
Friska dan Gabriel baru sampai di rumah, saat Friska tak sengaja menyenggol foto di atas meja panjang dekat pintu masuk hingga foto jatuh dan bingkainya pecah.
"Ya ampun!" Ringis Friska yang buru-buru memungut foto yang jatuh tadi.
"Awas pelan-pelan! Jangan pegang-"
"Aduh!" Gabriel baru memperingatkan saat tangan Friska sudah terkena serpihan kaca dan berdarah.
Ck!
Gabriel langsung meraih telunjuk Friska dan menghisapnya agar darah berhenti keluar.
"Om! Kok tangan Friska dihisap-hisap?" Tanya Friska bingung.
"Biar darahnya berhenti keluar!" Jawab Gabriel masih sambil mengemut jari Friska.
"Kan harusnya di taruh di air mengalir? Nanti infeksi bagaimana?" Friska mengernyit pada Gabriel yang langsung terlihat salah tingkah.
"Tapi di film-film itu-"
"Om kebanyakan nonton film!" Friska terkikik dan segera menarik jarinya dari mulut Gabriel. Rasanya geli saja melihat Gabriel mengemut-**** jari Friska.
Geli dan sedikit aneh.
Friska lanjut pergi ke dapur untuk mencuci jarinya yang berdarah. Sementara Gabriel segera membereskan bingkai foto yang pecah, dan memungut foto di dalam bingkai, lalu menyimpannya ke dalam laci. Itu adalah foto Gabriel bersama Gabrian saat mereka masih remaja. Bunda memang masih bersikeras memajang foto mereka berdua karena Bunda ingin selalu merasakan kehadiran Gabrian di rumah ini.
Gabriel lanjut menyusul Friska ke dapur dan sekalian mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Friska. Suasana rumah sudah sepi dan sepertinya para penghuni rumah sudah bergeling dengan mimpi mereka masing-masing.
"Masih keluar darahnya?" Tanya Gabriel seraya menghampiri Friska yang masih menyiram lukanya dengan air mengalir.
"Udah enggak kayaknya," jawab Friska seraya mematikan keran.
"Masih keluar dikit, Om!" Lapor Friska selanjutnya.
"Yaudah! Aku obati sini!" Gabriel membimbing Friska agar duduk di kursi meja makan, lalu pria itu bersimpuh di depan Friska dan mulai mengobati luka Friska.
"Tadi yang Friska pecahin foto Om Briel sama siapa? Kok mirip?" Tanya Fris membuka obrolan. Sebenarnya sudah sejak lama Friska ingin menanyakan hal itu pada Gabriel tapi selalu lupa. Karena bukan hanya ada satu dua foto Gabriel bersama seorang pemuda yang mirip dengannya. Tapi ada banyak foto di ruang tamu dan malah ada satu yang berukuran besar.
Mustahil itu hasil editan pakai efek mirror, kan?
"Brian," jawab Gabriel seraya menghela nafas panjang.
"Siapa Brian? Kembaran Om Briel?" Tebak Friska menerka-nerka.
"Ya!"
"Kami memang saudara kembar," jawab Gabriel membenarkan tebakan Friska.
"Trus? Brian dimana? Friska belum melihatnya! Atau jangan-jangan Om Briel ini bukan Om Briel?" Friska mulai menatap curiga pada Gabriel.
"Apa maksudnya? Aku memang Briel!" Sergah Gabriel merasa tak terima dengan tuduhan ngawur Friska.
"Iya, bercanda!" Friska terkikik dan jarinya membentuk tanda V
__ADS_1
"Jadi, Om Brian kemana?" Friska mengulangi pertanyaannya.
"Kok panggil Om juga?" Briel mengernyit heran.
"Ya kan Om Briel dan Om Brian saudara kembar! Jika panggil Om Briel pakai sebutan Om, berarti hal yang sama berlaku juga untuk Om Brian," jelas Friska panjang lebar.
"Harus begitu?" Tanya Gabriel seraya berekspresi aneh.
"Harus, dong! Jadi Om Brian kemana?" Tanya Friska lagi untuk ketiga kalinya.
"Sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu," jawab Gabriel dengan nada sendu.
"Apa?"
"Brian meninggal karena kecelakaan, satu hari sebelum pernikahannya," jelas Gabriel lagi. Friska langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan karena kaget.
"Lalu calon istrinya?" Tanya Friska penasaran.
"Sudah menikah dengan pria lain beberapa tahun silam. Aku dengar mereka sudah punya anak kembar juga sekarang," jawab Gabriel seraya tertawa kecil.
Gabriel sebenarnya hanya sedang menertawakan dirinya sendiri karena perasaannya pada Ayunda yang sejak dulu tak pernah sampai dan mereka yang sepertinya memang tak ditakdirkan untuk berjodoh.
Dulu, saat Gabriel masih lajang, Ayunda malah pacaran dengan Brian yang notabene adalah saudara kembar Gabriel. Lalu saat Gabrian pergi untuk selamanya, Gabriel juga sudah menikah dengan Hana, jadi sangat mustahil bagi Gabriel untuk mendekati Ayunda.
Dan saat Hana meninggal, lalu Gabriel punya kesempatan, ternyata Gabriel juga sudah terlambat dan Ayunda sudah menikah dengan suami bocahnya, Bennedic Rainer!
Benar-benar konyol!
"Kok Om malah tertawa sendiri?" Tanya Friska bingung seraya mengibaskan tangannya di depan wajah Gabriel.
"Friska ngantuk, Om!" Lapor Friska seraya menguap lebar.
"Yaudah, ayo bobok!" Ajak Gabriel seraya merangkul Friska dan mereka berjalan beriringan ke dalam kamar.
"Om nggak akan minta itu malam ini, kan? Jari Friska masih sakit, Om!" Keluh Friska seraya menunjukkan jarinya yang diplester.
"Ya kalau kamu penasaran dan mau coba, kita bisa praktek malam ini," jawab Gabriel memancing-mancing Friska.
"Mmmm nggak mau! Friska masih belum siap!" Jawab Friska akhirnya dengan sedikit lebay.
"Trus siapnya kapan? Masa kamu tega nge-biarin aku main pake sabun terus di kamar mandi?" Gabriel berkata seraya memelas.
"Hah main pakai sabun? Maksudnya gimana, Om?" Tanya Friska bingung.
"Ya itu pakai sabun buat..." tangan Gabriel bergerak naik turun seolah sedang memperagakan pada Friska.
"Buat nyabunin badan? Friska juga selalu pakai sabun. Masa iya mandi nggak pakai sabun, Om!" Friska terkikik dan Gabriel hanya bisa mendengus karena istrinya ini benar-benar polos dan membuat gemas.
"Friska mau ganti baju dulu, Om! Mau bobok, udah ngantuk," izin Fris seraya bangkit berdiri dan masuk ke kamar mandi. Tapi sesaat kemudian Friska sudah keluar lagi seraya meringis pada Gabriel.
"Om, ritsleting gaun Friska tersangkut. Bisa tolong benerin?" pinta Friska yang langsung membuat Gabriel mendekat ke arah istrinya tersebut. Gabriel memeriksa ritsleting di punggung Friska dan hendak membenarkannya. Namun saat membuka ritsleting gaun tersebut, pemandangan punggung putih Friska malah membuat Gabriel menelan saliva.
"Sudah, Om?" Tanya Friska pada Gabriel yang mematung.
__ADS_1
"Belum!" Jawab Gabriel lirih seraya mengecup punggung Friska. Terang saja hal itu langsung membuat Friska menggelinjang kaget.
"Om!" Friska hendak menghindar, namun Gabriel menahannya dengan cepat.
"Sebentar Fris!" Pinta Gabriel memohon. Gabriel menurunkan gaun Friska sedikit hingga punggung dan pundak Friska terpampang nyata. Gabriel kembali mengecup punggung serta pundak Friska.
"Om mau apa?" Tanya Friska seraya menggeliat geli.
"Aku mau kamu, Sayang!" Bisik Gabriel di telinga Friska yang langsung membuat Friska merasakan gelenyar aneh yang merambati aliran darahnya.
"Tapi-" kalimat penolakan Friska terlambat terlontar karena Gabriel yang tiba-tiba sudah menurunkan gaun Friska hingga ke lantai. Kini Friska hanya tinggal mengenakan sepasang underwear yang senada dengan warna kulitnya.
"Om Briel!" Friska kembali menggeliat saat Briel sudah mendekapnya dari belakang dan kepala pria itu menyusup di pundak Friska. Sesekali, Briel akan mencium dan menjilati area leher hingga belakang telinga Friska yang benar-benar membuat Friska merasakan sebuah sensasi aneh.
"Om, Aaarrgh!" Friska melenguh saat Gabriel merem*s dadanya yang masih tertutupi oleh bra.
"Ada apa? Enak bukan?" Bisik Gabriel penuh nada sensual. Gabriel tersenyum tipis, saat melihat Friska yang sepertinya mulai bergairah. Gabriel benar-benar akan belah duren malam ini!
"Om, sudah! Geli!" Friska terus menggeliat dan mulutnya tak berhenti meracau bersamaan dengan Gabriel yang tiba-tiba sudah menyibak bra Friska ke atas, lalu Gabriel membalik tubuh kecil Friska. Gabriel menundukkan kepalanya dan tanpa ragu segera menghisap bongkahan dada Friska yang begitu imut tapi menggiurkan. Ujungnya saja masih melesak ke dalam.
"Om sedang apa?" Tanya Friska seraya menjambak rambut Gabriel yang masih asyik menghisap-hisap gundukan miliknya.
"Membuat ujungnya keluar," jawab Gabriel di sela-sela pria itu menghisap dan menjilat area berwarna coklat di ujung dada Friska.
Ya ampun!
"Om, geli!" Friska semakin kuat menjambak rambut Gabriel.
Namun bukannya berhenti, Gabriel malah berpindah ke gundukan di sebelahnya dan melakukan hal yang sama.
"Om!" Friska terus meracau dan kaki Friska mendadak jadi goyah serta tak mampu lagi menopang tubuhnya. Friska jatuh terduduk ke atas tempat tidur dengan nafas yang sudah tidak beraturan.
"Om, sudah!" Friska menarik kepala Gabrian namun tak berhasil karena suaminya itu keras kepala sekali.
"Om, Friska mau pipis!" Cicit Friska lagi yang sebenarnya sedikit malu untuk mengungkapkan tapi apa yang dilakukan Gabriel saat ini mendadak membuat Friska jadi kebelet.
"Pipis saja!" Jawab Gabriel masih sambil menghisap-hisap ujung dada Friska.
"Om, nanti Friska ngompol!" Friska menjambak rambut Gabriel semakin kuat dan menarik kepala pria itu.
"Lepas, ih!" Friska akhirnya berhasil melepaskan mulut nakal Gabriel dari dadanya dan gadis itu langsung berlari ke kamar mandi untuk menunaikan panggilan alam.
Sementara Gabriel hanya terkekeh dan segera menanggalkan semua bajunya, lalu lanjut menyusul Friska ke kamar mandi.
Pokoknya Gabriel harus menuntaskannya malam ini!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.