Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
CERITA QUEENA


__ADS_3

Pagi menjelang.


"Ada lagi yang mau dibawa?" Tanya Gabriel yang sudah selesai menyusun baju-baju Friska ke dalam ransel.


"Tidak ada! Sudah semua," jawab Friska.


Rencananya hari ini mereka sekeluarga akan kembali pulang. Semua masalah serta kesalahpahaman sudah selesai. Jadi sekarang Friska akan kembali ke rumah kedua orang tua Gabriel dan menjalani hidup sebagai istri untuk Gabriel, mami untuk Queena, dan menantu kesayangan Bunda Laksmi serta ayah Yuda.


"Nanti berangkat jam sembilan, karena katanya Queena mau mampir ke pantai dekat sini," tutur Gabriel memberitahu Friska.


"Pantainya memang bagus," pendapat Friska seraya tersenyum.


"Benarkah? Ada hotel dekat pantai tidak? Nanti kita ke hotel sebentar-"


"Auuw!" Gabriel mengaduh karena lengannya sudah dicubit oleh Friska.


"Dasar Om Briel mesum!" Bisik Friska sebelum ibu hamil itu berjalan ke arah pintu karena terdengar suara ketukan dari luar.


"Kok Om lagi? Bukannya kemarin-kemarin sudah panggil Mas?" Gabriel garuk-garuk kepala karena bingung. Sementara Friska sudah membuka pintu kamar dan ada Queena yang berdiri di depan kamar.


"Mami sudah selesai yang berkemas?" Tanya Queena berbasa-basi pada Friska.


"Sudah, karena dibantuin papimu tadi," jawab Friska seraya mengendikkan dagunya ke arah Gabriel yang sudah menghampiri Friska dan Queena.


"Ada apa? Mau berbicara sesama wanita? Baiklah, Papi akan keluar," tebak Gabriel panjang lebar seraya keluar dari kamar meninggalkan Friska dan juga Queena.


Friska hanya tersenyum dan segera mengajak Queena masuk ke kamar.


"Ada apa?" Tanya Friska yang sudah duduk di tepi tempat tidur bersama Queena.


"Ponsel mami," ujar Queen seraya menyodorkan ponsel Friska yang Friska pikir sudah hilang dan raib.


"Dapat dimana?" Tanya Friska yang berulang kali menghela nafas lega karena ponselnya ternyata tak jadi hilang.


"Di halaman samping dekat pagar. Sepertinya jatuh pas mami kabur," Queena menerka-nerka.


"Tapi Queena minta maaf sebelumnya, Mi!" Lanjut Queena seraya menggenggam tangan Friska.


"Minta maaf kenapa?" Tanya Friska bingung.


"Queena buka-buka ponsel Mami. Trus Queena juga balesin chat dari para pelanggan sprei yang order. Tapi yang itu yang nyuruh dan ngajarin papi," tutur Queena bercerita secara jujur. Friska langsung membuka aplikasi chat dan melihat beberapa riwayat chat antara Queena dan para pembeli sprei. Mami sambung Queena itu langsung mengulas senyum.


"Udah pinter begini," puji Friska yang langsung merangkul Queena.


"Laris juga yang order. Kamu promo?" Tanya Friska pada Queena.


"Promo lewat akun medsosnya mami. Kata-katanya juga cuma copy paste dari postingan mami sebelumnya," Queena terkekeh.


"Trus itu mami promoin kuenya Oma, ya? Laris manis sekarang kuenya dan Oma selalu nangis setiap ada banyak orderan karena ingat pada mami yang udah berjuang promoin kue Oma," cerita Queena yang benar-benar membuat Friska tak menyangka.


"Masa, sih?"


Queena mengangguk.


"Queena sering lihat malam-malam pas Oma ngemas kue sendirian, Oma itu kadang berlinang airmata. Oma selalu ngomong biar Mami itu cepat pulang. Oma udah kangen berat." Tutur Queena lagi.

__ADS_1


Kedua mata Friska sudah berkaca-kaca sekarang.


"Oma itu sayang banget sama Mami. Jadi Mami jangan pergi-pergi lagi dari rumah!" Queena sudah mendekap Fruska dengan erat.


"Nggak akan!" Jawab Friska seraya mengusap lengan Queena yang masih mendekapnya.


"Bunda dimana sekarang?" Tanya Friska selanjutnya pada Queena.


"Tadi masih di dapur sama Mbak Ririn. Sekarang mungkin lagi siap-siap. Kan nanti jam sembilan mau berangkat dan mampir ke pantai dulu."


"Queena mau nunjukin pantai yang kemarin itu sama Oma dan Opa," terang Queena yang langsung membuat Frisak mengulas senyum. Wanita itu juga menyeka butir bening di sudut matanya.


"Mami ke Bunda dulu, ya!"


"Nanti kamu ikut jualan sprei aja, Queen! Kan udah pinter balesin chatnya pembeli," saran Friska selanjutnya pada Queena.


"Hah! Kan mami udah jualan. Masa Queena jualan juga," Queena terlihat ragu.


"Ya nggak apa-apa! Jualan boleh sama tapi rezeki kan nggak pernah sama. Kali aja nanti kalau Queena tawarin ke mamanya teman-teman Queena, spreinya jadi laris manis," Friska sedikit mengutip kata-kata Sashi saat dulu mengajaknya merintis usaha sebagai reseller sprei sekaligus menyemangati Queena.


"Yaudah! Nanti Queena coba, ya, Mi!" Putus Queena akhirnya yang langsung membuat Friska tersenyum dan memeluk putri sambungnya tersebut.


"Mami ke Bunda dulu, ya! Mau ngomong banyak," pamit Friska selanjutnya dan Queena hanya mengangguk sembari menatap pada punggung Friska yang kemudian menghilang di balik pintu kamar.


****


"Aktif?" Tanya Bunda Laksmi seraya mengusap perut Friska.


Friska dan Bunda Laksmi kini duduk di kursi teras panti asuhan sembari melihat anak-anak yang sedang asyik bermain di halaman.


"Jadi tadi mau ngomong apa sama Bunda?" Tanya Bunda Laksmi selanjutnya.


"Pertama, Friska mau minta maaf, karena Friska sudah membuat Bunda bingung dan khawatir beberapa bulan kemarin."


Bunda Laksmi mengangguk.


"Bunda juga minta maaf, karena sudah sering ngomelin kamu. Tapi Bunda itu sayang sama kamu, Fris!" Kedua mata bunda Laksmi sudah berkaca-kaca.


"Friska tahu, kok, Bund!" Friska mendekat ke arah Bunda Laksmi dan memeluk mertuanya tersebut.


"Terima kasih karena sudah menyayangi Friska selama ini. Membimbing Friska, mengajari Friska banyak hal dan yang paling penting, karena Bunda sudah menggantikan peran mendiang mama untuk Friska," tutur Friska yang sudah ikut berlinang airmata.


"Kamu kan putrinya Bunda!" Ujar Bunda Laksmi seraya mengusap airmata di kedua pipi Friska.


"Jadi jangan pergi-pergi lagi dari rumah, ya! Itu juga rumah kamu. Bunda ini Bunda kamu," nasehat Bunda Laksmi panjang lebar yang hanya membuat Friska mengangguk.


"Pokoknya kalau ada masalah atau uneg-uneg, kamu ngomong langsung aja ke Bunda dan jangan berprasangka seperti yang sudah-sudah."


"Iya,Bunda!"


"Friska sudah mengambil banyak pelajaran kemarin dan Friska tak akan mengulanginya lagi."


"Friska sayang Bunda!" Tutur Friska yang kembali memeluk Bunda Laksmi. Hingga terdengar deheman dari Gabriel.


"Mau pelukan sampai kapan ini jadinya? Udah siang dan Queena udah merengek ngajak ke pantai itu." Gabiel mengendikkan dagunya ke arah Queena yang baru keluar seraya menjinjing tas Friska.

__ADS_1


"Mana ada! Queena nggak merengek, kok!" Kilah Queena bersungut pada sang papi.


"Sudah siap semua?" Ayah Yuda ikut keluar ke teras membawakan jaket Bunda Laksmi.


"Ayo pamit dan pulang. Orderan kue masih banyak!" Ajak Ayah Yuda yang langsung membuat semuanya tertawa.


"Ke pantai dulu, Opa!" Queena mengingatkan seraya menggamit lengan sang opa.


"Iya, iya!" Ayah Yuda mengacak rambut Queena dan keluarga itupun segera berpamitan pada Mbak Ririn serta anak-anak panti.


Setelah memastikan semua sudah naik dan tak ada yang ketinggalan, Gabriel segera masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin mobil. Baru saja mobil putih itu hendak melaju pergi, suara klakson dari arah belakang membuat semuanya menjadi kaget.


"Queen!" Panggil seorang pemuda dari dalam mobil pick up yang tadi membunyikan klakson.


"Bagus?" Gumam Friska seraya menahan tawa dan menyuruh Gabriel berhenti sejenak.


Bagus turun dari mobil pick up-nya dan segera menghampiri Queen yang sudah membuka jendela samping.


"Ada apa?" Tanya Queena tersipu malu.


"Minta nomor ponsel!" Jawab Bagus to the point.


"Izin dulu!" Queena mengendikkan dagunya ke arah Gabriel yang sedang menatap horor ke arah Bagus.


"Eh, iya!" Bagus garuk-garuk kepala dan segera mencium punggung tangan Gabriel dengan takzim, lalu lanjut punggung tangan Ayah Yuda, Bunda Laksmi dan terakhir punggung tangan Friska yang hanya terkikik.


"Om Briel, Bagus boleh minta nomornya Queena tidak? Cuma biar bisa bertukar kabar," Izin Bagus pada Gabriel.


"Queena itu masih SMP, Bagus!" Gabriel mengingatkan pemuda di depannya tersebut.


"Bagus juga masih dua puluh tahun, Om! Selisih delapan tahun doang! Bagus sabar nungguin, kok!" Tutur Bagus bersungguh-sungguh.


"Ck! Dasar keras kepala!" Decak Gabriel sedikit bersungut.


"Sebelas dua belas denganmu. Cocok itu jadi menantumu," bisik Ayah Yuda pada Gabriel.


"Yaudah! Boleh!" Putus Gabriel akhirnya yang langsung membuat Bagus bersorak senang.


"Tapi awas kamu nanti kalau mengirimi pesan aneh-aneh ke Queena! Om sunat anumu!" Ancam Gabriel yang langsung membuat Bagus begidik ngeri.


"Bagus sudah sunat, Om! Jangan disunat ulang! Nanti habis!" Jawab Bagus yang sontak membuat semuanya jadi tertawa.


"Udah, Mas Bagus!" Ujar Queena seraya mengembalikan ponsel Bagus setelah gadis itu selesai mengetikkan nomornya.


"Terima kasih, Queen! Hati-hati di jalan, ya!"


"Bye!" Bagus melambaikan tangan pada Queena dan seluruh keluarga Ferdinand. Mobil putih itupun melaju meninggalkan panti asuhan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2