Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
PEDEKATE


__ADS_3

"Anemia. Tekanan darahnya rendah," ucap dokter setelah memeriksa Friska.


"Apa ada robekan, Dok? Kenapa keluar darahnya banyak sekali?" Tanya Gabriel bingung.


"Sebenarnya beberapa wanita mengalami apa yang dialami Friska setelah melakukan hubungan suami istri untuk pertama kali."


"Perbanyak istirahat, makan makanan bergizi dan tinggi zat besi, serta rutin minum obat penambah darahnya selama haid agar tak anemia lagi." Pesan dokter panjang lebar yang langsung membuat Gabriel mengangguk paham. Setelah dokter keluar dari ruangan, Gabriel lanjut menghampiri Friska tang tak lagi pucat. Gadis itu sudah duduk di atas bed perawatan di ruang UGD.


"Friska boleh pulang, kan, Om? Udah enakan ini badannya Friska," tanya Friska pada Gabriel.


"Iya, boleh! Tapi nanti di rumah istirahat dan banyakin makan sayur, ya!" Nasehat Gabriel bersamaan dengan ponsel pria itu yang berdering.


"Halo, Tuan Steinberg!" Sambut Gabriel pada Tuan Steinberg yang meneleponnya.


Gabriel lupa kalau ada meeting!


"Kau kemana, Briel? Berkas untuk meeting belum siap dan kau tidak ada di ruanganmu!"


"Iya, saya minta maaf, Tuan! Saya akan ke kantor sekarang." Jawab Gabriel cepat seraya meringis.


Sambungan telepon terputus begitu saja. Gabriel benar-benar akan kena omel dari papinya Kate itu.


"Ada apa, Om?" Tanya Friska pada Gabriel yang terlihat tergesa.


"Nanti pulang naik taksi, ya! Kalau bunda tanya tunjukin saja bekas infusan ini, dan nanti aku juga akan ngomong sama bunda." Gabriel memberikan sisa uang di dompetnya pada Friska.


"Ada meeting penting dan aku harus ke kantor sekarang agar tak ditendang dari Steinberg Group karena kelamaan bolos," lanjut Gabriel lagi seraya mengusap wajah Friska dan menatap sejenak pada istri remajanya tersebut.


"Yaudah, hati-hati nyetirnya, Om! Nanti Friska pulang sendiri," jawab Friska akhirnya meskipun sedikit merengut.


"Bye! Jangan cemberut, dong!" Gabriel mencolek bibir Friska yang merengut.

__ADS_1


"Iya!"


"Bye!" Pamit Gabriel lagi yang akhirnya benar-benar meninggalkan Friska di ruang UGD. Friska kembali merengut dan memutuskan untuk tidur lagi sebentar sebelum pulang dan menghadapi omelan Bunda.


****


"Makasih udah nganterin Queena lagi, Bang!" Ucap Queena pada Franklyn yang hari ini kembali memberikannya tumpangan sampai ke rumah. Queena tak berhenti tersenyum ke arah abang dari Lexi tersebut.


"Sama-sama, Queena!" Jawab Franklyn yang hanya tersenyum tipis.


Disaat bersamaan sebuah taksi berhenti di belakang mobil Franklyn yang hari ini berwarna merah terang. Queena refleks menoleh ke arah taksi untuk melihat siapa yang hendak turun.


"Makasih, ya, Pak!" Ucap Friska yang ternyata turun dari taksi warna biru tersebut.


"Baru pulang, Queen?" Sapa Friska yang hanya dibalas rengutan dari putri sambungnya itu.


"Hai, Friska! Kau tinggal disini juga?" Sapa Franklyn yang tiba-tiba sudah turun dari mobil merah terangnya.


"Kau sudah baikan? Atau masih lemes dan mau pingsan lagi?" Cecar Franklyn seraya mendekati Friska daan hebdak memeriksa kondisi gadus itu. Namun Friska menampik tangan Franklyn dengan cepat.


"Pergi dari hadapanku dan tidak usah sok perhatian!" Gertak Friska galak.


"Mau aku antar ke dokter?" Tawar Franklyn lagi yang masih sok perhatian pada Friska. Yang tentu saja tanpa Friska dan Franklyn sadari kalau ada sepasang mata yang menatap penuh amarah pada kedua orang tersebut.


"Nggak usah! Aku udah sehat, udah bisa berduri, segar bugar begini! Emangnya kamu nggak lihat?" Cerocos Friska tetap dengan nada galak.


"Awas!" Friska sedikit mendorong Franklyn dan segera berlalu masuk ke halaman rumah Bunda Laksmi.


"Jadi kau tinggal serumah dengan Friska, Queen?" Tanya Franklyn pada Queena yang hendak menyusul masuk ke halaman rumah.


"Iya, dia..."

__ADS_1


"Dia anak angkat Papi," jawab Queena berbohong. Queena sedang malas mengakui kalau gadis centil tadi adalah mami sambungnya. Mami sambung bocah lebih tepatnya!


"Wah! Dayung bersambut! Punya nomornya Friska berarti, kan? Aku boleh minta?" Tanya Franklyn seraya menyodorkan ponselnya pada Queena.


"Memangnya kamu suka sama dia?" Tanya Queena penuh selidik.


"Iya mau pedekate gitu. Anaknya ketus dan galak, jadi penasaran aja," jawab Franklyn jujur.


"Dia itu udah punya suami! Udah nikah! Nggak usah kamu sok-sokan ganggu dia!" Sergah Queena akhirnya penuh emosi. Kedua mata Queena juga sudah berkaca-kaca sekarang.


"Masa, sih?" Tanya Franklyn tak percaya.


"Masih sekolah masa udah nikah. Kamu bercandanya ada-ada aja, Queen!" Franklyn ganti terkekeh seolah Queena sedang berkelakar sekarang.


"Terserah kalau kamu nggak percaya! Udah jelas-jelas digalakin begitu masih aja mau pedekate!" Sungut Queena sebelum gadis itu berlalu dari hadapan Franklyn dan Lexi tanpa pamit.


"Queena kenapa, Bang?" Tanya Lexi heran.


"Nggak tahu! Lagi PMS mungkin! Kayak kamu itu, kalau PMS suka marah tanpa alasan!" Jawab Franklyn asal sebelum pemuda itu masuk ke dalam mobil.


"Abang resek! Kenapa malah ngeledek Lexi!" Rengut Lexi yang langsung meninju pundak Franklyn yang sudah duduk di belakang kemudi. Franklyn hanya terkekeh dan tak berselang lama, mobil merah menyala itupun meninggalkan rumah Queena.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2