
Friska sudah selesai mengambil beberapa kue dan kudapan dari atas meja kue. Gadis itu hendak kembali menghampiri Gabriel, saat tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang sudah duduk di samping Gabriel.
Wanita itu terlihat cantik, modis, dan menawan. Benar-benar wanita dewasa idaman kaum adam. Tapi siapa wanita itu? Pacar Gabriel?
Friska masih terus memperhatikan saat wanita itu tiba-tiba sudah menggamit lengan Gabriel dan mereka berdiri bersama bak pasangan kekasih.
Bukankah istri Gabriel adalah Friska? Lalu kenapa Gabriel malah menggamit tangan wanita lain?
Friska menghentak-hentakkan kakinya kelantai dan meletakkan dengan kesal piring kuenya. Gadis itu hendak pergi kemana saja asal dia tak melihat Gabriel yang sedang bermesraan dengan wanita entah siapa.
"Aduh!" Friska mengaduh saat ia tak sengaja menabrak tuan rumah acara malam ini yang juga adalah rekan kerja Gabriel.
"Keponakannya Pak Gabriel, ya?" Tanya pria yang sepertinya seusia dengan Gabriel tersebut. Friska tak menjawab dan melanjutkan langkahnya menuju ke jalanan setapak yang terbuat dari paving blok yang entah menuju ke mana. Friska hanya mengikuti orang di depannya.
Jalan kecil tadi rupanya membawa Friska ke sebuah halaman dimana ada kolam renang di satu sisinya. Beberapa tamu tampak duduk-duduk di tepi kolam renang sambil bercengkerama dengan pasangan masing-masing. Hanya Friska yang kini sendiri.
Friska duduk diam dengan bibir merengut dan kedua tangan yang saling merem*s. Friska tidak tahu kenapa ia bisa semarah ini hanya karena melihat Gabriel dekat dengan seorang wanita.
Tapi Gabriel adalah suami Friska!
Jadi tak seharusnya Gabriel akrab begitu dengan wanita lain!
Kemarin saja, saat Friska dekat-dekat dengan Abang Jimmy, Gabriel terlihat kesal wajahnya. Lalu kenapa sekarang Gabriel malah dekat dengan wanita lain? Apa suami Friska itu sedang balas dendam.
"Dor!" Tepukan Gabriel mengagetkan Friska dan membuyarkan semua lamunan gadis delapan belas tahun tersebut.
"Ngapain disini? Lihat orang pacaran?" Tanya Gabriel seraya duduk di samping Friska. Namun Friska segera menggeser bokongnya dan menjaga jarak dari Gabriel.
"Kenapa, sih?" Gabriel ikut menggeser bokongnya dan memangkas jarak antara dirinya dan Friska.
Friska tak menjawab dan kembali menggeser bokongnya.
"Fris, kamu kenapa, sih?" Tanya Gabriel yang kembali mendekat ke arah Friska.
__ADS_1
Namun Friska tak menjawab sepatah katapun dan bibir gadis itu masih cemberut.
"Friska!" Rayu Gabriel yang tangannya sudah merangkul Friska. Namun dengan cepat disentak oleh istri Gabriel tersebut.
"Friska-"
"Sudah punya pacar, kan? Kenapa masih dekat-dekat ke Friska? Sama pacar Om saja sana!" Cerocos Friska seraya mendorong Gabriel agar menjauh. Gadis itu sepertinya sedang marah karena memergoki Gabriel bersama Kate tadi.
"Fris, aku dan Kate tadi tidak ada hubungan apa-apa!"
"Kate adalah atasanku di tempat kerja-" Gabriel tak melanjutkan penjelasannya karena pria itu mendadak gemas pada Friska yang kini mencibir-cibir dan menirukan Gabriel yang sedang berbicara.
"Lucu banget, sih! Kalau ngambek begini!" Gabriel mentowel bibir Friska karena gemas.
"Apa, sih!" Sentak Friska galak.
"Aku minta maaf, ya!" Ucap Gabriel seraya menangkapkan kedua tangannya di depan dada.
"Aku beneran nggak ada perasaan apapun sama Kate, Friska!" Gabriel mendekatkan bibirnya ke telinga Friska.
"Kenapa pipinya? Digigit nyamuk?"goda Gabriel yang sudah ikut mengusap-usap pipi Friska.
"Apa, sih, Om!" Friska menyentak tangan Gabriel dan kembali merengut.
"Beli cake, yuk!" Rayu Gabriel tak kehabisan ide.
"Nggak! Friska udah kenyang!" Friska bersedekap dan masih merengut.
"Beli martabak manis?" Rayu Gabriel lagi dan Friska tetap menggeleng.
"Makan permen coklat panjang yang nggak habis-habis?" Gabriel mulai usil dan Friska langsung mengernyit bingung.
"Permen apa yang dimakan nggak habis-habis, Om?" Tanya Friska penasaran.
__ADS_1
"Ada deh! Nanti aku tunjukin. Jangan ngambek lagi, ya!" Bujuk Gabriel kembali meminta maaf pada Friska.
"Permennya mana?" Friska menengadahkan telapak tangannya.
"Nanti di rumah."
"Sekarang!" Friska memaksa dan Gabriel segera mengul*m senyum.
"Yakin mau tahu sekarang?"
"Iya, mana?" Jawab Friska penuh keyakinan.
"Ini!" Gabriel dengan cepat meletakkan tangan Friska ke atas miliknya yang masih terbalut celana. Friska langsung menjerit.
"Hah?"
"Sssttt!" Gabriel buru-buru membekap mulut Friska sebelum menarik perhatian tamu lain.
"Ayo pulang!" Ajak Gabriel selanjutnya seraya mendekap Friska dengan mesra.
"Friska masih marah, Om!" Ujar Friska mengingatkan.
"Iya! Nanti aku kasih permen biar nggak marah," gurau Gabriel yang langsung membuat Friska merengut.
"Friska nggak mau kalau permen coklat itu!"
"Yakin?" Gabriel masih terus menggoda Friska hingga pasangan suami istri itu berpamitan pada sang tuan rumah dan beranjak pulang.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.