
Gabriel pulang ke rumah dengan sejuta rasa galau yang menggelayuti hatinya. Seharian pria itu tidak fokus bekerja dan pikirannya terus saja memikirkan Friska, si gadis sebatang kara.
"Om punya pekerjaan untuk Friska, tidak? Yang kerjanya enak tapi gajinya gede."
Pertanyaan dari Sashi kembali berkelebat di benak Gabriel. Pekerjaan enak gaji besar, pekerjaan apa kira-kira?
Tidak mungkin meminta Friska menjadi pengasuh Queena. Secara Queena sudah SMP dan tak butuh pengasuh lagi. Lagi pula, yang terus diminta Queena itu bukan pengasuh melainkan seorang Mami.
Seorang Mami?
"Om butuh sugar baby?"
Pertanyaan serta ekspresi wajah lucu Friska saat menawarkan diri pada Gabriel kembali berkelebat di benak Gabriel dan membuat pria itu tersenyum sendiri.
"Pi!" Tegur Queena yang baru keluar dari rumah dan menghampiri Gabriel yang masih duduk di teras rumah.
"Eh, Queena!"
"Papi ngapain senyum-senyum sendiri?" Tanya Queena menatap heran pada sang Papi.
"Tidak apa-apa," Gabriel menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hanya sedang memikirkan seseorang," lanjut Gabriel lagi.
"Pacar Papi?" Tanya Queena antusias. Gabriel sontak menatap aneh pada sang putri.
"Maaf!" Ucap Queena seraya menundukkan wajah dan terlihat kecewa. Mungkin kecewa karena tahu papinya tak jadi punya pacar.
"Queena, papi boleh tanya satu hal?" Tanya Gabriel yang langsung membuat Queena kembali mengangkat wajahnya.
"Tanya apa?"
"Kalau papi menikah lagi, apa Queena merasa keberatan?" Tanya Gabriel sedikit ragu. Tapi Gabriel ingin menyelamatkan Friska juga. Jadi sepertinya ini jalan satu-satunya.
Gabriel tidak rela jika Friska nantinya salah arah dan melakoni pekerjaan yang salah demi mendapatkan uang untuk bertahan hidup.
"Papi mau menikah lagi? Apa itu artinya Queena akan punya Mami baru?" Raut wajah Queena sudah antusias sekali.
"Iya, seperti itu." Gabriel kembali garuk-garuk kepala membayangkan Friska yang baru kelas dua belas harus menjadi Mami sambung untuk Queena yang kini kelas tujuh. Selisih umur mereka bahkan hanya enam tahun.
"Queena setuju, Pi!" Jawab Queena yang langsung berpindah tempat duduk dan ganti duduk di sebelah Gabriel lalu menggamit lengan papinya tersebut.
"Papi sudah punya calon? Queena boleh ketemu sama calon Mami Queena, kan? Kapan kita ketemuan, Pi!" Cecar Queena yang sepertinya tak sabar sekali.
Mati kau, Gabriel!
Kau bahkan belum bicara dengan Friska tapi malah sidah memberitahu putrimu.
Bagaimana kalau ternyata Friska menolak?
Ah, tapi Friska tak mungkin menolak! Gabriel akan mengiming-imingi gadis itu dengan biaya sekolah lalu biaya kuliah.
Ya, Friska pasti tak akan menolak!
Toh meskipun sudah kepala tiga, Gabriel masih tampan dan gagah. Dan masih pantas bersanding dengan Friska tentu saja.
Ya ampun!
Gabriel akan menikahi gadis kelas dua belas SMA!
Apa ini masuk kategori pedofil?
"Papi belum melamarnya, Sayang. Makanya Papi minta izin kamu dulu sebelum melamarnya," jelas Gabriel akhirnya memberikan pengertian pada Queena.
__ADS_1
"Mau melamar siapa, Briel?" Tanya Bu Laksmi yang sudah ikut bergabung bersama Gabriel dan Queena di teras depan.
"Queena mau punya mami baru, Oma!" Lapor Queena pamer pada Bu Laksmi.
"Benarkah?" Bu Laksmi menatap penuh selidik pada Gabriel yang kembali salah tingkah.
"Briel akan bicara dulu dengannya, Bund! Nanti kalau anaknya sudah pasti mau, Briel bawa ke rumah bertenu Ayah, Bunda, dan Queena," ujar Gabriel menjelaskan pada Bu Laksmi.
"Anaknya?" Bu Laksmi mengernyit penuh tanya.
"Dia seorang janda beranak?" Tanya Bu Laksmi memastikan.
"Bukan, Bund! Dia lajang!" Jawab Gabriel cepat.
"Hanya saja, dia masih muda."
"Iya, masih muda," jelas Gabriel yang sedikit salah tingkah.
Muda dan polos lebih tepatnya!
"Mau muda atau tua, yang penting dia sayang pada kamu dan Queena," pungkas Bu Laksmi seraya bangkit dari duduknya dan masuk kembali ke dalam rumah meninggalkan putra serta cucunya.
"Siapa nama calon mami Queena, Pi?" Tanya Queena lagi pada Gabriel.
"Friska," jawab Gabriel cepat.
"Mami Fris," gumam Queena yang matanya terlihat berbinar senang.
Semoga keputusan Gabriel ini benar!
****
Gabriel melihat sekali lagi alamat yang diberikan oleh Sashi dan mencocokkannya dengan bangunan kost di hadapannya. Itu bukan kost putri dan sepertinya penghuninya campur aduk antara perempuan dan laki-laki.
Ya ampun!
Gabriel segera menuju ke pintu kamar nomor tiga, sesuai yang tertulis di alamat yang diberikan oleh Sashi.
Tok tok tok!
"Friska!" Panggil Gabriel seraya mengetuk pintu kost-an Friska.
"Friska!" Panggil Gabriel lagi mengetuk lebih keras saat tiba-tiba sebuah teguran membuat Gabriel terlonjak kaget.
"Om Briel!"
Gabriel menoleh dan melihat Friska yang sepertinya baru selesai mandi. Rambut gadis delapan belas tahun itu terlihat basah dan ada handuk yang menutupi pundaknya. Lalu jangan lupakan ember kecil berisi peralatan mandi di tangan Friska.
Astaga!
Kamar mandi kost-kostan ini juga umum dan tidak sendiri-sendiri?
Bagaimana kalau saat Friska mandi ada yang mengintip?
"Om Briel sedang apa disini?" Tanya Friska menyentak lamunan Gabriel.
"Eh, aku membawakan makanan untukmu. Kata Sashi kamu sakit," jawab Gabriel tergagap.
"Friska sudah sembuh, Om!"
"Apa Sashi juga yang ngasih tahu alamat Friska ke Om?" Tanya Friska lagi seraya mempersilahkan Gabriel untuk masuk ke dalam kamar kostnya yang hanya berukuran tiga kali tiga meter. Hanya ada sebuah kasur busa tipis, lalu sebuah lemari plastik tiga susun dan sebuah meja kecil untuk menaruh buku-buku serta tas sekolah Friska. Kamar ini juga sedikit pengap karena tak ada pendingin udara dan hanya ada satu kipas kecil karakter hello kitty.
"Sudah makan?" Tanya Gabriel seraya menyodorkan nasi kotak yang memang ia beli tadi sepulang kerja untuk Friska. Aroma nasi padang dari dalam kotak menusuk-nusuk hidung Friska dan langsung membuat perut gadis itu keroncongan. Wajar saja, Friska baru makan satu bungkus mie instan hari ini.
__ADS_1
"Sudah tadi pagi," jawab Friska seraya menundukkan wajahnya.
"Makan dulu kalau begitu, agar tidak sakit lagi!" Gabriel cepat-cepat membukakan kotak nasi yang ia bawa tadi dan mendekatkannya pada Friska.
"Om nggak makan?" Tanya Friska saat gadis itu hendak menyuapkan nasi padang ke mulutnya.
"Sudah tadi di warungnya langsung," jawab Gabriel berdusta. Gabriel sengaja tak ikut makan karena saat pulang nanti Gabriel harus makan masakan Bunda Laksmi agar bunda kandungnya itu tak marah dan mengomel. Kalau sekarang Gabriel makan dan nanti makan lagi, bisa meledak perut Gabriel.
"Friska makan, ya, Om!" Izin Friska dan Gabriel hanya mengangguk. Friska segera melahap nasi padang yang dibawa oleh Gabriel dengan lahap karena gadis itu memang sangat kelaparan.
"Jadi, kamu langsung pindah kesini setelah acara pemakaman itu?" Tanya Gabriel membuka obrolan.
"Enggak langsung, sih! Friska tinggal sehari di rumah Sashi lalu baru pindah kesini." Jelas Friska.
"Kenapa nggak cari kost-an khusus putri? Ini udah campuran, kamar mandinya umum-"
"Bayarnya lebih murah disini, Om!" Sela Friska memotong kalimat protes Gabriel.
"Friska juga belum dapat pekerjaan dan hanya mengandalkan uang duka Mama dan Papa kemarin," cerita Friska dengan raut sendu.
"Tinggal bersama Om, mau?" Tanya Gabriel to the point yang langsung membuat Friska tersedak nasi padang.
"Uhuuk! Uhuuk!" Friska batuk-batuk tak karuan saking kagetnya dengan tawaran Gabriel. Buru-buru Gabriel menyodorkan sebotol air mineral pada gadis itu.
"Maaf, jika pertanyaanku membuatmu kaget," ucap Gabriel merasa bersalah.
Friska masih batuk-batuk dan mengangguk atas permintaan maaf Gabriel.
"Maaf, jika maksud Om minta Friska jadi sugar baby untuk Om, Friska nggak bisa," jawab Friska di sela-sela batuknya.
"Friska nggak mau nambahin beban Mama dan Papa di sana. Friska mau cari kerjaan yang baik dan benar saja, Om!" Sambung Friska lagi yang sudah reda batuk-batuknya.
"Sugar baby? Maksud kamu wanita simpanan?" Gabriel bertanya pada Friska yang langsung mengernyit bingung.
"Lah tadi Om nyuruh Friska tinggal bareng Om! Berarti Om mau jadiin Friska simpanannya Om, kan?"
"Kenapa harus jadi simpanan kalau bisa jadi istri sah?" Ujar Gabriel yang langsung membuat Friska menganga.
"Hah? Maksudnya jadi istri kedua, begitu? Istri simpanan?"
"Bukan istri simpanan! Istri sah, Friska!"
"Om belum punya istri?" Tanya Friska merasa ragu.
"Sudah, tapi istriku meninggal enam tahun lalu dan saat ini statusku adalah duda."
"Aku mau kamu tinggal di rumahku mulai sekarang, lalu aku akan membiayai sekolahmu. Tapi jika aku tak menikahimu, hal ini akan menjadi gunjingan." Terang Gabriel panjang lebar.
"Jadi, maukah kau menikah denganku, Friska Agustina?" Tanya Gabriel akhirnya yang langsung membuat Friska shock bukan kepalang.
Apa ini mimpi?
Kenapa mendadak Friska dilamar oleh seorang duda?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1