Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
ISTRINYA PAPI


__ADS_3

Bunda Laksmi baru bangun saat wanita paruh baya itu mendapati Friska yang sedang mencuci piring di dapur sendirian. Tanpa Gabriel yang biasanya suka mengekori istrinya itu saat sedang di dapur.


"Tumben cuci piring, Fris?" Tegur Bunda Laksmi yang langsung membuat Friska terlonjak kaget.


"Eh, Bunda! Udah bangun?" Friska berbasa-basi pada sang mertua.


"Habis kesambet apa kamu? Pagi-pagi sudah cuci piring sendiri?" Tanya Bunda Laksmi pedas.


"Nggak kesambet apa-apa, Bund! Mau bantuin Bunda aja biar nggak kecapekan dan nggak kambuh-lambuh lagj migrainnya," jawab Friska yang masih menyabuni piring-piring bekas makan malam.


"Iya asal kelakuan kamu nggak di luar batas kewajaran, migrain Bunda pasti juga nggak akan kambuh," ujar Bunda Laksmi sedikit menyindir.


"Friska kan nggak pernah bolos, Bund! Nggak pernah bikin masalah juga di sekolah yang sampai dipanggil guru BK itu. Nggak pernah aneh-aneh pokoknya," ujar Friska memuji dirinya sendiri.


"Iya, terserah! Jangan genit dan ganjen juga sama cowok-cowok di sekolah kamu! Ingat status!" Bunda Laksmi memperingatkan Friska.


"Iya, Friska selalu ingat dan nggak pernah tebar pesona, kok! Cowok-cowok aja yang kadang suka gangguin Friska," tukas Friska yang langsung membuat Bunda Laksmi mencibir.


"Sok kecantikan!" Cibir wanita paruh baya tersebut.


"Nanti habis cuci piring, kamu potong-potong bayam dan tempenya, ya!"


"Lalu bawang ini juga kamu kupas dan potong-potong untuk masak bening bayam!" Bunda Laksmi meletakkan bayam di atas meja dapur, disusul beberapa butir bawang dan sepapan tempe.


"Bunda mau kemana?" Tanya Friska penuh selidik.


"Mau jalan pagi dulu keliling kompleks bersama ayah! Paling lama setengah jam."


"Pokoknya kamu potong-potong semuanya dulu, biar nanti pas Bunda pulang tinggal masak saja," pesan Bunda Laksmi sekali lagi pada Friska.


"Siap, Bunda!" Jawab Friska seraya membilas cucian piringnya yang terakhir. Friska segera mencuci tangan dan lanjut meraih sayur yang tadi diletakkan bunda Laksmi.


Friska memotong-motong bayam, wortel dan jagung, lalu mengupas bawang. Beberapa kali Friska harus menyeka airmatanya saat mengupas bawang merah yang hanya tiga butir itu.


"Dor!"


Friska terlonjak kaget saat tiba-tiba Gabriel sudah berada di belakangnya dan melingkarkan kedua lengannya di pinggang Friska.


"Lagi apa? Kok tumben pagi-pagi udah bangun?" Tanya Gabriel yang kini ganti menyusupkan kepalanya di ceruk leher Friska.

__ADS_1


"Kupas bawang! Masa om nggak lihat?" Jawab Friska seraya mengusap air matanya.


"Loh loh loh! Kenapa malah nangis?" Tanya Gabriel heran.


"Pedes, Om!" Jawab Friska yang malah membuat Gabriel tergelak.


"Ya ampun! Pedes banget," keluh Friska sambil kembali menyeka airmatanya.


"Sini aku lapin!" Gabriel meraih tisu dan membantu Friska menyeka airmatanya. Di saat bersamaan, ternyata Queena juga sudah bangun dan memanggil-manggil sang Oma.


"Oma!"


"Oma jalan pagi, Queen!" Jawab Friska memberi tahu Queena.


"Oma kemana, Pi?" Seolah baru saja mengabaikan jawaban Friska, Queena malah melontarkan pertanyaan yang sama pada sang papi yang masih bergelayut di pinggang Friska.


"Jalan pagi! Kan mami Friska udah jawab tadi!" Jawab Gabriel sedikit heran pada sang putri yang masih saja ngambek ke Friska padahal sudah beberapa hari berlalu sejak pertengkaran Queena dan Friska waktu itu.


"Ini mau masak apa?" Tanya Gabriel pada Friska seraya menunjuk ke baskom berisi bayam yang tadi sudah selesai di potong-potong oleh Friska.


"Bening bayam kata Bunda. Tapi yang masak Bunda dan aku bagian potong-potong saja," jelas Friska menjawab pertanyaan Gabriel.


"Masa iya masak bening bayam, batang sama akarnya ikut dipotong juga," celetuk Queena setelah sekilas melihat akar bayam yang ikut masuk ke dalam baskom.


"Iya, salah!" Jawab Gabriel yang masih saja tergelak.


"Hah? Trus bagaimana?" Tanya Friska panik. Friska segera memilah batang yang besar serta akar yang ikut tercampur ke dalam baskom. Gabriel pun tak tinggal diam dan ikut membantu istrinya yang mulai kalang kabut tersebut. Sementara Queena hanya duduk di kursi seraya memperhatikan Friska dan Gabriel yang tumben kompak sekali.


"Fris! Sudah selesai motong-motong bayamnya?" Seru Bunda Laksmi yang baru pulang dari jalan pagi.


"Iya, Bunda! Sedikit lagi!" Jawab Friska seraya membalik-balik bayam di baskom dan memastikan tak ada akar yang tertinggal.


"Masih ada, nggak?" Tanya Friska memastikan


"Sudah bersih. Kamu cuci, buru!" Gabriel mengecup singkat pipi Friska dan segera ikut duduk di samping Queena. Membiarkan seolah Friska yang sudah melakukan semuanya sendiri.


"Sudah belum, Fris? Motong bayam aja kok lama sekali!" Celetuk Bunda Laksmi yang sudah menghampiri Friska yang masih sibuk mencuci bayam di bawah air mengalir..


"Udah. Tinggal dicuci aja, Bund! Udah selesai!" Jawab Friska seraya memamerkan bayam hasil potongannya pada Bunda Laksmi.

__ADS_1


"Ini tadi yang motong-motong kamu atau Gabriel?" Tanya Bunda Laksmi curiga.


"Friska, Bund! Suwer!" Friska mengangkat tangan kanannya dengan jari membentuk huruf V.


"Queen, ini tadi yang motong-motong sayurannya Friska atau papi kamu?" Bunda Laksmi gantian bertanya pada Queena yang sejak tadi duduk diam bersama Gabriel.


"Istrinya Papi, Oma!" Jawab Queena jujur masih tanpa memanggil mami ke Friska.


"Mami Friska!" Gabriel buru-buru mengoreksi panggilan Queena pada Friska.


"Istrinya Papi! Mami Queena udah meninggal enam tahun lalu," jawab Queena yang sudah bangkit berdiri dan berlalu keluar dari dapur.


"Queen!" Gabriel hendak mengejar Queena, namun Ayah Yuda mencegah dengan cepat.


"Biarkan, Briel! Jangan memaksa Queena untuk cepat-cepat menerima Friska sebagai mami sambungnya. Semua butuh waktu dan adaptasi," tegas Ayah Yuda.


"Kau juga, Friska! Berusahalah untuk mengambil hati Queena dan jangan tahunya hanya manja-manjaan terus sama Briel!"


"Mau sama Papinya, juga harus mau sama putrinya," timpal Bunda Laksmi entah sedang menasehati atau sedang menyindir Friska. Mertua Friska itu sudah mulai menyalakan kompor untui memasak sayur bayam.


"Iya, Bund! Nanti Friska akan berusaha," jawab Friska seraya menundukkan wajahnya dan sedikit menggerutu dalam hati.


Friska sebenarnya juga ingin gencatan senjata dan pedekate dengan Queena. Tapi apalah daya, cucu tunggal Bunda Laksmi itu sepertinya masih jual mahal dan sok enggan


"Nanti Gabriel akan membimbing Friska pelan-pelan, Bund!" Timpal Gabriel seolah sedang berjanji pada Bunda.


"Iya! Bunda akan lihat dan tunggu!" Pungkas Bunda Laksmi sebelum mertua Friska itu fokus ke masakannya.


"Duduk sini, Fris!" Titah Gabriel selanjutnya seraya menepuj kursi kosong di sebelahnya. Friska mengangguk dan segera duduk bersama Gabriel.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


Maaf lambat up.


Baru pulang dari klinik buat cek malaria. Ternyata kena malaria tropica 🤢🤢


__ADS_2