
Karena hari sudah gelap dan Gabriel juga terlalu lelah jika harus langsung mengemudi pulang, keluarga Ferdinand memutuskan untuk bermalam di panti asuhan saja dan berencana pulang besok.
Queena sudah langsung akrab dengan Isma dan beberapa anak panti lain yang sebaya dengannta. Sementara Bunda Laksmi dan Ayah Yuda berbaur dengan anak-anak yang lebih kecil sembari membacakan dongeng anak-anak. Semuanya terlihat antusias termasuk Friska yang ikut mendengarkan dongeng dan sesekali tertawa kecil.
"Hoooam!" Friska menguap untuk ketiga kalinya, saat Ayah Yuda selesai mendongeng tentang semut dan belalang.
"Fris! Tidur dan istirahat ke kamar sana!" Titah Bunda Laksmi pada menantunya tersebut.
"Iya, Bunda!" Friska hebdak bangkit berdiri dan Gabriel yang sejak tadi duduk di dekat Friska sigap membantu Friska yang sudah kesulitan berdiri.
"Kau punya kamar sendiri disini? Atau jadi satu dengan anak-anak?" Tanya Gabriel sedikit berbisik pada Friska.
"Memang kenapa?" Tanya Friska seraya menahan tawanya.
"Hanya tanya. Aku ingin menyapa mereka saja," jawab Gabriel seraya mengusap perut Friska yang tertutup daster longgar warna merah maroon.
Friska tersenyum sebelum kemudian berucap,
"Yaudah, ayo!"
Friska melangkah duluan dan masuk ke sebuah kamar yang terletak di bagian belakang panti bersebelahan dengan dapur. Dan Gabriel langsung mengekoro Friska masuk ke kamar yang tak terlalu luas tersebut. Hanya ada satu tempat tidur serta satu lemari plastik empat susun. Dan jangan lupakan sebuah kipas angin kecil di atas lemari susun tadi.
"Kamarmu?" Tanya Gabriel setelah selesai mengedarkan pandangannya ke kamar kecil tersebut.
"Ya!"
"Tadinya gudang. Tapi mbak Ririn khawatir kalau aku tidur sama anak-anak mereka akan nendangin perut aku. Jadi dibikinin kamar sendiri." Terang Friska bersamaan dengan Gabriel yang sudah menutup dan mengunci pintu kamar.
"Tapi kayaknya kasurnya nggak muat buat berdua, Mas," ucap Friska lagi bersamaan dengan Gabriel yang sudah melingkarkan lengannya di perut Friska.
"Masa? Muat itu," Gabriel mengerling nakal pada Friska. Wajah istri Gabriel itu sontak bersemu merah.
"Kangen, nggak?" Tanya Gabriel lagi yang sudah membuat gerakan memutar di perut bulat Friska. Sudah seperti semangka saja!
"Banget!" Jawab Friska lirih seraya memutar tubuhnya dan ganti menghadap Gabriel. Friska mendongakkan kepalanya dan tangannya sudah terangkat untuk mengusap wajah Gabriel yang amat sangat ia rindukan beberapa bulan belakangan. Friska seolah tak mau berhenti menatap dan mengusap wajah Gabriel.
"Sudah belum?" Tanya Gabriel dengan nada menggoda setelah hampir lima belas menit Friska hanya mengusap-usap wajahnya. Kenapa tidak mengusap yang lain, coba?
"Apanya?" Friska tertawa kecil dan wajah istri Gabriel itu sudah semerah tomat.
"Yang ngusap-usap wajah aku!"
__ADS_1
"Kalau udah selesai, ganti usapin yang lain!" Bisik Gabriel usil.
"Yang lain?" Friska pura-pura tak paham.
"Yang udah lama nganggur karena kamu nggak di rumah." Gabriel menggenggam tangan Friska, lalu membawanya ke atas miliknya yang masih terbalut celana.
"Apa masih bisa, Mas?" Tanya Friska ragu mengingat perut Friska yang sudah besar dan tak mungkin Gabriel akan menindihnya. Bisa terjepit nanti calon bayi kembar Friska.
"Masih bisa apa? Punya aku?" Tanya Gabriel bingung yang langsung membuat Friska mengetuk keningnya sendiri.
"Ini!" Friska menunjuk ke arah perutnya sendiri.
"Kan udah besar begini. Nanti gepeng kalau mas tindih," ujar Fris yang benar-benar ingin membuat Gabriel tertawa terbahak-bahak. Ternyata kepolosan Friska masih belum sepenuhnya hilang.
"Nggak bakalan aku tindih, Sayang!" Gabriel sudah menangkup gemas wajah Friska.
"Trus? Kita nggak itu berarti malam ini dan malam malam selanjutnya sampai Friska lahiran, kan?" Tanya Friska memastikan.
"Trus? Kamu nyuruh aku sama tante Lux samlai kamu lahiran, begitu?" Cecar Gabriel yang langsung membuat Friska tergelak.
"Tante Lux? Kenapa bukan tante Harmony saja? Yang aroma melon baunya harum, Mas!" Friska malah mengajak Gabriel berkelakar.
"Ck! Malah bergurau!" Decak Gabriel yang sudah membimbing Friska agar duduk di tepi tempat tidur. Friska hanya menurut dan Gabriel langsung bersimpuh di depan Friska. Suami Friska itu lanjut meletakkan kepalanya di pangkuan Friska dan telinganya sudah menempel ke perut semangka Friska.
"Belum USG lagi, Mas! Selama disini periksanya cuma ke bidan," jawab Friska yang tangannya sudah mengusap-usap kepala Gabriel.
"Nanti pulang langsung ke dokter, ya! Mereka aktif sekali di dalam," ujar Gabriel yang sepertinya sudah bisa merasakan tendangan dari kedua bayinya di dalam perut.
"Dengar suara papinya, jadi aktif," Friska berpendapat.
"Hmmmm. Jadi nggak sabar untuk segera menggendong mereka." Gumam Gabriel yang sudah ganti menciumi perut Friska.
"Masih dua sampai tiga bulan lagi kata bu bidan." Ujar Friska seraya mengulas senyum.
"Yaudah! Aku tengokin mereka bentar," Cetus Gabriel yang langsung membuat Friska membulatkan kedua matanya.
"Tengokin mereka? Maksudnya?" Tanya Friska bingung.
"Ya nengokin aja!" Gabriel sudah menanggalkan kausnya.
"Nengok lewat mana? Kok Mas Briel malah buka baju," Friska masih bingung.
__ADS_1
"Lewat jalannya!" Gabriel menahan tawa dan ganti menanggalkan celananya.
"Mas-" Friska menatap bingung ke arah suaminya yang kini hanya tinggal mengenakan underwear.
"Buka daster kamu, Sayang!" Rayu Gabriel seraya meraih ujung daster Friska, lalu mengangkatnya ke atas dan meloloskan benda itu melalui kepala.
Friska refleks menyilangkan kedua tangannya di depan dada karena merasa malu.
"Kenapa ditutup?" Gabriel menyingkirkan tangan Friska perlahan.
"Malu, Mas! Mendadak jadi besar dan bra-nya nggak muat," jawab Friska jujur.
"Coba lihat!" Gabriel menyingkirkan kedua lengan Friska dari dada istrinya tersebut dan memperhatikan bra Friska yang memang sudah kekecilan.
"Harus beliin bra baru besok kalau kayak gini," gumam Gabriel seraya menyibak bra istrinya tersebut.
"Mas!" Friska refleks berjenggit saat Gabriel menangkup gundukan kenyalnya yang kini terpampang nyata.
"Kenapa? Kan dulu sudah pernah?" Gabriel mengerling nakal ke arah Friska.
"Iya, tapi kan udah lama nggak itu, Friska jadi grogi," cicit Friska seraya menahan malu.
"Oh, jadi harus ngajarin dari awal lagi?" Gabriel sudah meraih dagu Friska dan menatap wajah istrinya yang bersemu merah tersebut
"Sudah lupa, ya, caranya?" Goda Gabriel lagi dan wajah Friska semakin memerah.
"Aku nggak keberatan, kok! Kita belajar dari awal lagi, ya!" Bisik Gabriel yang sudah mendekatkan wajahnya ke arah wajah Friska, lalu dalam hitungan detik, bibir keduanya sudah menyatu dan saling berpagutan.
.
.
.
Masih siang! Puasa!
Lanjut malam setelah buka.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1
Semoga hari ini tiga-tiganya bisa tiga bab biar utang lunas 🙈🙈