang mulai bergerak naik turun.


Friska hanya mengangguk seraya menarik kepala Gabriel agar ia bisa menyatukan bibirnya dengan bibir suaminya tersebut.


Gabriel mulanya bergerak pelan, lalu semakin lama semakin cepat dan pagutan bibirnya pada Friska juga semakin dalam demi meredam des*han serta lenguhan yang keluar dari bibir Friska.


"Emmmmh!" Sebuah erangan lolos dari bibir Friska, saat Gabriel melepadkan pagutan mereka dan tak berselang lama , Gabriel melesakkan miliknya sedalam mungkin lalu menyemburkan cairan yang terasa hangat di rahim Friska.


Gabriel masih terengah-engah di atas Friska namun bibir pria itu menyunggingkan senyuman bahagia karena baru saja menyelesaikan pergelutan satu rondenya bersama Friska.


"Mandi sana! Sebelum dicariin Bunda!" Perintah Friska pada Gabriel yang masih tersenyum bahagia.


"Mandi bareng, ya! Udah lama nggak mandi bareng, kan?" Gabriel sudah mencabut miliknya dan lanjut menggendong Friska ala bridal, lalu membawanya masuk ke kamar mandi.


"Mandi saja! Jangan aneh-aneh!" Pesan Friska pada suaminya tersebut.


"Iya, iya!" Gabriel terkekeh dan segera menutup pintu kamar mandi menggunakan kakinya.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2