Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
EPI-LOE-GUE-END


__ADS_3

"Kok sakit, sih, Bund! Kan Baby Kean belum punya gigi," Friska meringis saat Bunda Laksmi membimbingnya untuk mulai menyusui Baby Kean terlebih dahulu. Baby Lean kebetulan masih tidur dan anteng.


"Iya, kalau pertama rasanya memang begitu, Fris! Ditahan dulu, nanti kalau udah terbiasa nggak sakit lagi, kok!" Nasehat Bunda Laksmi sesabar mungkin.


"Udah bisa?" Tanya Gabriel ikut-ikutan mendekat ke arah Friska dan Baby Kean.


"Sakit, Mas!" Keluh Friska yang kembali meringis.


"Lebih sakit pas aku hisap apa dihisap Baby Kean?"


"Briel!" Tegur Bunda Laksmi mendelik ke arah Gabriel yang tak tahu tempat saat menggoda Friska.


Friska tertawa kecil melihat Gabriel diomeli Bunda Laksmi. Mau tertawa keras takut jahitan di perut jebol.


"Selamat siang!" Sapa sebuah suara dari pintu kamar perawatan.


"Sashi!" Panggil Friska pelan yang sudah sangat hafal dengan suara sahabatnya tersebut.


"Masuk, Shi!" Gabriel langsung mempersilahkan Sashi yang datang bersama Jimmy untuk masuk ke dalam.


"Ututututu!" Sashi langsung memasang wajah gemas saat melihat baby Lean yang masih terlelap di dalam box bayi.


"Gantengnya keponakan Onty! Namanya siapa?" Cecar Sashi yang masih memasang wajah gemas. Tapi sepertinya sahabat Friska itu masih belum berani menggendong. Sashi hanya mengusap-usap pipi baby Lean.


"Yang ini namanya baby Lean, Onty!"


"Yang dipangku mami namanya Baby Kean." Terang Gabriel yang sudah ganti menunjuk pada Baby Kean yang tak terlihat karena tertutup nursing cape yang dipakai oleh Friska


"Ganteng-ganteng semua berarti, ya, Om? Nggak ada yang cantik kayak Sashi gitu?" Tanya Sashi yang langsung berhadiah toyoran dari Abang Jimmy.


"Apa, sih, Bang? Kan tanya doang!"


"Kali aja di USG kembar dua tapi kemarin pas perutnya Friska dibelek jadi kembar tiga," Sashi sedikit berkelakar dan Friska hanya bisa menahan tawa.


"Mana bisa kayak gitu?" Geram Abang Jimmy pada sang adik.


"Itu yang cantik udah bobok disana," jawab Friska seraya mengendikkan dagunya ke arah Queena yang masih tidur di sofa. Queena memang tak mau pulang dan mau terus menjaga Friska serta kedua adiknya di rumah sakit.


"Oh, iya! Bener-bener! Nanti kalau yang dua ini cantik juga, yang itu jadi punya saingan," gumam Sashi seraya tertawa sendiri.


"Bund, udah selesai!" Lapor Friska pada Bunda Laksmi karena sudah selesai menyusui Baby Kean. Bunda Laksmi langsung sigap mengambil Baby Kean dari pangkuan Friska dan meletakkannya dengan hati-hati di dalam box bayi bersebelahan dengan baby Lean yang masih terlelap.


"Ya ampun! Beneran ganteng dua-duanya," puji Sashi menatap kagum pada Baby Kean dan Baby Lean.


"Wajahnya perpaduan Friska dan Om Briel," timpal Jimmy ikut berpendapat.


"Iya kan anaknya Friska sama Om Briel, Bang! Nanti kalau mirip Sashi malah mencurigakan!" Sashi kembali berkelakar dan Friska benar-benar ingin menoyor kepala sahabatnya tersebut.

__ADS_1


"Shi! Udah jangan ngajakin bercanda melulu! Aku nggak bisa ketawa ini!" Friska akhirnya mengomel pada Sashi.


"Lah, ketawa tinggal ketawa apa susahnya?" Tanya Sashi heran. Gadis itu sudah mendekat ke arah bed perawatan Friska.


"Trus kalau jahitan aku jebol bagaimana?" Friska bersungut pada Sashi.


"Eh, iya! Masih sakit, ya?" Tanya Sashi yang kali ini hanya membuat Friska memutar bola matanya.


"Udah, nggak apa-apa! Nggak usah cengeng! Udah jadi miganak masa masih cengeng!" Sashi menepuk pundak Friska dengan lebay.


"Miganak apaan?" Tanya Friska mengernyit bingung.


"Mami tiga anak. Kan anak kamu udah tiga sekarang," jawab Sashi yang langsung membuat Friska berdecak.


"Jualan sprei masih lancar?" Tanya Friska pada Sashi mengalihkan bahan pembicaraan.


"Enggak! Orang aku malas promo belakangan ini sampai kena omel dari mama."


"Auto dibanding-bandingin sama kamu yang udah jadi stokist sekarang," cerita Sashi seraya terkikik.


"Emang sibuk ngapain kok nggak promo lagi. Pelanggan kamu kemarin kan udah lumayan juga." Tanya Friska kepo.


"Pelanggan aku udah aku alihkan ke toko kamu sekarang."


"Aku lagi sibuk bisnis lain!" Sashi berbisik pada Friska.


"Sibuk pacaran, Fris! Bukan sibuk bisnis!" Celetuk Abang Jimmy yang rupanya mendengar sekilas obrolan Sashi dan Friska.


"Pacaran sambil bisnis, Bang!" Kilah Sashi mencari pembenaran. Abang Jimmy hanya mencibir.


"Sekarang udah punya pacar? Kok nggak pernah cerita?" Cecar Friska pura-pura merengut.


"Takut kamu mintain pajak jadian. Baru dua bulanan sih jalan bareng," cerita Sashi sedikit tersipu.


"Siapa pacar kamu?" Tanya Friska semakin kepo.


"Namanya Mas Noval. Anak kuliahan. Calon dokter," cerita Sashi malu-malu.


"Ciyee! Calon bu dokter dapat calon pak dokter juga!" Ledek Friska pada Sashi yang malah mengaminkan ledekan Friska.


"Aamiin!"


"Semoga beneran bisa jadi dokter nanti," ucap Sashi penuh tekad. Friska langsung mengaminkan harapan Sashi tersebut.


"Oh, iya! Hasil ujian udah keluar, ya?" Friska mengalihkan topik pembicaraan lagi.


"Eh, lupa!" Sashi mengetuk keningnya sendiri.

__ADS_1


"Hasilnya udah keluar, dan aku bawa punya kamu," Sashi mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya.


"Udah kamu buka?" Tanya Friska seraya memeriksa segel amplop yang tadi diangsurkan Sashi.


"Belumlah! Punya kamu ya kamu buka sendiri!" Jawab Sashi sedikit nge-gas sebelum kemudian Bunda Laksmi menegur dan minta Sashi memelankan suaranya, karena ada dua bayi yang sedang tidur.


"Maaf, Bunda!" Ucap Sashi seraya meringis.


"Kok aku deg-degan mau buka, ya?" Friska sedikit lebay dan tak kunjung membuka amplopnya.


"Halah! Buka tinggal buka aja, kok!" Cibir Sashi.


"Amplop kelulusan?" Tanya Gabriel yang sudah ikut mendekat ke bed perawatan Friska.


"Iya, Mas!"


"Mas aja yang buka!" Friska mengulurkan amplop tadi pada Gabriel.


"Buka aja, ya! Nanti yang lihat isinya kamu," ujar Gabriel seraya membuka amplop putih di tangannya.


"Kalau nggak lulus gimana, Shi?" Friska terlihat harap-harap cemas.


"Ya tinggal ngulang setahun lagi! Nanti kamu sekolah sambil bawa Baby Kean dan Baby Lean," kikik Sashi berkelakar.


Gabriel mengintip sebentar tulisan di kertas yang baru ia keluarlan dari amplop tadi, sebelum memberikannya pada Friska.


"Deg-degan!" Gumam Friska seraya membuka pelan lipatan kertas di tangannya.


Satu kata yang terdiri dari lima huruf dan tercetak tebal di atas kertas langsung membuat Friska bersorak lebay. Meskipun selanjutnya Mami tiga anak itu harus kembali meringis karena jahitannya sedikit ngilu.


"Yeay! Lulus!" Friska bersorak lebay dan Gabriel langsung mendekap istri kecilnya tersebut.


"Selamat!" Ucap Gabriel seraya mencium kening Friska. Semua yang berada di dalam kamar perawatan turut tersenyum bahagia seolah bisa merasakan kebahagiaan Friska dan Gabriel.


*************TAMAT*************


Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua reader yang sudah membaca karya receh ini sampai tamat.


Terima kasih buat yang sudah memberikan like, komen, vote, hadiah, serta dukungan yang tak terhingga.


Mohon maaf sebesar-besarnya jika masih banyak typo maupun kata-kata yang kurang berkenan.


Cerita Gabriel dan Friska, othor akhiri sampai disini. Untuk cerita Queena dan Bagus sementara belum ada planning. Mau fokus ngerjain "Queen of Alexander's" dan "Aku Janda Kamu Duda" dulu.


Jangan lupa mampir juga, ya!


Terima kasih 💜💜

__ADS_1


__ADS_2