
"Kamu tulis alamatnya yang benar dan jangan ada yang kelewat, Queena!" Perintah Bunda Laksmi pada Queena yang masih sibuk mengemas kue sebelum mulai pengantaran.
"Semuanya pelanggan baru, ya, Oma?" Tanya Queena yang jarinya terus menulis dan memeriksa dengan teliti pesanan demi pesanan yang sudah siap.
"Iya, Oma juga tidak tahu mereka tahu usaha kue ini darimana. Katanya lihat ada yang posting di media sosial," cerita Bunda Laksmi yang tangannya masih cekatan mencetak kue kering ke atas loyang.
"Bund, alarm bunyi, trus gasnya habis," lapor Friska yang sejak tadi mondar-mandir membawa kue yang sudah selesai dicetak ke depan oven.
"Kamu angkat dulu kuenya, Fris! Jangan gosong! Trus Gabriel kemana tadi?"
"Papi!"
"Mas!" Panggil Friska dan Queena berbarengan dengan panggilan berbeda pada Gabriel yang sedang meluruskan punggungnya.
Gabriel baru pulang dari pengantaran kloter pertama tadi dan sekarang sudah dipanggil-panggil oleh anak dan istrinya.
"Ada apa? Sudah pengantaran lagi?" Tanya Gabriel yang tergopoh-gopoh datang ke dapur.
"Gas oven habis! Kamu ganti dulu, Briel! Sekalian tabung yang kosong kamu tukarkan ke toko sana! Nanti malam Bunda masih harus lembur," titah Bunda Laksmi pada Gabriel.
"Siap, Bunda!" Gabriel bergegas mengganti gas yang habis dan pria itu sedikit mengajak Friska bercanda.
Wajah Friska masih sedikit murung perihal pemecatan Gabriel kemarin.
Padahal ini sudah sepekan berlalu, dan Gabriel memang belum dapat pekerjaan baru. Gabriel memang Belum memasukkan lamaran kemanapun karena pesanan kue Bunda Laksmi yang mendadak membludak dan Gabriel terpaksa menjadi kurir dadakan sejak kemarin.
Gabriel sementara masih berdiskusi dengan Bunda Laksmi untuk membantu Bunda Laksmi saja di usaha kuenya atau kembali bekerja kantoran seperti sebelumnya. Sejauh ini masih belum menemukan titik temu karena Bunda Laksmi juga terlihat mulai keteteran meskipun sudah dibantu Friska dan Queena.
Sepertinya Gabriel benar-benar harus turun tangan dan ikut membantu ke dapur!
"Ponsel kamu dari tadi getar-getar terus," ujar Gabriel pada Friska setelah pria itu selesau mengganti tabung gas.
"Masa? Sashi chat?" Tanya Friska memastikan.
"Aku nggak tahu! Nggak aku buka," jawab Gabriel mengendikkan kedua bahunya.
"Mungkin orang pesan sprei. Eh!" Friska menutup mulutnya sendiri karena keceplosan.
"Pesan sprei? Kamu jualan sprei, Fris?" Tanya Bunda Laksmi penuh selidik.
"Iseng, Bund! Buat ngisi-ngisi waktu senggang saja. Kebetulan ditawari mamanya Sashi," jawab Friska akhirnya berkata jujur.
"Banyak yang pesan?" Tanya Gabriel kepo.
"Kadang ada kadang enggak, Mas! Kan bukan kebutuhan pokok juga. Nggak setiap hari orang butuh sprei," jawab Friska seraya terkekeh.
"Kalau itu setiap hari kan harus ganti setiap hari sprei-nya, Fris!" Canda Gabriel yang langsung berhadiah pukulan dari Friska.
"Pikiranmu itu, Briel! Isinya ke kasur terus!" Komentar Bunda Laksmi yang ikut mendengar candaan Gabriel tadi.
"Fris! Pokoknya, kamu minum pil KB-nya yang rutin!" Pesan Bunda Laksmi lagi pada Friska yang sampai detik ini memang belum mengabarkan perihal kehamilannya pada Gabriel maupun anggota keluarga Ferdinand lainnya.
__ADS_1
"Gabriel sudah nganggur begitu! Kalau kamu hamil sekarang, repot!"
"Nanti sibuk mual muntah dan nggak bisa membantu Bunda menghandel pesanan," Cecar Bunda Laksmi panjang lebar yang hanya dijawab Friska dengan lirih.
"Iya, Bunda!"
"Kenapa murung?" Tanya Gabriel yang kini sudah merangkul Friska yang masih sibuk memberikan topping pada kue yang sudah selesai di cetak.
"Siapa yang murung? Orang udah dari sononya ekspresi wajah Friska begini!" Kilah Friska mencari alasan.
"Nanti mau ikut ngurir? Ngantar kue, sekalian jalan-jalan?" Tawar Gabriel lagi ke Friska yang langsung membuat wajah Friska sedikit berbinar. Namun sesaat kemudian gadis itu tak jadi berbinar karena ingat pada Bunda Laksmi yang pasti akan mengomel kalau Friska jalan-jalan.
"Nggak usah lihatin Bunda begitu, Fris! Kalau memang mau ikut Briel, ya minta izin baik-baik. Bukan berpikiran buruk tentang Bunda begitu!" Sindir Bunda Laksmi yang malah membuat Gabriel terkekeh.
Dasar aneh!
"Friska boleh keluar sebentar menemani Mas Briel mengantar kue, Bund?" Izin Friska akhirnya sesuai petunjuk dari Bunda Laksmi tadi.
"Boleh!" Jawab Bunda Laksmi yang langsung membuat Friska menyunggingkan senyum.
"Mandi dulu sana! Biar nggak bau kue!" Titah Bunda Laksmi selanjutnya yang langsung membuat Friska mengangguk patuh.
"Baik, Bunda!"
"Aku mandiin!" Goda Gabriel seraya mentowel bokong Friska.
"Apa, sih!" Sungut Friska yang langsung berlalu menuju ke kamar.
"Iya, Bunda! Iya!" Jawab Briel sedikit menggerutu yang langsung membuat Queena dan Bunda Laksmi terkekeh.
****
"Kurang berapa lagi?" Tanya Gabriel setelah Friska keluar dari pagar rumah seorang pelanggan.
"Satu alamat lagi-" Friska memejamkan mata saat mencium aroma harum sate dari warung sate yang tak jauh dari rumah pelanggan.
"Kenapa, Fris? Kok merem-merem begitu?" Tanya Gabriel heran.
"Aromanya wangi, Mas! Friska jadi lapar." Friska mengusap perutnya yang mendadak keroncongan.
"Mau? Mampir bentar, yuk!" Ajak Gabriel yang langsung membuat Friska berbinar.
"Benar?"
"Iya!"
"Eh, tapi nanti Bunda marah kalau Friska jajan di luar." Friska tak jadi mengiyakan ajakan Gabriel dan akan menahan keinginannya saja.
"Bunda tidak akan tahu. Kita makan di tempat," bisik Gabriel memberikan sebuah ide.
"Mas nggak akan ember tapi!" Friska menuding pada Gabriel yang kerap keceplosan.
__ADS_1
"Enggak!" Gabriel mencium singkat pipi Friska.
"Mas!"
"Apa? Kamu terlihat lebih cantik belakangan ini. Perawatan apa?" Tanya Gabriel sedikit merayu Friska.
Palingan juga karena ada maunya!
"Perawatan pake butter sama margarin ditambah sauna dari ovennya bunda," jawab Friska yang langsung membuat Gabriel tergelak.
"Yaudah, ayo makan sate! Aku mendadak juga jadi ngiler." Ajak Gabriel seraya menyalakan mesin motornya. Friska tak protes lagi dan segera naik ke atas motor Gabriel.
"Kuenya masih kurang satu alamat, Mas!" Friska baru ingat pada bungkusan kue di motor saat ia dan Gabriel sampai di tenda penjual sate.
"Nanti saja! Penting makan sate dulu!" Jawab Gabriel santai.
"Punya Friska dibakar sampai matang, ya!" Pesan Friska saat Gabriel sedang memesan sate.
Friska ingat betul pesan bidan saat ia periksa kandungan tempo hari. Tidak boleh makan makanan setengah matang!
"Enak yang setengah matang, Fris!" Gabriel menaik tirinkan alisnya. Friska langsung geleng-geleng kepala.
"Yang matang, Pak! Benar-benar matang, ya!" Friska akhirnya memesan sendiri pada bapak penjual satenya.
"Siap, Non!"
"Punya saya setengah mateng saja, Pak! Bawangnya yang banya!" Gabriel gabti memesan.
"Hii! Nanti malam Friska nggak mau dicium Mas Briel! Bau bawang!" Bisik Friska sebelum istri Briel itu berlalu dan duduk di bangku panjang di dalam tenda.
"Kan bisa gosok gigi, Fris! Nanti aku pakai mouthwash juga banyak-banyak," janji Gabriel yang malah membuat Friska terkikik.
"Kalau masih bau?"
"Nggaklah!" Jawab Gabriel yakin
"Mau minum apa?" Tanya Gabriel selanjutnya.
"Es jeruk!"
"Oke!"
"Pak! Es jeruknya dua!"pesan Gabriel pada penjual sate sebelum pria itu ikut duduk bersama Friska dan menunggu pesanan sate mereka berdua siap.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.